Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sebuah pertanyaan gila


__ADS_3

"Maaf menyela, hanya saja Rea kamu harus ikut dengan ku sekarang!" ucap sebuah suara yang lantas langsung membuat Edrea dan juga Kiera menoleh ke arah sumber suara.


Barra melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea dan juga Kiera berada, yang lantas membuat Kiera terdiam seribu bahasa sambil memutar ingatannya tentang sosok laki laki yang kini tengah menghampiri keduanya. Kiera yang melihat Barra mendekat seperti tidak asing dengan wajah Barra seakan pernah bertemu di suatu tempat.


"Bukankah kau yang di kedai waktu itu?" ucap Kiera kemudian setelah ia berhasil mengingat siapa sosok pria yang saat ini berhenti tepat di hadapannya dan juga Edrea.


Barra yang mendengar ucapan Kiera barusan hanya menoleh sebentar ke arah Kiera tanpa menyanggah ataupun mengiyakan ucapan dari Kiera barusan, yang lantas membuat Kiera langsung berdecak dengan kesal akan sikap Barra yang terlihat dingin itu kepadanya.


"Ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu sekarang, ikutlah dengan ku." ucap Barra sambil menarik tangan Edrea agar bangkit berdiri dan mengikuti langkah kakinya.


Edrea yang di tarik oleh Barra sama sekali tidak melawan dan membiarkan Barra membawanya pergi, hanya saja Kiera yang melihat sikap Barra seperti itu pada Edrea tentu saja tidak terima dan langsung mencegah keduanya untuk pergi dari sana dan menghentikan langkah kaki Barra dan juga Edrea yang hendak berlalu pergi meninggalkan ruang kesehatan tersebut. Membuat Barra langsung dengan spontan menatap ke arah Kiera yang menghentikan langkah kakinya hendak membawa Edrea pergi dari sana.


"Jangan menghalangi ku kamu tidak tahu apa apa." ucap Barra dengan nada yang datar.


Kiera yang melihat sikap Barra yang seperti itu, lantas langsung memunculkan spekulasi bahwa Barra lah yang membuat Edrea murung sedari tadi pagi, hingga kemudian Kiera lantas langsung menatap tajam ke arah Barra dan membuat Barra kebingungan akan perubahan ekspresi wajah Kiera barusan.

__ADS_1


"Jadi kamu yang membuat sahabat ku galau ya? kau pikir kau itu siapa? dasar laki laki modal tampang doang! jangan hanya karena wajah mu tampan kau jadi bisa semena mena ya!" pekik Kiera yang lantas membuat Barra semakin bingung akan arah pembicaraan Kiera saat ini.


Tidak hanya Barra saja yang kebingungan, Edrea yang mendengar suara Kiera yang meninggi lantas ikut menatap bingung ke arah Kiera yang kini terlihat menggebu gebu. Ada perasaan hangat yang mendadak menyapa Edrea ketika melihat Kiera yang kini tengah membelanya itu, Edrea tahu bahwa apa yang ada di pikiran Kiera hanyalah salah paham semata namun entah mengapa Edrea malah merasa bahagia ketika melihatnya.


"Kamu salah paham Ki... bukan dia orangnya... aku akan menjelaskannya nanti oke..." ucap Edrea sambil mengusap lengan Kiera, yang langsung membuat Kiera emosinya menurun seketika di saat mendengar ucapan Edrea barusan.


"Apa kamu yakin?" tanya Kiera sekali lagi mencoba untuk memastikan, yang langsung di balas Edrea dengan anggukan kepala.


"Apa kalian berdua sudah selesai? karena waktu ku tidak banyak jadi berhenti bermain main!" ucap Barra dengan nada yang ketus sambil langsung berlalu pergi dari sana dengan menggenggam erat tangan Edrea dan membawanya keluar dari ruang kesehatan meninggalkan Kiera seorang diri di sana.


**


Barra membawa Edrea terus melangkahkan kakinya menyusuri lorong lorong kampus, hingga ketika Barra merasa tempat yang mereka lalui cukup aman dan sepi barulah Barra berteleportasi ke ruangannya, kemudian melepas genggaman tangannya pada Edrea dan menghentikan langkah kakinya.


Hening sesaat, tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi di antara keduanya. Helaan nafas terus terdengar dari mulut Barra seakan membuat suasana semakin terasa aneh di ruangannya. Barra membalik tubuhnya sambil menatap ke arah Edrea dalam dalam, Barra tahu gadis di hadapannya ini pasti sekarang tengah bingung sekaligus bertanya tanya akan apa yang sedang terjadi pada dirinya.

__ADS_1


Sedangkan Edrea yang merasa ada yang aneh dengan tatapan Barra, lantas langsung dengan spontan menatap ke arah laki laki di hadapannya, manik mata keduanya bertemu dan menatap satu sama lainnya dengan intens, dalam manik mata milik Barra sekilas Edrea seperti melihat emosi yang bercampur menjadi satu antara sedih, kecewa, amarah seakan berkumpul menjadi satu tepat di dalam manik mata Barra, membuat Edrea yang melihat hal itu menjadi tertegun seketika.


"Aku tidak tahu harus menjelaskan segalanya dari mana, hanya saja ada alasan mengapa kamu, aku dan juga siluman ular itu maksud ku Fano berhubungan." ucap Barra kemudian yang lantas membuat Edrea terkejut bukan main ketika mendengar ucapan Barra barusan.


Jika hanya sekedar berhubungan saja mungkin Edrea tidak akan terlalu terkejut dengan hal tersebut, hanya saja raut wajah Barra yang menggambarkan sebuah penyesalan yang teramat mendalam, membuat Edrea seakan seperti bertanya tanya akan hubungan apa yang terjadi di masa lalu hingga Barra terlihat seperti saat ini.


"Jika kamu tidak siap, kamu tidak perlu mengatakannya." ucap Edrea kemudian yang lantas membuat Barra langsung mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bukan masalah siap atau tidaknya, yang jadi masalah saat ini adalah pengulangan yang mungkin saja akan terjadi dan sayangnya aku sama sekali tidak tahu kapan hal itu akan terjadi!" ucap Barra dengan nada yang frustasi.


Entah mengapa setelah pertemuannya dengan Fano tadi, membuat pikiran Barra menjadi kacau dan tidak karuan. Barra benar benar ingin segera membinasakan ular sialan itu, namun mengingat tubuh Edrea dan juga siluman ular hitam tersebut terhubung dan menjadi satu walau dengan tubuh berbeda, membuat Barra semakin di buat bingung harus mengambil tindakan seperti apa di saat keadaan seperti ini.


Sedangkan Edrea yang mendengar ucapan serta ekspresi wajah Barra hanya terdiam tanpa bisa berkata apa apa, Edrea benar benar melihat kekhawatiran dalam diri Barra ketika mengucapkan kejadian di masa lalu, membuat Edrea menjadi bertanya tanya hubungan seperti apa yang di miliki oleh Barra dan juga gadis yang berwajah mirip dengannya, sehingga membuat Barra begitu terluka ketika Edrea membahas tentang kejadian di masa lalu antara Barra, gadis yang mirip dengannya dan juga siluman ular hitam yang kini bersemayam di tubuh Fano. Sebuah pertanyaan gila lantas tiba tiba terlintas dalam benaknya membuat Edrea ragu akan mengatakannya kepada Barra atau tidak.


"Sebenarnya siapa yang tengah kamu khawatirkan antara aku atau sosok gadis yang berwajah seperti ku di masa lalu?" ucap Edrea kemudian dengan pandangan yang kosong, membuat Barra dengan spontan langsung menoleh ke arahnya karena terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Edrea barusan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2