Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Tidak berani membantah


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang kau lakukan kepada suami mu bukanlah sebuah kesalahan. Namun kesalahan terbesar mu adalah telah membuat tubuh Edrea menjadi pion untuk membalas perasaan dendam yang ada pada dirimu!" ucap Barra sambil terus mengeratkan cengkraman tangannya pada leher sosok tersebut.


"Apa... tunggu...."


Belum sempat sosok itu mengucapkan kata-kata untuk membalas perkataan Barra tadi, Barra sudah terlebih dahulu mengumpulkan semua energi di dalam pergelangan tangannya. Perlahan-lahan pergelangan tangan Barra terlihat mulai mengeluarkan cahaya berwarna putih keemasan yang semakin besar dan semakin besar. Hingga ketika cahaya itu berkumpul dan sudah menjadi lebih terang, Barra kemudian lantas langsung mengarahkannya tepat kepada ubun-ubun sosok Arwah pendendam tersebut.


Terbentuklah sebuah cahaya terang tepat ketika telapak tangan milik Barra menyentuh ubun-ubun sosok arwah tersebut, yang lantas membuat sosok Arwah pendendam itu langsung merintih kesakitan karena menahan sebuah energi besar yang berasal dari Barra. Sosok itu merintih dan terus merintih, hingga sepersekian detik berikutnya sebuah cahaya yang lebih terang terlihat kemudian berganti dengan sekumpulan asap yang berhamburan dan lenyap begitu saja. Pada akhirnya Barra benar-benar memusnahkan sosok Arwah pendendam tersebut dengan tangannya. Bagi Barra tidak ada seorang maupun arwah sekuat apapun yang bisa memanfaatkan Edrea. Melihat Edrea yang dimanfaatkan oleh sosok tersebut tentu saja langsung membuat Barra marah dan sama sekali tidak menyukainya.


Cras....


Melihat sosok tersebut yang sudah musnah dan tak berbekas lagi, membuat seulas senyum sinis lantas terbit dari wajah tampan Barra. Setelah Barra memastikan bahwa sosok tersebut telah tiada, Barra kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea yang saat ini terlihat sudah terbaring dan tidak bergerak di lantai bangunan tersebut. Dengan langkah kaki yang perlahan, Barra mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan mengambil posisi berjongkok untuk melihat keadaan Edrea saat ini. Ditatapnya Edrea sekilas dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan kemudian menghela napasnya dengan panjang.


"Aku bahkan sudah tidak bisa berkata-kata lagi, gadis ini benar-benar tidak pernah bisa mendengar larangan ku barang sekali saja." ucap Barra dengan tersenyum kecut menatap ke arah Edrea yang saat ini terlihat masih menutup matanya.


Sambil mulai bergerak mengangkat tubuh Edrea dan menggendongnya ala bridal style, Barra terlihat melangkahkan kakinya meninggalkan bangunan tersebut dan berteleportasi ke Stasiun pemberhentian tepatnya di ruangannya.


***

__ADS_1


Ruangan Barra


Terlihat Max dan juga Arya tengah sibuk memilih dan juga mengoreksi beberapa dokumen para arwah yang setiap harinya selalu saja menumpuk lagi dan lagi seakan tidak ada hentinya. Hingga kemudian sebuah helaan napas dengan kasar lantas terdengar dari mulut Max, membuat Arya langsung menoleh dengan spontan ke arah Max.


"Sudah jangan mengeluh kerjakan saja." ucap Arya dengan nada yang lirih.


"Kau itu tidak..." ucap Max hendak menanggapi ucapan Arya namun sebuah suara yang terdengar tiba-tiba di ruangan tersebut lantas menghentikan ucapan Max.


Begitu mendengar suara langkah kaki seseorang di ruangan Barra membuat Max dan juga Arya lantas langsung menoleh ke arah sumber suara untuk melihat suara langkah kaki siapa itu. Hingga pandangan keduanya terhenti pada sosok Barra dan juga Edrea yang terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah sofa. Max dan juga Arya yang melihat Barra menggendong Edrea dan menidurkannya ke sofa, lantas saling pandang satu sama lain seakan bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya telah terjadi saat ini.


"Apakah Mira sudah datang?" tanya Barra kemudian yang langsung membuyarkan tatapan Max dan juga Arya yang sedari tadi menatap penasaran ke arah keduanya.


"Tidak perlu kalian boleh pergi sekarang, jika nanti kalian bertemu dengan Mira katakan untuk menemui ku kemari." ucap Barra kemudian memberikan perintah.


"Baik tuan, kami permisi." ucap Max kemudian sambil menarik tangan Arya untuk bergegas pergi meninggalkan ruangan Barra.


"Tapi kita belum..." ucap Arya hendak protes namun keburu mendapat tatapan yang tajam dari Max agar segera pergi meninggalkan ruangan Barra saat ini juga.

__ADS_1


***


Satu jam kemudian


Kelopak mata Edrea terlihat mulai mengerjap beberapa kali seakan tengah berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul. Edrea bangkit dari posisi tidurannya secara perlahan kemudian menatap ke arah sekeliling dan sedikit mengernyit ketika ia baru menyadari bahwa Edrea saat ini tengah berada di ruangan Barra. Edrea mengusap tengkuknya yang sedikit berat sambil mengingat-ingat apa yang tengah terjadi kepadanya sebelum pada akhirnya sadar dari pingsannya. Hingga kemudian sebuah suara yang tak asing ditelinga Edrea lantas langsung mengejutkan Edrea dan membuatnya dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu itu benar-benar tidak bisa dibilangin ya...? Aku bahkan sudah mengatakannya berulang kali namun kamu malah tetap ngotot pergi, apa kamu kira ucapan ku adalah angin lalu?" ucap Barra dengan nada yang kesal namun sambil menyodorkan minuman ke arah Edrea agar ia minum.


Edrea yang mendengar ceramah dari Barra hanya bisa manyun sambil menerima air itu dan langsung meminumnya tanpa protes sama sekali. Edrea tahu kesalahannya kali ini pasti akan membuat Barra marah ketika mengetahuinya. Meski Edrea sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi namun setelah melihat reaksi Barra yang seperti itu, Edrea yakin pasti telah terjadi sesuatu yang besar namun sama sekali tidak di sadari oleh Edrea karena memang posisi raganya yang sedang digunakan oleh Arwah pendendam tersebut.


Edrea terdiam di tempatnya tanpa bisa menyangkal ataupun memberikan alasan kepada Barra. Membuat Barra yang melihat tingkah Edrea seperti itu hanya bisa menghela napasnya dengan panjang kemudian ikut mengambil duduk di sebelah Edrea.


"Baiklah aku minta maaf kalau aku barusan keterlaluan, hanya saja cobalah untuk memikirkan dirimu dahulu sebelum membantu orang lain. Prioritaskan dirimu dahulu sebelum memprioritaskan orang lain, berhenti membuat orang-orang disekitar mu menjadi khawatir. Apa kamu mengerti?" ucap Barra kemudian namun kali ini dengan nada yang lebih lembut membuat Edrea langsung menoleh ke arah Barra dengan tatapan yang intens.


Ada sedikit perasaan menghangat dan juga melayang ketika mendengar Barra mengatakan hal tersebut. Bagi yang lainnya mungkin akan terdengar biasa saja namun bagi Edrea itu adalah sesuatu yang menyentuh hatinya. Edrea terdiam di tempatnya seakan tak bisa berkata-kata, entah karena hatinya yang sedang sedih atau karena dirinya yang tengah merindukan sosok yang selalu memberinya kehangatan di kala ia sedang sedih yang mana kita tahu bahwa Sita telah pergi dan meninggalkannya untuk selamanya.


Keduanya terdiam dalam keheningan dengan posisi saling pandang antara satu sama lain, hingga kemudian sebuah suara lantas terdengar menggema dan membuyarkan segala imajinasi keduanya.

__ADS_1


"Apa kau tengah mencari ku Bar?"


Bersambung


__ADS_2