
Setelah kematian nyi mas akibat ulah siluman ular itu, kehidupan Barra benar benar tidak lagi berharga dan sama seperti dulu lagi, secara mendadak ia terkena sebuah kutukan keabadian tanpa alasan yang jelas atau memang Barra yang tidak merasa bersalah sama sekali.
Barra melangkahkan kakinya luntang lantung tanpa arah dan tujuan, pikirannya benar benar kosong dan tak tahu harus ke mana hingga setelah berhari hari atau bahkan berbulan bulan ia mengembara tanpa tujuan dan arah yang jelas, Barra di pertemukan dengan sosok ibu yang membantunya bangkit secara perlahan.
Barra benar benar terpesona akan sosok ibu, bukan jatuh cinta atau apa, lebih kepada menghormati dan juga rasa bersyukur karena Ibu mau menolongnya untuk bangkit dan memulai hidupnya yang baru. Bersama dengan ibu Barra melewati perkembangan zaman yang setiap abadnya semakin berkembang dengan pesat, membuat Barra mau tidak mau di tuntut untuk mengikuti peradaban yang terus berkembang dan semakin maju.
Di sela sela kesibukannya mengatur Stasiun Pemberhentian, Barra mengumpulkan berbagai informasi tentang Siluman Ular Hitam, entah ini karena suatu firasat atau apa? namun bagi Barra ia harus lebih dulu bersiap jika apa yang terjadi di masa lalu akan kembali terulang di masa kini, esok ataupun masa yang akan datang.
"Aku tidak akan pernah jatuh pada lubang yang sama, aku yakin suatu usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil." ucap Barra dengan nada yang penuh keyakinan.
***
Dengan perasaan yang kesal Edrea mengambil kembali buku itu dan hendak menaruhnya di rak paling atas. Hanya saja tiba tiba gerakan tangan Edrea terhenti, ketika melihat tulisan dalam aksara jawa yang tertera di sampul buku tersebut.
"Siluman ular hitam? untuk apa kau mengoleksi buku ini Bar? kurang kerjaan banget..." pekik Edrea sambil mengangkat buku itu tinggi tinggi hendak menunjukkannya kepada Barra.
Deg...
"Mengapa buku tersebut ada di sini?" ucap Barra dalam hati ketika berbalik badan dan melihat buku apa yang di maksud oleh Edrea.
Edrea yang melihat Barra hanya diam tanpa menjawab ucapannya, lantas langsung bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya secara perlahan ke arah di mana Barra berada sambil membuka buku yang baru saja ia temukan.
"Siluman ular hitam adalah sejenis makhluk jelmaan iblis yang bisa menyerap energi manusia hingga habis untuk memperkuat kemampuannya, di katakan dalam buku ini korban yang sudah di serap energinya sampai habis akan meninggal dengan tubuh yang hanya tersisa tulang dan juga kulitnya saja...." ucap Edrea yang langsung terhenti ketika apa yang ia baca barusan mengingatkannya pada sebuah peristiwa yang terjadi di kampusnya belakangan ini.
__ADS_1
"Ja.... jangan jangan Fano selama ini adalah..." ucap Edrea dalam hati sambil terdiam mematung karena terkejut akan fakta yang baru saja ia dapatkan melalui buku tersebut.
Pikiran Edrea kemudian melayang jauh memikirkan satu ciri kesamaan antara ular dengan Fano, ketika ia bertemu dengan Fano beberapa waktu yang lalu. Sikap Fano yang mulai aneh semenjak kepulangannya dari hutan waktu itu, suara desisan dan juga manik mata yang terkadang terlihat seperti manik mata ular, lantas mendadak kembali terlintas di benaknya.
Barra yang melihat Edrea terdiam sambil membuka buku tersebut, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan langsung mengambil buku tersebut dari tangan Edrea, membuat Edrea langsung tersadar dari lamunannya.
"Apa yang kau lakukan? ini hanyalah sebuah buku usang tidak perlu sampai sebegitunya, lagi pula aku tidak menyangka kamu bisa membaca aksara jawa." ucap Barra mencoba mengalihkan pembicaraan sambil melangkahkan kakinya menjauh dari Edrea untuk menaruh buku tersebut ke tempat yang aman.
"Tentang bagaimana aku bisa tahu akan tulisan itu tidaklah penting, kemari kan bukunya padaku karena aku belum selesai membacanya!" ucap Edrea sambil mengejar langkah kaki Barra yang hendak menyembunyikan buku tersebut.
"Sudah tidak perlu di baca lagi, sebaiknya kamu lanjutkan saja pekerjaan mu itu!" ucap Barra dengan nada yang enteng, namun malah membuat Edrea semakin penasaran ketika melihat tingkah Barra yang terlihat seakan akan tengah menutupi sesuatu darinya.
Jarak keduanya yang semakin dekat, membuat Edrea dengan mudahnya menggapai lengan Barra dan langsung menariknya, hingga membuat Barra dengan seketika langsung berbalik badan dan menatap ke arahnya.
Sebenarnya Edrea sama sekali tidak tahu akan jati diri Fano yang sebenarnya, namun melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Barra, membuat Edrea malah semakin yakin bahwa dugaannya adalah benar.
Cetak
Suara sentilan mendarat cukup keras di jidatnya, membuat Edrea langsung dengan spontan menutup jidatnya dengan kedua tangannya karena sakit akibat serangan yang tiba tiba dari Barra.
"Aw... apa yang kamu lakukan Bar?" pekik Edrea dengan raut wajah yang kesal sambil mengusap jidatnya berulang kali.
"Lagi pula kau kalau ngomong suka melantur, bukankah Fano itu teman mu? mengapa malah bertanya padaku nona?" ucap Barra dengan nada yang di buat buat seakan tengah berakting agar Edrea tidak curiga padanya.
__ADS_1
"Iya juga ya? bodoh banget kau Rea!" ucap Edrea dalam hati ketika mendengar ucapan dari Barra barusan.
"Sudahlah... daripada kamu terus melantur yang tidak jelas, mending lebih baik kamu cepat selesaikan pekerjaan mu dan pulang ke rumah mu dengan tenang!" ucap Barra kemudian yang lantas membuat Edrea langsung mencebikkan mulutnya.
"Baik tuan..." ucap Edrea kemudian sambil sedikit menunduk seakan sengaja untuk mengejek Barra.
***
Keesokan harinya di kampus
Siang itu di kantin, terlihat Edrea dan juga Kiera tengah asyik menikmati makan siang mereka sambil bercerita berbagai hal di sela sela mengunyah makanan mereka.
"Kau tahu apa yang lucu Rea? adik ku mendadak bangun dari tidurnya dan berlari tunggang lenggang membuat satu rumah gempar, setelah di tanya ia malah menjawab hendak pergi sekolah.. padahal waktu itu adalah hari weekend, mana ada sekolahan yang buka saat itu?" cerita Kiera dengan tawa yang menggema di iringi dengan Edrea yang juga ikut tertawa ketika mendengarnya.
Hingga ketika keduanya sedang asik bercerita sambil menikmati makan siang mereka, seorang mahasiswa nampak terlihat mendekati keduanya.
"Rea... lo di panggil ke ruang dekan tuh sekarang!" ucap seorang mahasiswa yang lantas membuat Edrea dan juga Kiera langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Aku?" tanya Edrea sekali lagi memastikan apa yang baru saja ia dengar.
"Iya lah... memangnya siapa lagi?" ucap mahasiswa tersebut menatap dengan bingung ke arah Edrea.
"Mengapa aku seperti merasa tidak asing dengan kejadian ini? jangan bilang..." ucap Edrea dalam hati bertanya tanya.
__ADS_1
Bersambung