
Bruk
Barra yang tadinya hendak mengejar kepergian Mira lantas tanpa sengaja malah menabrak seseorang. Namun sebuah penglihatan yang terjadi dengan tiba-tiba membuat Barra terdiam mematung ketika ia tanpa sengaja malah mendapat penglihatan tersebut disaat bertabrakan dengan pria tersebut.
Sebuah penglihatan yang sama sekali tidak ingin Barra lihat, dimana Barra melihat sosok pria yang ia tabrak terlihat sedang bercengkrama dengan riang bersama Edrea di sebuah ruang perawatan. Barra melihat tatapan yang berbinar dari mata pria itu begitu ia menatap ke arah Edrea. Barra mengepalkan tangannya dengan erat begitu mendapat penglihatan tersebut seakan tidak terima akan apa yang baru saja ia tangkap dalam kepalanya. Jika melihat dari cara pria itu bercengkrama dengan Edrea, sepertinya keduanya adalah teman lama yang baru bertemu.
Pria tersebut nampak berbalik badan dan menatap ke arah Barra yang terlihat diam saja dengan ekspresi yang tidak enak setelah keduanya mengalami tabrakan barusan. Mengetahui Barra seperti tidak terlalu suka dengan apa yang terjadi, pria itu lantas mendekat ke arah Barra dan mencoba untuk meminta maaf kepada Barra.
"Maaf, saya tadi sedang terburu-buru karena ada pasien yang baru datang." ucap pria tersebut yang ternyata seorang dokter di sana.
Mendengar ucapan dari pria tersebut membuat Barra lantas berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara. Tatapan Barra terhenti pada sebuah nametag di dada pria tersebut yang bertuliskan nama Andi di sana.
"A N D I" ucap Barra tanpa sadar dengan nada yang sinis membuat Andi yang terpanggil lantas sedikit kebingungan.
"Maaf bagaimana?" tanya Andi yang tidak mengerti.
"Tidak ada, saya harap Dokter lebih bisa menjaga perilaku anda ya Dok, saya permisi!" ucap Barra dengan tersenyum penuh arti membuat Andi semakin tidak mengerti akan arah dari pembicaraan Barra saat ini.
Setelah mengatakan hal tersebut Barra lantas berlalu begitu saja tanpa kembali mengatakan sepatah kata apapun, membuat Andi yang melihat kepergian Barra hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena ia tidak mengerti apapun yang diucapkan oleh Barra kepadanya tadi.
"Apa dia sungguh marah padaku? Padahal aku tadi sudah minta maaf kepadanya bukan?" ucap Andi sambil menatap dengan tatapan yang bertanya-tanya ke arah kepergian Barra yang kini tidak lagi terlihat pada pandangannya.
__ADS_1
***
Ruang perawatan Edrea
Terlihat Barra tengah melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang perawatan Edrea, dimana terlihat Edrea tengah diam termenung sambil menatap kosong ke arah jendela ruang perawatannya.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Barra memecahkan keheningan di dalam ruangan tersebut.
Mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya, lantas membuat Edrea langsung menoleh ke arah sumber suara kemudian tersenyum ketika melihat langkah kaki Barra yang kian mendekat ke arahnya.
Barra mendudukkan pantatnya tepat di brankar pasien Edrea kemudian menatap Edrea dengan raut wajah yang menelisik, membuat Edrea menjadi salah tingkah ketika mendapat tatapan tersebut dari Barra.
"Aku ingin minta maaf, sebelum kamu kembali menyerocos dan mengatakan bahwa aku ceroboh aku akan mendahuluinya." ucap Edrea dengan nada bicara yang lirih namun masih bisa didengar oleh Barra yang berada di sebelahnya.
"Sebenarnya apa yang mau kamu katakan? meminta maaf atau malah menyindir diriku?" ucap Berra dengan nada yang sedikit meninggi.
"Tidak juga tergantung dari sudut pandang mana kamu mengartikannya." ucap Edrea kemudian yang lantas membuat Barra memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengarnya.
"Sepertinya kamu sudah mulai sehat rupanya karena sudah bisa membalas kata-kata ku." ucap Barra.
"Tentu saja alat ini cukup membantu ku untuk bernapas, aku rasa besok pagi aku sudah bisa pulang." ucap Edrea sambil menunjuk selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu." ucap Barra sambil membelai lembut rambut Edrea.
Mendapat perlakuan tersebut membuat Edrea langsung terdiam mematung di tempatnya, ada perasaan hangat yang menghampiri Edrea ketika Barra melakukan hal tersebut kepadanya. Hingga kemudian sebuah suara pintu yang dibuka dari luar lantas membuyarkan pandangan keduanya yang sedari tadi saling terkunci antara satu sama lain. Barra yang mendengar suara pintu terbuka lantas membuat Barra langsung menengok ke arah belakang untuk melihat siapa yang datang ke ruang perawatan Edrea. Yang ternyata tanpa disangka-sangka yang datang ke ruang perawatan tersebut adalah Andi seorang Dokter yang Barra temui di koridor Rumah sakit tadi.
Barra berdecak dengan kesal ketika melihat Andi melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana keduanya berada saat ini. Dengan gerakan yang malas Barra lantas bangkit dari posisinya dan berdiri menatap ke arah Andi, membuat Edrea yang sedari tadi tidak mengetahui siapa yang datang, ketika Barra bangkit ia langsung bisa melihat segalanya.
"Hai Re bagaimana keadaan mu?" ucap Andi begitu tatapan mata keduanya bertemu, membuat Barra yang mendengar sapaan tersebut langsung mendengus dengan kesal.
"Andi? Bagaimana bisa kamu..." ucap Edrea dengan nada yang sedikit terkejut.
"Tak perlu terkejut begitu, ini hanya sebuah kebetulan yang tak terduga. Apa keadaan mu sudah lebih baik?" ucap Andi kemudian sambil mengulum senyum ke arah Edrea.
"Semuanya baik hanya terasa sedikit sakit di bagian sini saja." ucap Edrea sambil menunjuk area dadanya, membuat Andi yang melihat hal tersebut lantas mengangguk seakan mengerti keluhan dari Edrea barusan.
"Tak apa Re, lakukan pernapasan secara perlahan jangan terlalu dipaksakan oke, aku yakin cepat atau lambat semua akan mulai pulih dan kembali normal." ucap Andi dengan nada yang lembut membuat Edrea lantas langsung mengangguk tanda mengerti akan ucapan dari Andi barusan.
Barra yang merasa ia telah dikacangi sedari tadi tentu saja kesal. Bagaimana mungkin keduanya sampai melupakan kehadiran dirinya di ruangan tersebut. Sambil mengepalkan tangannya dengan erat Barra mulai menatap tajam ke arah Andi dan juga Edrea. Perasaan kesal dan juga amarah mendadak muncul di dalam diri Barra, membuat Barra menjadi geram dan tanpa sadar melampiaskannya kepada sekitar.
Perlahan-lahan lampu area ruang perawatan Edrea nampak berkelap-kelip mati dan hidup, membuat Andi dan juga Edrea nampak terkejut akan hal tersebut. Hingga kemudian sebuah suara lampu ruangan yang mendadak pecah membuat Andi langsung dengan spontan melindungi tubuh Edrea agar tidak sampai tertimpa pecahan lampu yang berada tepat di atasnya. Melihat hal tersebut tentu saja membuat Barra semakin marah dan juga kesal. Hingga kemudian dengan langkah kaki yang lebar Barra mulai mendekat ke arah Andi dan langsung memegang pundak Andi dari belakang.
"Singkirkan tangan mu dari sana!" ucap Barra dengan nada yang tertahan.
__ADS_1
Bersambung