
"Tidak mungkin ini saatnya bukan? aku tidak menginginkan akhir yang sama, tidak akan..." ucap Barra dalam hati ketika melihat bayangan samar dari belati tersebut.
Barra yang tidak menginginkan akhir kisah yang sama, sebelum belati tersebut benar benar terlihat dengan jelas, Barra langsung mengeluarkan segala energinya dan mendorong dengan kuat tubuh Edrea hingga terpental cukup jauh dan langsung membuat Edrea pingsan seketika itu juga.
Bruk...
Tubuh Edrea jatuh begitu saja setelah beberapa meter terhempas dan membentur dinding gedung tersebut. Mira yang melihat Edrea sudah tidak lagi bergerak lantas mendekat ke arah Barra.
"Apa dia akan baik baik saja Bar?" tanya Mira sambil menatap ke arah Edrea yang tergeletak di lantai.
"Harusnya semua akan kembali baik, kau kembalilah ke Stasiun aku akan mengurus hal ini terlebih dahulu." ucap Barra sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea kemudian menggendongnya ala bridal style.
"Apa kau perlu bantuan ku?" tanya Mira menawarkan bantuan kepada Barra.
"Tidak perlu, aku pergi dulu..." ucap Barra kemudian berteleportasi ke sebuah tempat yang tentu saja Mira tidak akan tahu di mana tempat itu berada.
Mira menatap kepergian Barra dan juga Edrea dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Pada akhirnya tanpa aku sadari, akulah penolong dari arwah tersebut... ah mengapa aku baru menyadarinya?" ucap Mira pada diri sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
***
Barra berteleportasi ke sebuah mansion besar tempat di mana ibu berada, di langkahkan kakinya masuk secara perlahan menuju ke pintu utama, namun tanpa di sangka pintu utama terbuka dengan sendirinya secara perlahan dan menampilkan sosok ibu di sana.
"Ibu... apakah kamu sudah tahu kalau aku akan datang?" tanya Barra yang sedikit terkejut seakan akan Ibu tahu jika Barra akan datang berkunjung dan membawa Edrea bersamanya.
"Masuklah dan tidurkan dia di kamar, Ibu akan menunggu mu di ruang tamu." ucap Ibu memberikan arahan yang lantas di balas Barra dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Seperti arahan dari Ibu, Barra kemudian lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar dan langsung menidurkan Edrea secara perlahan di sana dan menatapnya selama beberapa detik.
"Aku rasa membawanya ke mari adalah sebuah pilihan yang tepat, sebelum semuanya menjadi semakin rumit dan tidak terkendali." ucap Barra kemudian berlalu pergi meninggalkan Edrea seorang diri di kamar tersebut.
**
Ruang tamu
Di sofa ruang tamu Ibu sudah terlihat menunggu kehadiran Barra di sana, membuat Barra langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas dan mengambil duduk di sebelah Ibu.
"Bu kedatangan ku ke sini karena tadi tiba tiba..." ucap Barra hendak menjelaskan namun sudah terlebih dahulu di potong oleh Ibu.
"Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskannya secara detail." ucap Ibu sambil tersenyum, membuat Barra sedikit agak kebingungan ketika mendengarnya.
"Apa yang harus aku lakukan Bu? mungkinkah hari itu sudah dekat?" tanya Barra kemudian.
"Lalu jika ini bukan waktunya, mengapa bayangan belati itu muncul ketika kami berdua berhadapan?" ucap Barra yang masih tidak mengerti akan hal ini.
Ibu yang mendengar pertanyaan tersebut, lantas tersenyum ke arah Barra, namun malah membuat Barra semakin di buat bingung akan ekspresi wajah yang di berikan oleh Ibu saat ini. Ekspresi Ibu benar benar tenang tanpa raut wajah yang khawatir ataupun tegang sama sekali, padahal bagi Barra ini adalah masalah yang serius dan selalu saja tidak bisa membuat Barra tenang meski hanya memikirkannya saja.
"Belati itu muncul ketikan percikan antara energi milik mu, Edrea dan juga Siluman ular hitam itu berdekatan dan saling beradu, namun yang jelas jika roh dari Siluman ular hitam itu tidak menyatu dengan tubuh Edrea, kejadian kala itu tidak akan pernah terjadi, pesan ku untuk mu jangan salah mengenali sesuatu atau kau akan menyesal nantinya jika sampai berbuat hal yang ke gabah tanpa berpikir panjang terlebih dahulu." ucap Ibu lagi memberikan nasihat kepada Barra.
"Lalu bagaimana jika aku salah mengenalinya Bu?" tanya Barra kemudian.
"Kamu itu cerdik Bar, aku rasa kamu akan tahu bedanya jika kamu tidak mengedepankan emosi dan juga rasa penyesalan yang menumpuk di dada mu, gunakanlah kepala dingin untuk berpikir, aku yakin kamu pasti akan mengetahuinya." ucap Ibu lagi.
"Lalu bagaimana keadaan Edrea saat ini Bu?" tanya Barra kemudian.
__ADS_1
"Dia akan baik baik saja, apa yang terjadi padanya hanyalah sebuah pancingan untuk dirimu Bar, tetap tenang dan cari jalan keluarnya secara perlahan, aku yakin kamu akan menemukan jalan keluarnya." ucap Ibu lagi yang lantas membuat Barra langsung menghela nafasnya dengan panjang ketika mendengar penuturan dari Ibu barusan.
"Terima kasih banyak Bu, aku akan selalu mengingat pesan dari Ibu." ucap Barra sambil tersenyum singkat, entah mengapa setelah mendengar wejangan dari Ibu hatinya sedikit merasa lega tidak seperti sebelumnya.
****
Rumah Sakit
Wili yang tidak tahu harus membawa ke mana sosok arwah pedagang asongan yang gagal di jemput tadi, lantas memilih menaruhnya di lobi Rumah Sakit begitu saja, bukan karena tidak punya rasa kasihan atau apa? hanya saja Wili sama sekali tidak tahu tata cara mengantar pasien ke Rumah Sakit.
Wili menatap dari jauh ketika beberapa perawat berlarian menolong pria tersebut dan membawanya menggunakan brankar pasien menuju ruang tindakan atau yang biasa kita sebut UGD.
"Yang aku lakukan sudah benar bukan? lantas selanjutnya harus bagaimana?" tanya Wili pada diri sendiri sambil menatap kepergian perawat tersebut yang membawa laki laki itu ke ruangan tindakan.
Wili mengaktifkan mode tidak terlihat dan mulai melangkahkan kakinya memasuki rungan UGD tempat para dokter melakukan pertolongan pertama pada pasiennya. Wili memperhatikan satu persatu prosesi pertolongan pertama yang tengah di lakukan oleh para perawat dan dokter di ruangan tersebut.
"Semua alat vitalnya normal dok, detak jantung dan juga nafasnya normal." ucap seorang suster memberikan laporan.
Sedangkan dokter yang mendapat laporan tersebut lantas di buat terkejut, ia benar benar tahu bahwa pasien ini sedang tidak baik baik saja namun setelah di lakukan pengecekan mengapa semuanya normal?
"Apa yang salah? jika semuanya normal mengapa ia seperti dalam keadaan koma? seakan akan seperti tidak ada tanda tanda kehidupan dalam diri pasien ini namun ia juga tidak dalam keadaan yang meninggal." ucap dokter tersebut dalam hati sambil memperhatikan pasien tersebut.
"Lakukan pemeriksaan secara keseluruhan dan berikan laporannya padaku." ucap dokter itu kemudian.
"Ah sepertinya aku sudah salah dalam memilih sebuah tindakan!" ucap Wili dalam hati ketika melihat raut wajah dokter dan juga perawat yang terlihat tengah kebingungan.
Bersambung
__ADS_1