
"Apa kamu sudah belajar sesuatu dari kisah ini?" ucap sebuah suara yang lantas mengejutkan Barra yang sedari tadi tengah melamun.
Mendengar sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya, Barra kemudian menatap ke arah sumber suara. Ada perasaan terkejut ketika Barra melihat langkah kaki ibu yang tiba tiba saja terlihat datang mendekat ke arahnya, membuat Barra langsung bangkit dari kursinya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ibu mempersilahkan Ibu untuk duduk di Sofa ruangannya.
"Mengapa Ibu tidak mengatakan bahwa Ibu akan mampir ke sini?" tanya Barra kemudian.
Sedangkan Ibu yang mendapat pertanyaan tersebut bukannya menjawab malah kembali bertanya kepada Barra karena Barra malah mengalihkan pembicaraannya barusan.
"Katakan pada Ibu, apa yang kamu pelajari dari sana?" tanya Ibu sekali lagi.
Barra terdiam sejenak pikirannya benar benar melayang membayangkan segala hal yang terjadi kepadanya. Helaan nafas terdengar berhembus dari mulut Barra ketika ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Ibu.
"Aku tidak terlalu yakin Bu, namun aku tahu maksud Ibu memberiku perintah untuk membiarkan sosok arwah tersebut mengambil Indri." ucap Barra kemudian.
Ibu tersenyum mendengar ucapan dari Barra, meski keduanya memiliki kisah yang sama namun apa yang terjadi kepada sosok tersebut tidaklah sepenuhnya sama. Dalam kasus Barra masih ada sosok ular hitam yang membayangi Barra dan juga Edrea, sehingga langkah kaki Barra tidak akan bisa semulus itu dalam mengakhiri penantiannya selama beratus ratus tahun lamanya.
"Ibu rasa kamu pasti akan menemukan jalan keluarnya baik tentang Edrea, kamu, ataupun sosok Siluman ular hitam tersebut. Sesuatu yang terjadi pasti akan terjadi namun sebelum itu terjadi kamu masih bisa mengubah akhir ceritanya." ucap Ibu lagi dengan nada yang lembut, membuat Barra lagi lagi menghela napasnya dengan panjang ketika mendengar ucapan Ibu barusan.
"Semoga saja Bu karena jika akhir dari kisah ku kali ini sama maka aku tidak akan bisa memaafkan diriku." ucap Barra dengan nada yang terdengar sendu.
***
Ruangan Mira
__ADS_1
Mira dan juga Edrea yang baru saja mengantar sosok arwah Indri dan juga pemuda tampan tersebut, terlihat tengah bersantai di ruangan Mira sambil menikmati kopi instan buatan Mira.
Keheningan melanda keduanya sejak kedatangan keduanya di ruangan Mira, seakan akan pikiran mereka tengah berkelana masing masing memikirkan sesuatu hal dalam kepala mereka. Di seruputnya kopi pada cangkir miliknya yang terletak di meja kemudian menghela napasnya dengan panjang. Mira yang mendengar helaan napas tersebut tentu saja langsung menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang bertanya tanya akan raut wajah Edrea yang terlihat aneh tersebut.
"Ada apa dengan raut wajah mu itu? Bukankah harusnya kamu bahagia karena akhir kisah perjuangan sosok pemuda itu berakhir dengan bahagia?" ucap Mira kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Sedangkan Edrea yang mendapat pertanyaan tersebut hanya menunduk sambil menatap ke arah kopinya beberapa detik. Entah mengapa, perasaan bahagia yang semula terasa ketika melepas kepergian sosok arwah tersebut mendadak berganti dengan perasaan gelisah dan juga khawatir ketika melihat ekspresi raut wajah Barra ketika meninggalkan tempat keberangkatan tadi. Edrea merasa ada sesuatu yang dipendam oleh Barra, namun sayangnya Edrea tidak tahu apa itu.
Mira yang tidak mendengar jawaban apapun dari Edrea, lantas terlihat mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang bertanya tanya seakan menunggu jawaban dari Edrea.
"Ada sesuatu yang mengganjal dalam benak ku, ekspresi yang ditunjukkan Barra ketika meninggalkan tempat Keberangkatan terasa sangat aneh bagi ku, apa kamu juga merasakan hal yang sama denganku?" ucap Edrea sambil menatap ke arah Mira dalam dalam.
"Aku tidak terlalu yakin dengan ucapan mu, mengingat Barra selalu bersikap seperti itu ketika menyelesaikan sesuatu kasus, jadi aku tidak terlalu yakin dengan ucapan mu barusan." ucap Mira sambil mengingat-ingat.
***
Sementara itu di sebuah Galeri seni yang terletak di Ibu kota, terlihat seorang wanita dengan name tag Linda di dadanya tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah depan dan menghampiri sebuah mobil box yang membawa koleksi lukisan terbaru di Galeri seni tersebut.
Dengan langkah yang perlahan-lahan Linda mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah seorang pria yang sibuk memberikan arahan kepada bawahannya agar menurunkan lukisan di dalam mobil box tersebut dengan hati-hati.
"Berapa lukisan yang datang hari ini?" tanya Linda kepada pria tersebut.
Mendapat pertanyaan barusan pria itu langsung menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Linda sudah berdiri tepat di belakangnya dengan raut wajah yang penasaran ingin segera mengetahui tentang lukisan tersebut. Pria itu nampak hanya diam dengan tertegun menatap ke arah kecantikan Linda, membuat Linda lantas menatap aneh ke arah pria tersebut karena tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Apa kamu mendengarkan ku Arman? Man... hello..." ucap Linda sambil melambaikan tangannya ke arah wajah Arman yang hanya menatap terbengong ke arahnya, membuat Arman langsung tersadar dari lamunannya.
"Eh iya maaf... hanya ada satu lukisan potret diri, namun lukisan ini berharga sangat tinggi jadi aku di perintahkan untuk menurunkannya dengan pelan
-pelan agar tidak lecet ataupun rusak, bukankah kau juga tahu bagaimana sifat bu Erika ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya?" ucap Arman dengan nada yang sedikit grogi ketika berada di dekat Linda.
"Iya kamu benar." ucap Linda sambil menghela nafasnya dengan panjang ketika mendengar ucapan dari Arman barusan.
Ketika keduanya sedang asyik berbincang, seorang bawahan Arman yang baru saja meletakkan lukisan tersebut lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arman untuk memberikan laporan kepada Arman.
"Semuanya sudah selesai pak" ucap pria tersebut yang langsung membuat Linda dan juga Arman lantas menoleh secara bersamaan ke arah pria itu.
"Baiklah, sepertinya aku harus pergi lain kali kita sambung lagi." ucap Arman kemudian berpamitan setelah tugasnya mengantar lukisan sudah selesai.
Linda yang mendengar hal tersebut langsung menganggukkan kepalanya sambil melambaikan tangan sebentar melepas kepergian Arman dari sana, hingga kemudian setelah Arman masuk ke dalam mobilnya barulah Linda melangkahkan kakinya masuk ke dalam Galeri seni untuk memeriksa lukisan yang baru saja datang.
Tak tak tak
Suara langkah kaki Linda yang beradu dengan lantai keramik terdengar begitu nyaring, namun ketika langkah kakinya kian masuk ke dalam Galeri seni suara bayangan langkah kakinya lantas terdengar jelas seakan akan ada satu orang lagi yang tengah berjalan di belakangnya, Linda yang mengira itu pelanggan lantas langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan hendak menyapa pelanggan tersebut, namun sayangnya ketika Linda berbalik badan sama sekali tidak ada siapapun di sana, membuat tengkuk Linda mendadak meremang ketika mengetahui di sana hanya ada Linda saja.
"Siapa di sana?"
Bersambung
__ADS_1