
"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Edrea dengan tatapan yang bingung ke arah Arya.
"Kode gerbong biru, semua petugas di Stasiun di panggil untuk berkumpul." ucap Arya dengan terburu buru.
Edrea yang mendengar hal itu bukannya mengerti malah di buat semakin bingung akan ucapan dari Arya barusan.
"Kode gerbong biru? berkumpul? tapi dimana dan untuk apa?" ucap Edrea bertanya tanya dengan tatapan yang bingung.
Arya yang memang dalam posisi yang terburu buru lantas langsung menarik tangan Edrea kemudian berlari, Edrea yang di tarik hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah kaki Arya yang kini tengah menarik tangannya.
***
Aula
Arya yang sedari tadi menarik tangan Edrea lantas menghentikan langkah kakinya ketika mereka berdua sampai di area aula, ketika keduanya sampai di aula, di sana sudah berjajar dengan rapi para petugas Stasiun. Jika Edrea menghitung dengan kasar mungkin jumlah orang yang ada di sana saat ini sekitar ratusan atau bahkan lebih, membuat Edrea menatap takjub akan pemandangan di hadapannya di mana ratusan orang berbaris dengan rapi di sana.
Tak tak tak
Suara langkah kaki yang beradu dengan keramik mulai terdengar menggema di aula tersebut, semua mata lantas tertuju pada satu orang yang kini tengah berdiri tepat di podium.
"Berasa pers kompres kali ya?" batin Edrea ketika melihat Barra naik ke atas podium.
"Perhatian untuk semua, saya mengumpulkan kalian di sini untuk membahas tentang kode gerbong biru yang baru saja berbunyi. Tepat pada pukul 13.00 akan terjadi kecelakaan masal yang menewaskan puluhan orang sekaligus, saya mengumpulkan kalian semua di sini untuk membagi tugas kepada kalian... khusus untuk tim A dan juga tim B kalian akan di tugaskan untuk menjemput arwah korban kecelakaan Bus, sedangkan tim C dan D akan mengurus kedatangan mereka di sini, sisanya persiapkan beberapa keperluan sebelum pemberangkatan kereta untuk gerbong biru. Sekian pemberitahuan dari saya selamat bertugas..." ucap Barra.
Tepat setelah pengumuman dari Barra berakhir, semua orang yang tadinya berbaris dengan rapi mendadak menghilang dan lenyap dari aula itu, sepertinya mereka semua langsung melakukan teleportasi ke tempat yang di maksud. Edrea yang memang pada dasarnya adalah manusia biasa yang tidak mempunyai kekuatan, hanya bisa plonga plongo menatap dengan bingung ke sekitaran di mana ruangan aula terlihat sudah kosong dan tak berbekas.
"Lalu aku harus gimana?" ucap Edrea dengan bingung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
Barra dan Max yang posisinya masih di situ hanya bisa menghela nafasnya panjang ketika melihat Edrea yang kebingungan di tengah tengah aula.
"Kau urus lah segalanya di sini Max, biar aku dan juga dia melihat kondisi di sana." ucap Barra pada akhirnya memutuskan.
Max yang mendapat perintah tersebut lantas mengangguk seakan langsung mengerti perintah dari Barra barusan.
"Baik tuan..." ucap Max sambil mengangguk.
Max yang baru saja menerima tugas, lantas langsung berteleportasi pergi dari sana untuk menjalankan tugasnya. Sedangkan Barra kemudian terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Edrea berada saat ini.
"Aku harus bagaimana?" tanya Edrea ketika melihat kedatangan Barra.
"Yah.. aku tidak akan memarahi mu karena memang ini di luar kuasa mu, jika kau tanya bagaimana? tentu saja jawabannya adalah kau harus tetap pergi walau kau seorang manusia biasa. Persiapkan dirimu karena sebentar lagi kau akan melihat sesuatu yang mungkin saja tidak ingin kau lihat." ucap Barra kemudian yang lantas membuat Edrea menelan salivanya dengan kasar.
Setelah menjelaskan secara singkat kepada Edrea, Barra kemudian lantas membawa Edrea berteleportasi ke suatu tempat yang akan menjadi awal mula kecelakaan tersebut terjadi.
***
Terlihat beberapa orang berpakaian serba hitam tengah berkumpul di pinggir jalan seperti sedang menanti sesuatu. Edrea dan juga Barra yang baru saja datang di lokasi lantas langsung ikut berdiri dan menunggu hingga waktu yang di tentukan terjadi.
"Wih gila, biasanya aku hanya lihat di drama yang seperti ini nih..." ucap Edrea dengan tatapan yang terpukau akan pemandangan yang ia lihat saat ini.
"Pukul 12.55, lima menit lagi kecelakaan tersebut akan terjadi, untuk semuanya sebaiknya kalian bersiap di posisi masing masing." ucap Barra kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh yang lainnya.
Jantung Edrea tiba tiba berdebar dengan kencang, perasaan gugup sekaligus takut tiba tiba menghampiri dirinya tanpa alasan membuat Edrea terus menghela nafasnya dengan panjang.
"Jika kau tidak siap, kau bisa membantu Max di stasiun." ucap Barra yang seakan tahu bahwa Edrea tengah gelisah saat ini.
__ADS_1
"Tidak perlu, bukankah ini memang kewajiban ku terus berada di samping mu sebagai pelayan?" ucap Edrea kemudian memutuskan.
"Terserah apa katamu... yang jelas aku sudah memperingatkan mu tentang hal ini." ucap Barra lagi yang lantas membuat Edrea langsung menelan salivanya dengan kasar.
"Aku siap... aku pasti siap.." ucapnya dalam hati berulang kali seakan mencoba untuk menepis rasa kegelisahan yang kini tengah Edrea alami.
"Sudah saatnya!" ucap Barra dengan lirih setelah melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul 13.00.
Edrea yang mendengar ucapan Barra barusan lantas semakin di buat gelisah, di saat rasa gelisah mulai menyerang Edrea dari arah jalanan sebelah kanan Edrea nampak sebuah Bus dengan no. B14 terlihat mulai menaiki tanjakan tersebut secara perlahan. namun tidak beberapa lama dari arah yang berlawanan sebuah motor terlihat menyebrang dengan tiba tiba tepat di hadapan Bus tersebut.
Kondisi Bus yang memang sedang berada di tanjakan terlihat sangat terkejut akan kehadiran pemotor tersebut, hingga alih alih menginjak rem sang pengemudi Bus malah memundurkan Busnya hingga terus turun dan menabrak beberapa mobil yang berada di belakang Bus tersebut.
Bruk...
Benturan antara Bus dan mobil yang ada di belakangnya tak lagi dapat di hindarkan, posisi tanjakan yang memang curam membuat Bus yang sudah menabrak mobil bagian bawahnya lantas mengguling dan terseret turun menabrak semua benda yang ada di hadapannya.
Suara teriakan dan benturan yang keras terdengar bersahutan memenuhi jalanan itu, terlihat beberapa darah segar bahkan mulai menggenang dan bermuncratan memenuhi jalanan.
Edrea yang dalam posisi memantau, lantas di buat shock akan rentetan kejadian yang terjadi di hadapannya. Kengerian akan teriakan orang orang yang meminta tolong lantas menambah puncak keterkejutan Edrea.
Mendadak tubuh Edrea lemas dan gemetaran, sedangkan nafasnya mulai terasa berat seakan ada benda besar yang tengah menimpah dadanya saat ini hingga menyebabkan Edrea kesulitan bernafas.
Edrea yang mulai berkeringat dingin lantas samar samar seperti melihat sebuah helm lengkap dengan potongan kepala di dalamnya nampak melayang mendekat ke arahnya, membuat Edrea tak bisa berkutik dan hanya diam mematung dengan nafas yang berat.
"Bar... ra..." panggilnya lirih.
Bruk
__ADS_1
Bersambung