
Ruangan Mira
Setelah mendapatkan tugas dari Barra melalui Wili, Mira dan juga Edrea terlihat fokus mempelajari file tentang kematian seseorang yang menurut mereka sedikit agak aneh dan membingungkan. Baik Edrea maupun Mira hanya bisa terdiam sambil memikirkan jawaban atas pertanyaan yang saat ini tengah berputar di kepala mereka masing-masing. Sedangkan Wili yang tak kunjung melihat keduanya berbicara hanya bisa menghela nafasnya panjang karena ia yakin kesempatannya untuk pergi minum kopi tidak akan terjadi hari ini.
Mira yang mendengar helaan nafas berasal dari Wili tentu saja langsung melirik sekilas ke arah Wili kemudian kembali menunduk menatap ke arah iPad yang kini dipegang olehnya.
"Jika kamu ingin pergi sekarang pergilah Wil, aku akan meminta tolong Riko nanti jika ada sesuatu." ucap Mira kemudian namun dengan mata yang masih fokus ke arah iPad.
Wili yang mendengar perkataan Mira tentu saja tersentak, sedangkan Edrea dengan spontan menatap ke arah Wili dengan raut wajah yang bertanya karena Mira tiba-tiba menyuruh Wili pergi dari sini.
"Tak apa Madam, ini sudah menjadi tugas saya." ucap Wili dengan senyum yang dipaksakan.
Mendengar jawaban dari Wili barusan, membuat Mira menghela nafasnya dengan panjang kemudian memberikan iPad tersebut kepada Edrea dan langsung menatap ke arah Wili dengan tatapan yang menelisik. Membuat Wili yang mendapat tatapan tersebut hanya bisa terdiam sambil menunduk karena ia takut Mira akan memarahinya.
"Apa kau yakin tidak ingin pergi? Aku dengar cafe tersebut saat ini memiliki menu baru, bukankah kau ingin pergi kesana untuk itu?" ucap Mira kemudian sambil bersendekap dada menatap ke arah Wili.
"Menu baru? Jangan bilang semua ini hanya gara-gara kopi?" ucap Edrea dalam hati mencoba menerka-nerka apa yang sedang terjadi sebenarnya.
Sedangkan Wili yang mendengar perkataan dari Mira barusan tentu saja semakin di buat bimbang mau mengatakan apa. Hingga kemudian Wili nampak mengangguk dan mengerti akan perkataan dari Mira.
"Baik Madam saya janji tidak akan lama, terima kasih banyak." ucap Wili kemudian melangkahkan kakinya pergi dari ruangan Mira bergegas menyusul Arya untuk pergi.
Melihat kepergian Wili dari ruangannya membuat seulas senyum lantas terlihat mengembang dari wajah Mira, baru setelah itu ia kembali mengambil duduk di sebelah Edrea, membuat Edrea menatap ke arahnya dengan tatapan yang tidak mengerti.
"Jangan menatapku seperti itu, aku masih punya hati biarkan saja dia pergi. Lagi pula ini sudah menjadi kegiatan rutin untuk Wili setiap minggunya dan aku tidak mempermasalahkan hal itu." ucap Mira dengan santainya, membuat seulas senyum langsung terbit dari wajah Edrea.
"Ah kamu benar-benar manis sekali, boleh aku memeluk mu?" ucap Edrea kemudian dengan manik mata berbinar sambil membuka kedua tangannya dengan lebar.
__ADS_1
Sedangkan Mira yang mendengar permintaan aneh dari Edrea langsung menoleh ke arah Edrea dengan tatapan yang bingung akan tingkahnya.
"Berhenti di sana dan jangan coba-coba melakukannya!" ucap Mira sambil menatap tajam ke arah Edrea saat ini.
Hanya saja bukan Edrea namanya jika mendengarkan perkataan orang lain, sehingga ia malah langsung memeluk tubuh Mira alih-alih mendengarkan perkataan Mira barusan. Mira yang mendapat pelukan tiba-tiba hanya bisa meronta kecil kemudian tersenyum karena hatinya merasa hangat ketika menerima pelukan dari Edrea. Edrea tertawa dengan riang sambil menggoyang-goyangkan tubuh Mira ke arah kanan dan kiri, membuat Mira ikut tertawa akan tingkah Edrea yang seperti itu.
***
Di sebuah ruangan kamar kosan, terlihat seorang mahasiswa nampak menatap ke arah layar komputernya dengan tatapan yang gelisah. Jari-jari tangannya terlihat sedikit gemetar, ia benar-benar tidak ada pilihan lain lagi selain melakukan hal ini. Telinganya terasa berdenging ketika jari tangannya terus mengetikkan sesuatu di laptop tersebut.
"Dasar anak tidak tahu diri!"
"Kau sekolah tinggi-tinggi untuk apa ha!"
"Orang miskin seperti mu tidak akan pernah bisa berhasil di dunia ini hahahaha"
Satu persatu perkataan itu terus bergulir dan terdengar memenuhi isi kepalanya, membuatnya semakin menggila karena terus-terusan mendengar kata-kata pedas dari orang-orang sekitarannya. Kehidupannya perekonomiannya yang sulit membuatnya selalu jadi bahan cemoohan teman-temannya dan juga Ayahnya sendiri.
Diambilnya sebuah vas dari anyaman rotan dengan cepat kemudian melemparnya ke sembarang arah, ia benar-benar muak dengan hal ini dan tidak sanggup lagi untuk menahannya.
"Diam! Diam semua! Aku bukan sampah.... Kalian yang sampah!" teriaknya dengan histeris seakan tidak terima akan perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut orang-orang.
Diusapnya rambutnya dengan kasar kemudian melirik ke arah layar laptopnya ketika sebuah pesan nampak masuk disaat ia membuka sebuah situs ilegal.
Ada yang bisa kami bantu?
****
__ADS_1
Keesokan harinya di Kampus
Terlihat Edrea dan juga Keira tengah melangkahkan kaki mereka menuju ke arah aula untuk mengikuti kegiatan kelas bisnis yang di buka secara umum selama seminggu di kampusnya. Sambil mengobrolkan segala hal, Kiera dan juga Edrea terus melangkahkan kakinya menyusuri setiap lorong kampus. Hingga kemudian karena terlalu fokus bercerita dan tidak memperhatikan jalan, tanpa sengaja Edrea menabrak seseorang hingga membuat orang tersebut jatuh dengan kertas yang berserakan di lantai koridor.
Bruk
"Ah maaf aku tidak sengaja, aku akan membantu mu..." ucap Edrea kemudian yang merasa bersalah karena telah menabraknya.
Mendengar perkataan Edrea barusan, sambil memunguti kertas miliknya yang berserakan di lantai, membuatnya langsung melirik ke arah Edrea dengan tatapan yang bertanya karena ia baru kali ini mendengar seseorang untuk membantunya.
"Jangan lakukan itu, biarkan saja!" ucapnya dengan ketus membuat gerakan tangan Edrea langsung terhenti seketika disaat mendengarnya.
Kiera yang tahu Edrea tersinggung akan perkataan seseorang yang ia tabrak, lantas langsung ikut berjongkok dan memunguti satu persatu kertas yang berserakan di lantai, dengan gerakan yang sedikit kasar Kiera mengambil kertas di tangan Edrea kemudian memberikannya kepada pria itu dengan raut wajah yang kesal.
"Jika ada seseorang yang ingin membantu mu hargailah, sikap mu itu sungguh melukai orang-orang yang ingin membantu mu!" ucap Kiera dengan nada yang menyindir ke arah pria itu.
Mendapat sindiran tersebut sama sekali tidak membuat pria itu minta maaf kepada Edrea, malah langsung berlalu pergi dan tak menggubris keduanya. Membuat Kiera lantas mengepalkan tangannya dengan kesal menatap ke arah kepergian pria itu.
"Sudahlah Kei... Biarkan saja oke, lagipula aku yang salah." ucap Edrea mencoba untuk mendinginkan suasana karena Kiera nampak sangat terlihat kesal akan tingkah laku pria tersebut.
"Benar-benar menyebalkan!" ucap Kiera dengan kesal.
Sedangkan Edrea lantas melirik sekilas ke arah kepergian pria itu yang kian terlihat menjauh dari keduanya.
"Mengapa auranya gelap sekali?" ucap Edrea.
Bersambung
__ADS_1