Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Bukan akhir yang sama


__ADS_3

Stasiun pemberhentian


Terlihat Mira tengah melangkahkan kakinya di ikuti dengan Wili di belakangnya yang senantiasa mengikuti kemanapun langkah kaki Mira pergi.


"Di mana lokasinya kali ini Wil?" tanya Mira kepada Wili.


Wili yang mendengar pertanyaan tersebut, lantas langsung mengeluarkan iPad dengan spontan dan melihat agenda Mira kali ini.


"Lokasinya ada di sebuah gedung tua, hanya saja entah mengapa gambar dan juga tulisan tentang arwah tersebut terkadang muncul namun juga terkadang menghilang, apa mungkin karena system yang sedang rusak madam?" ucap Wili sambil fokus menatap ke layar iPad.


"Bukan system yang rusak melainkan kematian yang di tangguhkan, akan ada penolong yang menyelamatkan arwah tersebut sebelum ajalnya tiba, sehingga kematiannya belum bisa di pastikan waktu dan alasannya." ucap Mira menjelaskannya secara singkat.


"Ah rupanya seperti itu, lalu jika kematiannya di tangguhkan untuk apa kita datang ke sana Madam? bukankah itu akan sia sia saja?" ucap Wili lagi.


"Tidak ada yang tahu pastinya apakah penolong tersebut benar benar datang atau tidak, hanya saja lima puluh banding lima puluh persentasenya, jadi sebagai penjemput arwah bukankah kita harus selalu bersiaga?" ucap Mira lagi sambil melirik sekilas ke arah Wili yang terlihat manggut manggut ketika mendengar penjelasan dari Mira barusan.


Pada akhirnya baik Mira maupun Wili, lantas langsung berteleportasi ke gedung tua tempat arwah tersebut akan di jemput.


**


Gedung tua


Mira dan Wili yang baru saja sampai di gedung tua lantas melangkahkan kakinya menuju ke tempat arwah tersebut, ada hawa aneh yang Mira rasakan ketika sampai di sana, Mira seperti merasakan aura seseorang yang sudah tercampur dan tercium dengan kuat menusuk indra penciumannya.


"Berjaga lah, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres." ucap Mira memperingati Wili.

__ADS_1


"Anda benar madam saya juga bisa mencium aroma aura itu." ucap Wili seakan langsung mengetahui maksud dari ucapan Mira barusan.


Mira dan Wili terus melangkahkan kakinya menyusuri area bangunan, hingga ketika jarak keduanya dengan arwah yang akan mereka jemput hanya berjarak beberapa meter lagi, baik Mira maupun Wili lantas terkejut bukan main di saat melihat pemandangan yang terpampang dengan jelas di depan mata keduanya.


"Apa yang tengah gadis itu lakukan? ah sial!" pekik Mira yang terkejut ketika melihat Edrea tengah menghisap dengan kuat energi milik pedagang asongan tersebut.


Mira yang melihat Edrea sudah tidak lagi terkontrol, lantas langsung melesat dan mendekat ke arah Edrea dengan cepat dan langsung menepuk pundak Edrea cukup kuat, hingga membuat Edrea dan juga pria itu terpental cukup jauh dalam jarak yang berbeda.


"Beraninya kau mengganggu kesenangan ku!" pekik Edrea sambil bangkit berdiri seakan akan ia tidak merasakan sakit sama sekali padahal tubuhnya sudah terhempas cukup jauh dan membentur area dinding gedung, mata Edrea kali ini bahkan sudah benar benar berwarna hijau sepenuhnya menandakan saat ini tubuh Edrea bukan lagi miliknya.


Mira benat benat terkejut ketika melihat manik mata Edrea yang sudah seperti manik mata ular, Mira bahkan sampai terdiam beberapa detik kemudian langsung berusaha untuk kembali fokus.


"Bawa pria itu pergi dari sini sekarang!" ucap Mira memberikan perintah kepada Wili yang langsung di balas Wili dengan anggukan kepala tanda mengerti.


"Jangan ikut campur dengan urusan ku!" pekik Edrea sambil melesat hendak menghentikan kepergian Wili, namun sayangnya langsung di tahan oleh Mira yang kembali menghempaskan tubuh Edrea agar tidak mendekat ke arah Wili.


Edrea yang mendengar ucapan dari Mira barusan, bukannya menjawab malah langsung bertelportasi ke belakang Mira dan membisikkannya sesuatu.


"Apa kau benar benar ingin mengetahuinya? sssss..." bisik Edrea sambil mendesis tepat di telinga Mira.


Sedangkan Mira yang mendengar bisikan tersebut, tentu saja dengan spontan langsung berbalik badan hendak memberi pelajaran kepada Edrea karena sudah bermain main dengannya, namun ketika Mira berbalik yang ia dapat hanyalah sebuah kekosongan semata.


"Kurang ajar kau!" pekik Mira dengan nada yang kesal karena melihat tingkah laku Edrea yang sudah sangat memancing emosinya.


Pada akhirnya pertarungan antara keduanya tidak lagi bisa di hindarkan, baik Edrea dan juga Mira saling beradu kekuatan dan energi mereka.

__ADS_1


Mira yang menghadapi kegilaan dari Edrea tentu saja terkejut bukan main ketika mengetahui Edrea memiliki energi sebesar ini, hingga berkali kali membuatnya terjatuh jika Mira tidak fokus.


Bruk...


Mira terpental cukup jauh hingga membentur dinding gedung tersebut, sedangkan Edrea malah tertawa dengan sinis sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mira yang tergeletak di lantau dan berusaha untuk bangkit, namun ia sedikit kesulitan karena energinya hampir terserap semua oleh Edrea.


"Siapa aku itu tidaklah penting, kau bukanlah tandingan ku jadi jangan mencampuri urusan ku!" ucap Edrea dengan nada yang dingin.


Sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mira, Edrea terus saja mendesis tak beraturan dengan sesekali menjulurkan lidahnya berulang kali. Hingga kemudian sosok Barra yang mendadak muncul tepat di hadapannya menghadang Edrea, lantas langsung menghentikan langkah kaki Edrea dengan seketika.


"Sudah cukup... hentikan segalanya!" ucap Barra dengan nada yang lirih.


"Kau datang juga rupanya Bar? apa kau ingin menghentikan ku?" ucap Edrea sambil menyeringai menatap ke arah Barra di sertai dengan suara desisan layaknya seekor ular..


"Jangan bermimpi!" pekik Edrea lagi yang lantas membuat Barra langsung dengan spontan menatap ke arah manik mata milik Edrea.


Pandangan keduanya bertemu selama beberapa detik, dari mata ular milik Edrea, Barra bisa melihat masa lalu antara dirinya, gadis berwajah mirip dengan Edrea hingga siluman ular hitam yang merasuki tubuh gadis itu.


Secercah sinar mendadak timbul dari jarak antara Edrea dan juga Barra, membuat Barra dengan seketika lantas tersadar dari lamunannya yangs sedari tadi menyelami manik mata Edrea.


Perlahan tapi pasti dari secercah cahaya itu samar samar sebuah belati mulai terlihat muncul di antara keduanya, membuat Barra menjadi terkejut bukan main ketika mengetahui kemunculan belati tersebut secara tiba tiba.


"Tidak mungkin ini saatnya bukan? aku tidak menginginkan akhir yang sama, tidak akan..." ucap Barra dalam hati ketika melihat bayangan samar dari belati tersebut.


Barra yang tidak menginginkan akhir kisah yang sama, sebelum belati tersebut benar benar terlihat dengan jelas, Barra langsung mengeluarkan segala energinya dan mendorong dengan kuat tubuh Edrea hingga terpental cukup jauh dan langsung membuat Edrea pingsan seketika itu juga.

__ADS_1


Bruk...


Bersambung


__ADS_2