
Stasiun Pemberhentian
Terlihat Edrea melangkahkan kakinya melewati lorong lorong Stasiun menuju ke arah keberangkatan dengan langkah kaki yang lebih ringan. Tidak ada lagi air mata yang mengiringi langkah kakinya. Cukup berat membangun perasaan dan meyakinkan diri sendiri bahwa kakek dan neneknya sudah bahagia, Edrea menghembuskan nafasnya secara berulang kali dengan perlahan, seakan mencoba untuk memberikan ketenangan kepada dirinya sendiri bahwa semua akan baik baik saja.
"Aku pasti bisa melakukannya" ucap Edrea pada diri sendiri seakan memberikan semangat untuknya agar bisa tegar menjalani kehidupan selanjutnya seorang diri.
Barra yang memang sedari tadi menunggu kedatangan Edrea di gerbong kereta, lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea untuk menanyakan apakah Edrea sudah siap melepaskan kedua orang yang berarti untuknya.
"Apakah kamu sudah siap?" tanya Barra kemudian.
Mendengar pertanyaan tersebut Edrea dengan mantap menganggukkan kepalanya dan memasang senyuman ke arah Barra, membuat Barra menjadi sedikit lebih lega ketika melihat wajah Edrea yang terlihat lebih segar dan juga berseri itu.
Sedangkan Mira yang terlihat melangkahkan kakinya yang di ikuti oleh dua sosok arwah yang di kenal oleh Edrea, lantas melangkahkan kakinya ke arah di mana Edrea dan juga Barra berada. Mira yang menuntun langkah kaki Sita dan juga Surya, kemudian lantas mempersilahkan keduanya untuk memasuki area gerbong dan melakukan perjalanan. Edrea menatap Sita dan juga Surya dengan pandangan mata yang berkaca kaca. Dengan langkah kaki yang perlahan Edrea mulai mendekat ke arah pembatas pintu dan menatap ke arah kakek dan neneknya yang kini tampak berseri wajahnya.
"Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya Oma.. Opa... aku berharap di kehidupan selanjutnya aku tetap terlahir sebagai cucu kalian berdua." ucap Edrea dengan nada yang lirih, membuat Sita dan juga Surya lantas saling pandang satu sama lain kemudian tersenyum ke arah cucunya untuk yang terakhir kalinya.
Suara pintu gerbong yang tertutup perlahan lahan memisahkan Edrea dan juga kakek neneknya, perlahan tapi pasti gerbong kereta mulai bergerak maju dan meninggalkan Edrea, Barra dan juga Mira yang memang masih berada di sana, lantas berdiri dengan tatapan yang masih fokus ke arah depan.
Kini Edrea benar benar sendiri, tidak ada lagi masakan rumahan spesial dari neneknya, tidak ada lagi suara teriakan pagi hari yang berasal dari neneknya, semua seakan lenyap begitu saja tanpa bisa Edrea cegah sama sekali kepergiannya.
Barra dan Mira yang melihat Edrea hanya terdiam di tempatnya, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan menepuk pundak Edrea, sehingga membuat Edrea langsung menoleh dengan seketika ke arah Barra dan juga Mira secara bergantian.
__ADS_1
"Tenanglah kamu gak sendirian, kami berdua ada bersama mu... ya gak Bar?" ucap Mira dengan senyum yang mengembang membuat Edrea langsung menatap ke arah Mira dengan tatapan yang menelisik.
"Ehem... tentu saja.." ucap Barra dengan malu malu.
Melihat tingkah Barra yang seperti itu, membuat Mira dan juga Edrea tertawa dengan seketika. Tidak ada lagi raut wajah kesedihan dalam diri Edrea saat ini, yang tersisa hanyalah sebuah perasaan merelakan dan juga ikhlas melepaskan.
Dengan langkah yang perlahan ketiganya kemudian melangkahkan kaki mereka meninggalkan tempat keberangkatan para arwah menuju ke alam atas. Obrolan ringan terus terdengar mengalir di sela sela langkah kaki mereka bertiga yang terkadang mengundang gelak tawa ketiganya. Edrea yang hanya memperhatikan Barra dan juga Mira lantas tersenyum dengan lepas, kepergian kakek dan neneknya mungkin bukanlah satu satunya kesedihan yang Edrea rasakan, namun kedatangan Mira dan juga Barra di hidupnya adalah satu satunya kebahagian yang pernah Edrea rasakan selama ini.
***
Satu bulan kemudian
"Baron apa kau sudah menemukan sesuatu?" tanya pria yang satunya.
"Kecilkan suara mu dan berhenti menyebut nama ku! apa kau ingin semua orang tahu bahwa aku yang merampok rumah mereka Pras?" ucap Baron dengan nada berbisik namun penuh penekanan.
"Kau saja juga memanggil namaku, lalu mengapa aku tidak boleh?" ucap Pras dengan nada yang sewot.
"Ku sabet juga pala kau, itu hanya sebuah contoh.. jadi diam dan jangan berisik!" ucap Baron lagi sambil mengangkat golok di tangannya hendak di arahkan kepada Pras namun urung.
Pras yang mendengar ucapan Baron barusan lantas langsung terdiam seketika, dengan menggunakan bahasa isyarat Baron kemudian mengkode Pras agar melangkahkan kakinya ke arah sebuah kamar yang terletak tidak jauh dari posisi mereka berada saat ini. Dengan langkah kaki yang perlahan, Baron dan juga Pras mulai membuka pintu dan masuk ke dalam kamar tersebut dengan mengendap endap.
__ADS_1
Baik Baron maupun Pras langsung bergerak dan membongkar almari untuk mencari beberapa perhiasan yang bisa mereka ambil, Pras yang berhasil menemukan sejumlah perhiasan dan uang tunai tentu saja girang bukan main, sambil mengangkat perhiasan ke arah Baron, Pras tersenyum dengan raut wajah yang cerah.
"Lihatlah.. betapa bodohnya orang kampung yang menyimpan perhiasannya di rumah ketimbang di bank, bukankah hal ini menguntungkan kita kita?" ucap Pras dengan tersenyum mengembang ke arah Baron.
"Kecilkan suara mu itu!" ucap Baron kembali mengingatkan Pras agar lebih berhati hati lagi.
Sementara itu tanpa mereka berdua sadari, tuan rumah yang kebetulan mendengar suara ribut ribut di kamarnya, lantas langsung bangun dan terkejut ketika mendapati dua orang pria asing bertopeng sedang mengodal adil isi lemarinya. Pemilik rumah tersebut langsung bangkit dari tempatnya dan mendekati kedua perampok tersebut dengan tangan kosong, tanpa sadar jika Baron membawa sebuah golok di tangannya.
"He apa yang kalian berdua lakukan di sini?" ucap Pemilik rumah dengan lantang, membuat Baron dan juga Pras lantas langsung menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar suara barusan.
"Gawat!" ucap Pras dengan nada yang lirih.
Pras dan Baron yang sudah tertangkap basah lantas berusaha untuk kabur, namun sayangnya istri pemilik rumah malah ikut bangun dari tidurnya dan langsung berteriak maling dengan suara yang keras. Baron yang bingung harus berbuat apa di saat saat seperti ini, lantas tanpa sadar mendorong pemilik rumah dan menebas kepalanya dengan golok yang langsung membuat pemilik rumah limbung dan jatuh dengan bersimbah darah. Tak tanggung tanggung Baron yang melihat istri pemilik rumah terkejut, lantas langsung melangkahkan kakinya dan menatap tajam ke arah wanita paruh baya itu.
"Maafkan kami, karena kau berisik maka kau terima konsekuensinya!" ucap Baron dengan nada yang dingin.
"Ti.. dak..."
Crash.....
Bersambung
__ADS_1