Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Suara kerincingan


__ADS_3

Galeri seni


Edrea dan juga Barra yang melihat lukisan milik Fernando sudah tidak ada di sana, lantas memutuskan untuk pergi ke pusat informasi dan bertanya tentang lukisan tersebut. Sayangnya ketika mereka bertanya perihal lukisan itu, seorang kurator dengan name tag Linda di dadanya mengatakan bahwa karya milik Steven Fernando sudah laku terjual baru ini. Pembeli yang sangat menyukai lukisan ini lantas menginginkan untuk lukisannya segera dikirim ke rumahnya.


"Bolehkah aku meminta alamat pembeli lukisan tersebut? Ini penting." ucap Edrea dengan nada yang memohon.


Mendengar permohonan tersebut Linda langsung terdiam, Linda tentulah tidak sekejam itu namun sayangnya peraturan yang melarangnya untuk memberikan informasi pribadi pembeli kepada umum, membuat Linda mau tidak mau pada akhirnya menolak permintaan dari Edrea barusan.


"Jika memang tidak bisa, bagaimana dengan nomer kontak saja ya... ada urusan yang harus saya selesaikan dengannya." ucap Edrea lagi tidak menyerah begitu saja.


"Saya minta maaf mbak." ucap Linda dengan nada yang tidak enak.


Edrea yang tidak mendapatkan ijin kemudian menatap ke arah Barra dengan tatapan yang cemberut, membuat Barra lantas menghela nafasnya dengan panjang. Di langkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea sambil menjentikkan jari tangannya, sehingga membuat Edrea menatap dengan bingung akan maksud dari tindakan Barra barusan.


"Carilah sekarang alamatnya." ucap Barra kemudian yang lantas membuat Edrea kebingungan.


"Maksudnya?" tanya Edrea tidak mengerti.


Barra kembali menghela nafasnya panjang ketika pertanyaan bodoh dari Edrea mulai terdengar di telinganya. Sambil mengangkat tangannya Barra mulai menunjuk ke arah sekitar yang lantas diikuti oleh Edrea. Hingga beberapa detik kemudian, Edrea yang baru sadar jika waktu disekitaran berhenti. Dengan senyum yang mengembang Edrea kemudian mulai berlarian menuju ke arah meja resepsionis sebelum waktu kembali berputar.


Edrea mencari segala informasi yang berhubungan dengan pembeli lukisan karya Steven di daftar pembeli maupun di komputer milik resepsionis Galeri seni tersebut. Dengan usaha yang pada akhirnya membuahkan hasil Edrea kemudian mendapatkan alamat beserta nomor telpon dari pembeli tersebut. Edrea mengangkat kertas tersebut tinggi-tinggi dan menunjukkannya kepada Barra, Barra yang melihat Edrea sudah mendapatkannya lantas langsung berteleportasi di sebelah Edrea, dipeluknya dengan erat bahu Edrea kemudian kembali berteleportasi dan menghilang dari sana, membuat Edrea yang sama sekali tidak mengerti apa-apa langsung terkejut seketika.


Tepat setelah Edrea dan juga Barra menghilang dari sana, waktu kembali berputar seperti semula. Linda yang belum selesai berbicara dengan Edrea lantas terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika melihat Edrea dan juga Barra sudah tidak ada lagi di hadapannya walau Linda mencarinya ke sana kemari.


"Apa kamu melihat dua orang tadi?" tanya Linda kepada penjaga resepsionis, namun keduanya langsung membalasnya dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Ah sudahlah, mungkin mereka sudah pergi tadi." ucap Linda pada diri sendiri kemudian melangkahkan kakinya pergi dari meja resepsionis.


***


Di sebuah pelataran rumah bertingkat yang entah di mana Edrea sama sekali tidak tahu tempatnya. Edrea dan juga Barra baru saja sampai setelah berteleportasi dari Galeri seni. Barra yang masih memeluk dengan erat pundaknya, lantas langsung membuat wajah Edrea kembali bersemu dan buru-buru melepaskan pelukan Barra dengan menggeser posisi tubuhnya sedikit ke samping.


"Bisakah kalau kamu mau berpindah tempat katakan sesuatu jangan mendadak seperti tadi?" ucap Edrea dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Barra.


Barra yang mendengar ucapan Edrea barusan tidak langsung menjawabnya begitu saja, Barra bahkan melangkahkan kakinya sedikit lebih ke depan sambil berkacak pinggang dan menatap ke arah rumah tingkat di hadapannya.


"Jika kita terlalu lama di sana maka kita akan dicurigai, lagi pula kamu hanya tinggal ikut bukan? Lalu apa masalah mu?" ucap Barra dengan nada yang santai sambil masih terus menatap ke arah rumah tersebut.


Entah mengapa rumah dihadapannya ini terasa ada aura yang janggal, namun ketika Barra berusaha untuk mencari tahu aura itu mendadak menghilang seperti terbawa angin, membuat Barra seakan merasa seperti sedang dikecoh mengingat aura yang ia rasakan terasa seperti tidak asing baginya.


Sedangkan Edrea yang melihat tingkah datar Barra tentu saja langsung berdecak dengan kesal. Sia-sia sudah Edrea bahkan sampai bersemu merah karena sikap Barra yang tiba-tiba memeluknya, jika tahu Barra melakukannya dengan sikap angkuhnya itu sudah tentu Edrea tidak akan bereaksi terlalu berlebihan seperti ini.


"Benar-benar menyebalkan!" gerutu Edrea sambil mencebikkan mulutnya.


Dengan langkah yang kesal Edrea mulai melangkahkan kakinya melewati Barra begitu saja, membuat Barra yang melihat langkah kaki Edrea yang melintasinya, lantas sedikit terkejut akan aksi dari Edrea.


"Mau kemana kamu?" tanya Barra dengan nada yang sedikit meninggi.


"Mau masuk dan mencari lukisan itu! Jika kamu hanya akan berdiri di sana daja silahkan, biar aku pergi mencarinya sendiri." ucap Edrea tanpa menoleh ke arah Barra sama sekali, membuat Barra hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat tingkah Edrea yang meninggalkannya itu.


"Sebenarnya ada apa dengan Rea hari ini? Mengapa ia hobi sekali meninggalkan ku?" ucap Barra pada diri sendiri sambil melangkahkan kakinya menyusul langkah kaki Edrea yang sudah lebih dulu jalan di depan meninggalkannya.

__ADS_1


***


Di area dalam rumah bertingkat tersebut.


Barra dan juga Edrea yang baru saja berteleportasi dan masuk ke dalam, lantas terlihat langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari keberadaan lukisan tersebut dan juga tentunya arwah Steven karena tujuan mereka ke sini adalah untuk menjemput Steven dan membawanya ke Stasiun Pemberhentian.


"Apa kamu menemukannya Bar?" tanya Edrea kepada Barra.


"Belum, sebaiknya kita berpencar saja." ucap Barra yang lantas di balas anggukan kepala oleh Edrea tanda setuju.


Setelah sepakat keduanya kemudian lantas berpencar, di mana Edrea mencari di bagian bawah sedangkan Barra di bagian lantai. Barra yang ke bagian mencari di lantai atas lantas langsung bergerak melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga menuju ke lantai atas.


Setelah kepergian Barra dari sana, Edrea mulai bergerak dan menyusuri area bawah dengan tatapan yang menelisik mencari keberadaan arwah Steven di sana.


Krincing... krincing....


Sebuah suara seperti gembok yang beradu dengan lantai keramik, lantas menghentikan langkah kaki Edrea yang sibuk mencari keberadaan arwah Steven sedari tadi.


"Siapa di sana?" ucap Edrea kemudian ketika merasa ada sesosok bayangan yang melintas di belakangnya dengan cepat disertai dengan bunyi kerincingan gembok yang diseret.


Suasana mendadak menjadi hening dan mencekam ketika Edrea berbalik badan dan tak menemukan siapapun di belakangnya. Edrea menelan salivanya dengan kasar ketika ia merasa ada yang tidak beres di ruangan tersebut.


Tolong aku....


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2