
Jaya yang merasa tidak asing akan sosok dari Edrea, lantas langsung dengan spontan menghentikan langkah kakinya dan berbalik arah, sedangkan Edrea yang memang tidak menyadari akan kehadiran Jaya hanya terus melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan keadaan di sekitarnya.
"Mengapa aku seperti tidak asing dengan gadis itu?" ucap Jaya pada diri sendiri sambil terus menatap ke arah di mana Edrea tengah berada saat ini.
Beberapa menit berkutat dengan pemikirannya dan mencoba untuk kembali mengingat ingat tentang sosok Edrea, namun sayangnya Jaya tidak kunjung menemukan jawaban akan pertanyaannya itu.
"Sudahlah... mungkin nanti aku akan mengingatnya seiring dengan berjalannya waktu." ucap Jaya kemudian berlalu pergi meninggalkan lorong kampus menuju ke ruangan dekan untuk membahas tentang mayat tua yang kembali di temukan tadi pagi di gudang belakang.
**
Edrea melangkahkan kakinya mendekati Kiera yang kini terlihat tengah duduk seorang diri di bangku taman yang letaknya tidak jauh dari lorong kelas.
"Gimana Ki?" tanya Edrea sambil mengambil duduk di sebelah Kiera.
"Ini gila sih kalau menurut ku Rea! Kamu bayangin aja seorang Arhan yang badannya tinggi tegap dengan badan yang berisi, mendadak di temukan tewas dengan tubuh yang hanya tersisa kulit dan tulangnya saja, benar benar kayak kakek kakek." ucap Kiera memulai ceritanya.
Sedangkan Edrea yang mendengar hal tersebut, hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang karena terkejut sekaligus langsung bisa menebak siapa dalang di balik ini semua.
"Apa yang sebenarnya di lakukan Fano pada mangsanya? mengapa semua korban Fano mempunyai ciri ciri yang sama persis?" ucap Edrea dalam hati bertanya tanya ketika mendengarkan ucapan Kiera barusan.
Kiera yang sedari tadi bercerita, lantas langsung menghentikan ucapannya dan dengan spontan menoleh ke arah samping karena tidak mendengar jawaban apapun dari Edrea sedari tadi.
Kiera yang melihat Edrea hanya melamun sedari tadi, lantas langsung sedikit menggoyang lengan Edrea, membuat Edrea langsung tersadar dari lamunannya.
"Rea... apa kau mendengar ku? aku bahkan sudah bercerita panjang kali lebar sedari tadi tapi kau malah asyik melamun menyelami pikiran mu, benar benar menyebalkan!" ucap Kiera sambil mencebikkan mulutnya ketika melihat Edrea hanya diam saja sedari tadi ketika di ajak bicara.
__ADS_1
"Aku minta maaf Ki... aku denger kok.. denger semua..." ucap Edrea berusaha membujuk Kiera agar tidak lagi ngambek, membuat Kiera yang mendengar ucapan Edrea barusan lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah.
"Hilih jangan ngibul kau, kalau memang benar benar kamu mendengarnya... katakan apa yang baru saja aku katakan." ucap Kiera dengan nada yang kesal seakan tidak percaya begitu saja akan ucapan dari Edrea barusan.
"Aku dengar kok, kamu berbicara tentang penemuan mayat tersebut... kemudian Arhan... dan... dan..." ucap Edrea sambil mengingat ingat apa saja yang di bicarakan oleh Kiera tadi.
"Ah sudahlah kamu selalu saja begitu..." ucap Kiera dengan nada yang ketus.
"Sudah sudah dari pada ngambek begitu mending temenin aku ke perpus yuk nanti pulangnya aku traktir." ucap Edrea mencoba merayu Kiera agar mau menemaninya sekaligus mengalihkan perhatiannya agar tidak terlalu fokus pada penemuan mayat tersebut.
Kiera yang mendengar kata traktir keluar dari mulut Edrea lantas langsung girang bukan main.
"Kau sungguh sungguh akan mentraktir ku?" ulang Kiera lagi seakan takut salah dengar.
"Iya"
"Dasar"
***
Ruang Dekan
Di ruangan tersebut, kini sudah terlihat Jaya dan juga Fahri tengah berbincang masalah penemuan mayat tadi pagi. Pembicaraan mereka berlangsung cukup lama dan tanpa jeda, membuat suasana kian terasa seperti sebuah interogasi karena Jaya yang terus mencecar Fahri dengan berbagai pertanyaan yang terus berputar putar seakan sengaja untuk menjebak lawan bicaranya.
"Bukankah harusnya anda juga memasang kamera pengawas di sekitar area gudang? mengingat kejadian seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya? bukankah itu sedikit aneh? atau memang anda sedang menutupi sesuatu?" ucap Jaya yang seakan masih penasaran akan teka taki yang terdapat dalam kasusnya kali ini.
__ADS_1
Fahri yang terus terusan di sudutkan hanya bisa tersenyum dan terus berusaha tetap tenang, Fahri tahu dengan jelas bahwa petugas polisi di hadapannya kini tengah mencari pelaku di balik kematian dua orang mahasiswa atas motif yang sama, jangan sampai ketika Fahri lelah dan tanpa sengaja emosi malah memicu kecurigaan lain untuk Jaya.
"Kami sedang mempersiapkannya pak, teknisi yang akan memasang kamera pengawas tersebut akan datang dua hari lagi." jawab Fahri dengan nada yang tenang, membuat Jaya lantas terdiam seketika mendengar jawaban dari Fahri barusan.
"Jika boleh saya tahu jam berapa korban terakhir kali terlihat di kampus?" ucap Jaya kembali membuka pertanyaan.
"Saya rasa pertanyaan ini harusnya tidak di tanyakan kepada saya melainkan kepada dosen yang memberikan kelas pada hari itu. Saya di sini hanyalah seorang Dekan yang tidak memberikan kelas sama sekali pada hari itu, jika anda begitu penasaran akan kegiatan Arhan sebelum kematiannya, saya bisa memanggilkan beberapa mahasiswa dan dosen yang waktu itu berinteraksi dengan Arhan sebelum kematiannya, daripada anda terus bermain tebak kata bersama saya di sini, bukankah begitu bapak polisi yang terhormat?" ucap Fahri dengan nada penuh penekanan di setiap kata katanya karena terlalu kesal akan ucapan Jaya yang terus terusan menyudutkannya.
Jaya yang mendengar jawaban panjang dari Fahri, hanya tersenyum kemudian bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Saya rasa ide anda tidaklah buruk, haturkan saja semuanya pak... saya akan datang kembali besok untuk bertemu orang orang tersebut. Untuk kali ini saya rasa cukup sampai di sini, saya permisi dulu..." ucap Jaya kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan dekan tersebut.
***
Kantor polisi
Di meja kerjanya, Jaya nampak duduk dengan termenung menatap ke arah satu persatu foto tentang korban pada kasus kematian aneh yang sudah dua kali terjadi di kampus tersebut.
Jaya kini bahkan benar benar di buat bingung karena baru pertama kalinya menemukan kasus buntu seperti ini, seakan akan tidak ada clue atau bahkan jalan keluar akan kasus yang sedang ia pegang saat ini.
"Mengapa aku merasa seperti blank?" ucap Jaya kemudian pada diri sendiri.
Di tengah tengah rasa kebingungan yang menyelimutinya, seorang rekan kerjanya mendadak berhenti di mejanya dan melirik sekilas ke arah foto korban pada kasus miliknya.
"Kau sedang menangani kasus ini? ini kasus di salah satu Universitas ternama di Indonesia bukan?" ucap Reno rekan satu divisi dengannya, membuat Jaya yang sedari tadi duduk termenung, lantas langsung mendongak ke arah Reno karena cukup terkejut bahwa Reno mengetahui tentang kasus ini.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Bersambung