
Ruangan Barra
Di ruangannya terlihat Barra tengah asyik memutar gelas yang berisi wine di tangannya. Entah mengapa perasaan Barra kali ini terasa sangat gelisah. Dadanya berdenyut nyeri sedari tadi membuat Barra sama sekali tidak bisa diam dan terus bergerak ke sana ke mari.
Diminumnya wine tersebut secara perlahan kemudian kembali ia putar gelas itu searah jarum jam.
"Apa yang sebenarnya tengah terjadi? mengapa aku sangat gelisah sekali?" ucap Barra pada diri sendiri.
Hingga ketika Barra berada di ambang kebingungan, sebuah penglihatan mendadak terlintas di benaknya membuat Barra langsung terdiam seketika ketika mendapat penglihatan tersebut.
Di dalam penglihatannya Barra melihat Edrea tengah berada di sebuah ruangan yang gelap di mana di sana terdapat juga Fano, seorang gadis dan juga Max di dalam penglihatannya. Bayangan tersebut begitu cepat dan melintas begitu saja dalam benak Barra, membuat Barra lantas terdiam seketika mencermati setiap penglihatan yang baru saja ia terima.
"Apa yang tengah terjadi?" ucap Barra ketika mendapat penglihatan tersebut.
"Pasti ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi saat ini." imbuhnya lagi sambil meletakkan gelas wine di atas meja dan bersiap untuk pergi dan mengecek keadaan.
***
Kembali ke area gudang
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Edrea kemudian dengan manik mata yang tajam menatap ke arah Fano.
Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Edrea lantas membuat Fano langsung tertawa dengan geli.
Hahaha
Beberapa detik tertawa dengan lepas Fano kemudian lantas mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya karena tawa yang berlebihan, dan perlahan lahan mulai menghentikan tawanya begitu saja dan langsung merubah tatapannya menjadi lebih serius.
__ADS_1
"Siapapun aku itu tidaklah penting, bukankah begitu Edrea?" ucap Fano dengan nada yang datar kemudian langsung melesat begitu saja dan mendekat secara cepat ke arah Edrea dan juga Kiera tanpa peringatan sebelumnya.
"Awas!" teriak Kiera ketika melihat tubuh Fano melesat dengan cepat mendekat ke arahnya, yang lantas membuat Edrea langsung menoleh seketika ke arah Fano.
Edrea yang takut akan melukai Kiera, tepat setelah Fano menyentuh tubuhnya, Edrea sengaja berteleportasi ke suatu tempat agar Kiera selamat dan terhindar dari sosok Fano.
Max yang melihat Edrea dan juga Fano berteleportasi, langsung bergerak hendak mengejar keduanya namun gagal karena sosok Barra yang tiba tiba datang dan menghadangnya tepat sebelum Max berhasil menyusul Fano dan juga Edrea.
"Tidak perlu kau kejar, biar aku yang akan mengurusnya. Kau uruslah saja dia... pastikan dia tidak mengingat apapun tentang kita." ucap Barra memberikan perintah kepada Max sambil menunjuk ke arah Kiera yang terlihat tengah kebingungan ketika melihat Edrea dan juga Fano tiba tiba menghilang dari hadapannya.
"Baik tuan" jawab Max yang mengerti akan perintah dari Barra barusan.
Setelah memberikan perintah kepada Max, Barra kemudian lantas menjentikkan jarinya dan berteleportasi menyusul Fano dan juga Edrea yang sudah menghilang terlebih dahulu, walau kedatangannya akan memakan waktu yang cukup lama namun Barra akan berusaha secepat mungkin untuk datang dan menolong Edrea di manapun ia berada.
"Semoga saja aku sempat menolongnya." ucap Barra dalam hati sambil menjentikkan jarinya dan mulai berteleportasi.
"Bangunlah..." perintah Max yang lantas membuat Kiera kembali di buat terkejut karena kehadiran Max yang tiba tiba muncul di hadapannya.
"Siapa kau?" tanya Kiera kemudian dengan raut wajah yang penasaran akan sosok pria berpakaian serba hitam yang kini tengah berdiri di hadapannya.
Max yang mendengar pertanyaan tersebut sama sekali tidak menjawab maupun menyanggah pertanyaan itu, yang Max lakukan malah langsung mengarahkan telapak tangannya ke arah wajah Kiera dan mulai menghipnotis Kiera agar melupakan semua kejadian yang telah Kiera lihat hari ini.
"Mulai sekarang kau akan lupa alasan kau datang ke sini dan segala hal yang telah terjadi, tidak ada yang kau lihat selain hanya gudang kosong yang tidak berpenghuni." ucap Max memberikan sugesti kepada Kiera.
Kiera yang mendengarkan ucapan Max hanya diam sambil mengangguk saja, seakan langsung mengerti dan mengiyakan ucapan dari Max tanpa memprotes atau mengucapkan sepatah kata apapun lagi.
"Sekarang kembalilah ke rumah mu, pulang dan beristirahatlah." ucap Max lagi yang kembali di balas anggukan oleh Kiera tanda mengerti.
__ADS_1
Kiera kemudian lantas bangkit dari tempatnya dengan tatapan yang kosong kemudian melangkahkan kakinya perlahan lahan keluar dari area gudang begitu saja mengikuti instruksi yang telah di berikan oleh Max barusan.
"Sudah selesai, saatnya aku kembali ke Stasiun Pemberhentian." ucap Max sambil menjentikkan jarinya dan menghilang dari sana.
***
Sementara itu Edrea dan juga Fano berteleportasi ke sebuah bangunan gedung tua yang sudah terbengkalai. Edrea yang sudah merasa aman lantas mendorong tubuh Fano dengan energi yang di milikinya.
Fano terpelanting mundur beberapa langkah ke belakang karena dorongan yang di lakukan oleh Edrea barusan. Seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Fano ketika melihat tatapan tajam yang berasal dari Edrea di mana saat ini tengah menghunus tajam tepat ke arahnya.
Fano yang mendapat tatapan tajam lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dengan perlahan, sehingga membuat Edrea yang mulai merasa ketakutan lantas mulai mengambil langkah mundur mencoba untuk menghindari Fano yang terus melangkah maju ke arahnya.
"Kau itu hanyalah wanita yang bodoh! sejak awal kau sudah di perbudak oleh Barra... tidakkah kau menyadarinya?" ucap Fano dengan nada yang setengah mengejek, membuat Edrea yang mendengar ucapan Fano barusan lantas terkejut karena Fano mengetahui tentang Barra.
"Siapa kau sebenarnya? aku tahu kau bukanlah Fano.. di mana Fano?" teriak Edrea kemudian dengan nada yang setengah berteriak.
"Hahahaha Fano sudah mati cukup lama, yang ada saat ini hanya aku... bagian dari masa lalu mu!" ucap Fano dengan tawa yang menggema memenuhi area gudang tersebut, membuat Edrea semakin kebingungan ketika mendengar jawaban dari Fano saat ini.
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Edrea yang tidak mengerti akan ucapan dari sosok yang menyerupai Fano tersebut.
Fano yang kembali mendengar pertanyaan dari Edrea, lantas langsung berteleportasi dan berhenti tepat di belakang Edrea dengan gerakan yang cepat sambil terus mendesis layaknya seekor ular.
"Baiklah akan ku tunjukkan kejadian di masa lalu antara kau dan juga Barra." ucap Fano dengan nada yang setengah berbisik tepat di telinga Edrea, kemudian tanpa aba aba langsung menggigit area leher Edrea, membuat Edrea yang tidak menyadari hal itu lantas di buat terkejut ketika sebuah taring tertancap tepat di area lehernya.
"Aaaaaaaaaa" teriak Edrea ketika Fano tanpa aba aba menggigit lehernya.
Bersambung
__ADS_1