Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Biarkan aku melihatnya!


__ADS_3

Edrea yang menebak bahwa sosok roh Sari berada di Rumah Sakit, lantas langsung berteleportasi ke Rumah Sakit dan melangkahkan kakinya dengan terburu-buru menuju ke arah ruang perawatan Sari dengan langkah kaki yang bergegas. Hanya saja sayangnya langkah kaki Edrea lantas terhenti seketika, di saat ia melihat Max dan juga Wili sedang berdiri tepat di pintu masuk ruang perawatan Sari, membuat segala pikiran negatif kini mulai menghampirinya.


Edrea yang melihat kehadiran Max dan juga Wili di sana, lantas langsung mempercepat langkah kakinya menuju ke arah ruang perawatan Sari meski sebenarnya Edrea tahu dengan pasti apa yang telah terjadi saat ini dengan sosok roh Sari, namun Edrea yang sudah terlalu terbawa emosi menginginkan sesuatu yang lain dan bukan akhir yang seperti ini.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" ucap Edrea dengan seketika membuat Max dan juga Wili lantas langsung terkejut di saat melihat kehadiran Edrea yang tiba tiba itu.


Mendengar ucapan Edrea barusan, membuat Max dan juga Wili lantas langsung saling pandang satu sama lainnya, sedangkan Edrea yang melihat tingkah aneh keduanya malah semakin di buat curiga dan berpikir apa yang ada di benaknya kali ini benar benar terjadi. Hingga ketika pandangan Edrea menembus masuk ke dalam melewati celah celah pintu ruang perawatan tersebut, Edrea lantas di buat terkejut ketika melihat Mira dan juga Barra tengah berbicara dengan sosok roh Sari saat ini.


Edrea yang sudah mengetahui kondisinya, lantas langsung melangkahkan kakinya hendak berusaha masuk ke dalam untuk melihat keadaan Sari, namun Max yang mengetahui hal itu langsung berusaha mencegah Edrea agar tidak sampai masuk ke dalam ruangan tersebut, membuat Edrea sedikit merasa kesal karena Max malah menghalangi jalannya.


"Menyingkir dari sana Max jangan halangi jalan ku!" ucap Edrea sambil berusaha masuk ke dalam ruang perawatan Sari, namun Max masih tetap berusaha mencegahnya agar tidak masuk.


"Sebaiknya kamu tidak masuk ke dalam karena itu akan lebih baik." ucap Max sambil menghalangi Edrea agar tidak sampai masuk ke dalam.


Edrea yang tidak ingin kalah dengan Max, lantas langsung mendorong tubuh Max hingga membuatnya sedikit mundur ke belakang, sedangkan Wili yang melihat Max sudah mulai kewalahan menangani Edrea, lantas mulai turun tangan dan membantu Max memegangi Edrea agar tidak sampai masuk ke dalam.


"Aku akan membawanya pergi, kau jagalah di sini." ucap Max kemudian kepada Wili sambil memegangi Edrea dengan erat agar ia tidak melarikan diri.

__ADS_1


"Lepaskan aku Max... lepaskan!" ucap Edrea berusaha memberontak agar Max melepaskannya dan membiarkannya masuk.


Wili yang mendengar ucapan Max tersebut lantas langsung dengan spontan mengangguk dan mengiyakan ucapan dari Max, setelah melihat anggukan kepala dari Wili, Max kemudian melirik sekilas ke arah dalam ruang perawatan tersebut sebelum pada akhirnya menghilang dari sana dan berteleportasi ke sebuah tempat, membawa Edrea pergi menjauh sesuai dengan perintah dari Barra sebelumnya.


**


Ruangan Barra


Max kemudian lantas melepaskan cengkraman tangannya ketika keduanya sudah berhasil sampai di ruangan Barra, membuat Edrea langsung menatapnya dengan tatapan yang tajam, karena Max malah membawanya ke mari dan tidak mengijinkannya untuk masuk ke dalam ruang perawatan itu untuk melihat keadaan Sari di sana.


"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan sih? aku hanya ingin melihat keadaan Sari saja, mengapa kau malah menghalangi dan membawa ku ke sini?" pekik Edrea dengan nada yang kesal akan tingkah dari Max yang malah membawanya ke Stasiun Pemberhentian tanpa alasan yang jelas.


Edrea yang mendengar jawaban dari Max, tentu saja semakin di buat kesal karena Max sama sekali tidak menjelaskan apapun dan semakin menambah emosi dirinya. Edrea menjambak rambutnya dengan kasar kemudian menatap tajam ke arah Max, membuat Max langsung menelan salivanya dengan kasar ketika melihat tatapan tajam dari Edrea barusan.


"Kau itu tidak tahu apa apa? dengan membiarkan Sari pergi seperti itu sama saja dengan aku melakukan sebuah kebodohan, kau tahu tidak bagaimana rasa bersalah yang memenuhi hatimu di kala melihat kepergian seseorang? katakan padaku... apa kau tahu bagaimana rasanya? jangan hanya diam dan mengatakan bahwa kamu hanya menjalankan tugas seperti itu? aku bisa sangat menyesal jika sampai Sari meninggal karena kesalahan ku, tidakkah kamu tahu?" ucap Edrea pada akhirnya meluapkan keluh kesahnya yang sedari tadi ia pendam.


Edrea benar benar tidak tahu lagi harus bagaimana menjelaskannya kepada Max agar Max mengerti tentang kondisinya saat ini, namun Edrea juga benar benar tidak bisa jika harus menanti dan hanya diam menunggu seperti ini sedangkan Edrea tahu bahwa dirinya sudah membuat kesalahan yang fatal, bukankah jika begini sama halnya dengan Edrea sudah menghilangkan nyawa seseorang?

__ADS_1


Edrea yang mulai frustasi kemudian mengambil posisi berjongkok sambil menyembunyikan kepalanya pada kedua lututnya yang di tekuk, Edrea menangis dengan tersedu di sana tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa, sedangkan Barra sama sekali tidak mengijinkan Edrea untuk melihat keadaan Sari dan malah menyuruh Max untuk menahannya di sini. Tidakkah Barra begitu tidak adil padanya?


***


Stasiun pemberhentian


Setelah dari Rumah Sakit menjemput arwah Sari dan langsung mengantarkannya ke Apartment singgah untuk menunggu prosesi selanjutnya. Mira dan Barra nampak melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Barra, namun ketika keduanya melangkahkan kakinya, Mira lantas menarik tangan Barra sehingga langsung menghentikan langkah kaki Barra.


Barra menatap ke arah Mira dengan tatapan yang bertanya tanya ketika melihat raut wajah khawatir Mira saat ini.


"Ada apa?" tanya Barra kemudian yang lantas membuat Mira berpikir sejenak karena ragu ketika hendak mengatakannya.


"Em apakah menurut mu Edrea akan baik baik saja?" tanya Mira kemudian dengan nada yang ragu ragu.


Barra yang mendengar ucapan Mira barusan lantas langsung terdiam, jika mengingat watak dari Edrea yang selalu saja terlalu masuk ke dalam suatu hal dengan rasa simpatik yang berlebihan, Barra yakin kegagalannya kali ini pasti akan membuat pengaruh besar untuk Edrea. Barra menghembuskan nafasnya dengan panjang kemudian menatap ke arah Mira yang masih memasang raut wajah yang khawatir kepadanya.


"Apa kau mau mencoba untuk menenangkannya? lakukanlah tugas mu sebagai seorang kakak, meski di masa sekarang kamu tidak lagi menjadi seorang kakak dari Edrea, namun setidaknya kalian berdua pernah memiliki ikatan di masa lalu, bukan?" ucap Barra kemudian sambil memegang bahu Mira dengan pelan seakan berusaha meyakinkan Mira.

__ADS_1


"Apa kamu yakin aku bisa?" ucap Mira kemudian bertanya tanya.


Bersambung


__ADS_2