
Rumah Sakit
"Barra!" pekik Edrea dengan nada yang sangat kencang sambil bangkit dari posisi tidurnya.
Kiera yang memang dalam posisi hampir tertidur di sofa mendengar teriakan Edrea barusan, lantas membuat Kiera terkejut dengan seketika. Kiera yang melihat Edrea sudah siuman kemudian mulai melangkahkan kakinya dengan langkah laki yang bergegas mendekat ke arah Edrea sambil berusaha menenangkan Edrea yang nampak terlihat begitu histeris saat ini. Kiera memeluk tubuh Edrea dengan erat berusaha untuk memberi ketenangan kepada Edrea yang saat ini tengah menangis dengan tersedu-sedu.
"Tenanglah Re... Tenanglah ada aku di sini... Tenanglah..." ucap Kiera secara berulang kali sambil terus mengusap pundak Edrea berulang kali mencoba untuk menenangkannya.
"Barra Kie... Barra..." ucap Edrea dengan nada yang sesenggukan.
Mendengar sebuah nama disebut oleh Edrea lantas membuat Kiera terkejut dengan seketika. Kiera bahkan sampai mengernyit dengan seketika disaat sebuah nama yang asing di pendengarannya terdengar keluar dari mulut Edrea sambil terus menangis tanpa henti.
"Barra? Barra siapa?" tanya Kiera dengan raut wajah yang bingung.
Sedangkan Edrea yang mendengar perkataan dari Kiera barusan tentu saja langsung menghentikan tangisannya dengan seketika, dilepaskannya pelukan Kiera secara perlahan kemudian sambil menatap ke arah Kiera dengan tatapan yang bertanya-tanya seakan tidak mengerti akan maksud dari perkataan Kiera yang malah mempertanyakan tentang siapa Barra. Bukankah Barra dan juga Kiera pernah bertemu selama beberapa kali? Bagaimana bisa Kiera malah menanyakan tentang Barra?
"Barra Ki... Apa kamu sungguh tidak mengenalinya? Kalian bahkan beberapa kali bertemu, bagaimana bisa kamu malah menanyakannya seakan-akan kamu tidak mengenalinya?" ucap Edrea dengan nada yang kesal namun malah membuat Kiera semakin kebingungan karena ia benar-benar tidak mengerti akan Barra yang dimaksud oleh Edrea sedari tadi.
"Cobalah untuk tenang Re... Mungkin pikiranmu saat ini masih belum sepenuhnya normal, kamu bahkan baru saja bangun setelah satu minggu kemudian. Aku yakin kamu masih butuh waktu untuk memulihkan dirimu terlebih dahulu Re." ucap Kiera sambil terus berusaha menenangkan Edrea.
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Kiera barusan membuat Edrea terkejut bukan main. Edrea bahkan merasa baru sebentar berada di hutan itu namun Kiera malah mengatakan bahwa sudah berlalu seminggu kemudian. Bukankah ini sangat aneh? Kiera yang melihat Edrea nampak terdiam sambil menatapnya dengan tatapan yang bingung.
"Seminggu? Bagaimana bisa?" tanya Edrea dengan tatapan yang bingung.
"Iya, seminggu yang lalu kamu ditemukan pingsan di gudang belakang oleh Satpam, apa yang sebenarnya terjadi Re? Apakah ada sesuatu?" ucap Kiera kemudian menjelaskan namun berhasil membuat Edrea terdiam seketika.
"Tidak mungkin Barra telah pergi selama itu, ini tidak mungkin terjadi." ucap Edrea dalam hati tanpa bisa mengeluarkan unek-uneknya saat ini.
***
Stasiun kereta
Edrea terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah papan pengumuman tersebut kemudian menggerakkan tangannya menyentuh papan tersebut. Diusapnya perlahan papan pengumuman tersebut dengan manik mata yang berkaca-kaca.
"Bagaimana aku bisa mencari keberadaan mu kembali Bar? Apa kamu masih ada di sana?" ucap Edrea dalam hati sambil masih memegang papan pengumuman tersebut.
Edrea mencoba memejamkan matanya secara perlahan sambil memfokuskan pikirannya berharap dengan begitu ia bisa mempunyai akses masuk ke dalam Stasiun pemberhentian. Namun sayangnya meski Edrea berusaha sekuat apapun mencoba ia tetap tidak bisa masuk ke dalamnya. Edrea yang mengetahui usahanya hanyalah sia-sia saja lantas langsung mengambil posisi berjongkok sambil menangis dengan tersedu. Edrea benar-benar tidak bisa jika harus seperti ini, jika Edrea tidak lagi memiliki akses ke Stasiun pemberhentian, bukankah ini tidak adil bagi Edrea? Edrea yang merasa mempunyai keluarga baru setelah kepergian Arsa lantas menjadi sendu ketika mendapatkan fakta bahwa kini ia telah sendirian.
Air mata mengalir dengan deras di pipi Edrea, membuat Edrea hanya duduk berjongkok sambil menatap ke arah papan pengumuman tersebut. Edrea bahkan sudah tidak lagi menghiraukan tatapan orang-orang yang melihat begitu aneh ke arahnya. Baginya kehilangan Barra, Mira, Max, dan juga Arya begitu membuat hatinya terpukul dengan keras.
__ADS_1
"Apakah ini yang menurut mu kembali ke kehidupan yang normal? Kau benar-benar jahat Bar... Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup ku jika seperti ini? Ini bukanlah kehidupan yang aku inginkan!" ucap Edrea dengan nada yang sendu sambil membawa wajah masuk ke dalam kedua lututnya.
Edrea sudah tidak lagi bisa berkata-kata, apa yang terjadi kepadanya benar-benar seperti sebuah misteri yang lewat dengan cepat dan berakhir begitu saja tanpa ia minta. Edrea sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil kemudian Opanya lalu disusul Oma Arsa dan sekarang semua orang yang sudah mengisi hari-harinya selama satu tahun belakangan ini harus kembali ikut pergi meninggalkannya tanpa ia minta sedikitpun.
"Bagaimana aku bisa hidup jika seperti ini? Apakah Dia benar-benar membenciku hingga memberiku cobaan yang begitu berat seperti ini?" ucap Edrea dengan nada yang tersendat-sendat.
Air mata Edrea terus menetes dan menetes, sampai kemudian sebuah air mata yang berasal dari Edrea perlahan terlihat mulai menetes dan jatuh ke lantai. Ketika air mata tersebut mengenai lantai sebuah kilauan cahaya putih kecil nampak terlihat namun sama sekali tidak disadari oleh Edrea ataupun orang-orang yang tengah berlalu lalang saat ini.
Edrea yang tidak mendapatkan apapun dari sana perlahan mulai bangkit dari posisinya, sambil mengusap air matanya dengan kasar Edrea mengusap papan pengumuman tersebut sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Stasiun tersebut.
***
Sementara itu di suatu tempat dengan cahaya yang begitu terang terlihat Barra mukai mengerjapkan matanya dengan perlahan ketika sebuah suara seperti membangunkannya. Barra yang semula seperti tertidur perlahan-lahan mulai bangkit dari posisinya ketika cahaya terang itu nampak semakin mendekat ke arahnya.
Aku memberikan mu kesempatan kedua, sebuah kesempatan yang mungkin bisa kamu anggap sebagai sebuah anugrah atau malah sebuah kehancuran. Semua itu tergantung dari sudut pandang mana kamu melihatnya, berbahagialah dan lakukan kebaikan sampai akhir kisah hidup mu.....
Tepat setelah sebuah suara tersebut terdengar secercah cahaya nampak timbul dan menelannya dengan cepat. Membuat Barra yang tidak tahu apa yang tengah terjadi lantas hanya bisa terdiam sambil mengikuti segala hal yang terjadi kepadanya.
Bersambung
__ADS_1