
"Sialan kau!" ucap Dora sambil menahan gejolak rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya.
Mendengar sumpah serapah dari Dora barusan membuat Barra lantas tersenyum dengan sinisnya. Dikeluarkannya sebuah ponsel dengan menjentikkan jari tangannya kemudian langsung diarahkan kepada Dora seakan ingin mulai merekamnya. Sedangkan Dora yang melihat apa yang dilakukan oleh Barra saat ini, lantas bertanya-tanya sambil menggeliat menahan rasa sakit di dalam dirinya Dora mulai menatap ke arah Barra.
"Ap..pa yang kau lakukan?" ucap Dora kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Hanya merekam mu, bukankah selama masa hidup mu ini yang selalu kau lakukan kepada orang-orang yang sekarat?" ucap Barra dengan nada yang enteng.
Mendengar perkataan Barra tentu saja membuat Dora terkejut seketika, sambil merayap mendekat ke arah dimana Barra berada Dora terlihat berusaha meraih kaki Barra, namun Barra malah bangkit dari posisinya dan menendang tubuh Dora hingga ia terjungkal beberapa kali. Barra tersenyum melihat tingkah Dora yang seperti ikan kehabisan napas di daratan. Setidaknya dengan seperti itu Dora bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Edrea dan juga korban-korbannya yang telah ia ambil vidio mereka tanpa seijin mereka.
"Bagaimana rasanya? Apa kau sudah tahu sebuah rasa mendekati kematian?" ucap Barra dengan senyuman yang mengejek.
"Ak...aku... sakit...." ucap Dora sambil meremas area dadanya yang terasa begitu menyakitkan seperti di tusuk berpuluh-puluh jarum di dadanya.
"Ada apa? Apa kau sekarang sudah menyesali perbuatan mu?" tanya Barra kemudian yang melihat Dora seperti sedang sekarat.
Mendengar perkataan Barra barusan membuat Dora kembali merayap ke arah Barra, mencoba untuk meraih kaki Barra dengan mengeluarkan sekuat tenaganya yang masih tersisa. Sedangkan Barra yang melihat hal tersebut hanya tersenyum dan menanti kedatangan Dora yang saat ini hampir berhasil menggapai kedua kakinya.
Dengan gerakan yang perlahan dan tertatih Dora mulai memegang dengan erat kaki Barra dan memohon ampun. Rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya membuatnya menjadi jera dan ingin segera mengakhiri penderitaan ini. Dora benar-benar tidak mengerti, padahal ia memilih jenis racun ini karena memiliki kandungan zat yang kuat sehingga dapat membunuh seseorang secara langsung. Namun entah mengapa anehnya ketika ia meminumnya tadi bukannya langsung menjemput ajalnya, Dora malah merasakan rasa sakit yang teramat menjalar ke seluruh tubuhnya. Seakan seperti sengaja untuk membuat dirinya merasakan rasa sakit yang teramat sebelum menjemput ajalnya.
__ADS_1
"To....tolong selamatkan ak...ku!" ucap Dora sambil memegang dengan erat kaki Barra.
Sedangkan Barra yang mendengar perkataan Dora barusan hanya tersenyum dengan senang kemudian berteleportasi dengan posisi sedikit menjauh dari Dora.
"Apa keuntungannya bagi ku, jika aku menyelamatkan mu?" tanya Barra kemudian dengan nada yang santai padahal Dora sudah sekarat sedari tadi.
"Ak..ku akan bertobat!" ucap Dora dengan napas yang sudah tersendat-sendat.
"Apa kau yakin akan benar-benar bertobat?" tanya Barra sekali lagi seakan memastikan ucapan dari Dora barusan.
Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung membuat Dora mengangguk dengan spontan. Dora benar-benar ingin mengakhiri penderitaan ini secepatnya. Melihat hal tersebut Barra lantas mengambil ponsel di sakunya dan menelpon seseorang di sana.
"Baik kami akan segera mengirim Ambulans ke sana." ucap seseorang di seberang sana setelah itu sambungan telpon tersebut terputus begitu saja.
Barra yang baru saja menyelesaikan panggilan telponnya lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Dora berada saat ini kemudian mengambil posisi berjongkok di dekat Dora.
"Aku sudah menelpon Ambulans untuk menjemput mu kemari. Mungkin sekitar 15 sampai 20 menitan mereka akan sampai ke bangunan ini, selama menanti kedatangan mereka kemari renungilah segala kesalahan mu, tak perlu khawatir karena kau tidak akan mati hari ini." ucap Barra dengan nada yang santainya.
Mendengar perkataan Barra barusan tentu saja membuat Dora terkejut bukan main karena Barra bukannya langsung membawanya ke Rumah sakit malah menyuruhnya menunggu Ambulans selama itu. Dora yang hendak melayangkan protes lantas berusaha menggapai tubuh Barra namun Barra keburu bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya begitu saja meninggalkan Dora seorang diri di sana.
__ADS_1
"Jangan ti...nggalkan ak..ku!" ucap Dora sambil berusaha menggapai Barra yang terlihat kian melangkahkan kakinya semakin jauh dari posisi Dira saat ini. "Arghhhhh" ucapnya dengan kesal sambil memukul area dadanya beberapa kali yang terasa begitu menyakitkan saat ini.
Sedangkan Barra yang sebenarnya tahu tentang panggilan Dora kepadanya hanya tersenyum dengan tipis sambil terus melangkahkan kakinya meninggalkan Dora di sana seorang diri dan langsung berteleportasi ke sebuah Rumah sakit untuk melihat keadaan Edrea saat ini.
"Sebesar dan sekecil apapun perbuatan seseorang selama di dunia ini mereka tetap harus mempertanggungjawabkannya dengan balasan yang setimpal. Entah itu sebuah kebaikan ataupun keburukan mereka tetap harus menerimanya sesuai amal perbuatan mereka masing-masing." ucap Barra dengan nada yang datar sebelum pada akhirnya berteleportasi dan menghilang dari sana.
**
Rumah sakit
Dari arah koridor Rumah sakit terlihat Barra tengah melangkahkan kakinya menuju ke sebuah ruang perawatan dimana tempat Edrea di rawat saat ini. Dengan langkah kaki yang tegas, Barra membawa setiap langkah kakinya menuju ke arah ruang perawatan Edrea. Setelah membalas perbuatan Dora, entah mengapa perasaan Barra terasa lebih ringan tidak seperti sebelumnya.
Barra tahu bahwa ia terlalu kejam terhadap Dora dengan memberikannya rasa yang pernah dirasakan korban-korbannya sebelumnya. Bukankah Mira juga pernah melakukan hal yang sama ketika ia menjemput arwah dari korban tabrak lari? Setidaknya alasan Barra memberikan rasa itu adalah untuk membuatnya jera dan kapok akan perbuatannya. Hanya saja bedanya, apa yang diberikan oleh Mira dan juga Edrea saat itu hanya bersifat halusinasi semata, sedangkan apa yang diberikan Barra terhadap Dora bersifat permanen karena apa yang terjadi kepada Dora didasari atas keinginan Dora sediri tanpa paksaan ataupun campur tangan dari Barra.
Barra terus melangkahkan kakinya menyusuri area koridor Rumah sakit menuju ruangan perawatan Edrea. Hingga ketika sebuah suara yang tidak asing terdengar di telinganya, lantas membuat langkah kaki Barra terhenti seketika disaat ia hendak masuk ke dalam ruangan perawatan Edrea.
"Apa yang sudah kau lakukan Bar? Tidakkah dengan membiarkannya hidup akan malah menambah masalah yang baru lagi?" ucap sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dan membuat Barra langsung berbalik badan dengan seketika, disaat mendengar suara tersebut menggema di telinganya.
Bersambung
__ADS_1