
"Edrea!" pekik Kiera ketika melihat siluet Edrea berlarian ke dalam hutan dengan langkah yang cepat.
"Tunggu Ki..." teriak Fano sambil mengejar langkah kaki Kiera yang hendak mengejar Edrea.
"Ini semua gara gara kamu, harusnya kamu lebih peka dong jadi laki laki. Edrea itu menyukai mu sejak lama, tidakkah kau tahu?" ucap Kiera dengan nada yang setengah terisak menahan tangisnya.
Fano yang melihat Kiera akan menangis lantas langsung menariknya masuk ke dalam pelukannya.
"Aku minta maaf ya? aku tahu aku terlalu egois... aku minta maaf..." ucap Fano sambil terus mengelus punggung Kiera untuk menenangkannya.
Setelah Kiera merasa lebih tenang barulah Fano secara perlahan lahan melepas pelukannya dan menatap ke arah Kiera dalam dalam.
"Kamu tenang... kita cari Edrea bersama sama oke?" ucap Fano memberikan ide kepada Kiera namun Kiera malah menggeleng dengan keras seakan menolak opsi itu.
"Jangan, jika kita mencarinya bersama itu akan memakan waktu yang lama... sebaiknya kita berpencar saja mungkin itu lebih baik." ucap Kiera kemudian.
"Ini sudah malam Ki... kamu bisa tersasar nanti." ucap Fano.
"Aku akan mencarinya di sekitaran sini, lagi pula aku membawa kompas jadi aku yakin tidak akan kesasar." ucap Kiera dengan kekeh.
"Baiklah jika itu mau mu." ucap Fano pada akhirnya.
Keduanya kemudian lantas melangkahkan kakinya berpencar untuk mencari Edrea, Kiera pergi ke sebelah kanan sedangkan Fano ke sebelah kiri.
*****
Sementara itu Edrea yang baru saja melihat sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, lantas terus berlari masuk menuju ke dalam hutan tanpa melihat sekeliling. Hingga di saat air matanya sudah mengalir dengan derasnya sambil terus berlari, sebuah tangan kokoh mendadak menariknya dan membuat langkah kakinya terhenti.
"Apa kau sudah gila? di depan itu jurang... tidakkah kau melihatnya?" teriak Barra yang emosi karena Edrea sedari tadi hanya berlarian tanpa melihat keadaan sekitaran.
"Aku... aku... hiks hiks..." ucap Edrea dengan nada yang tersendat sendat karena linangan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Barra yang melihat Edrea seperti itu, lantas langsung menghela nafasnya panjang kemudian menarik tangan Edrea dan membawanya masuk ke dalam pelukannya. Dipeluknya dengan erat tubuh Edrea sambil mengusap rambutnya dengan pelan secara berulang kali.
__ADS_1
"Menangislah.. aku akan pura pura tidak mendengarnya." ucap Barra dengan nada yang lirih.
Mendengar hal tersebut, tentu saja langsung membuat Edrea menangis dengan sekeras kerasnya tanpa memperdulikan lagi sekitaran, membuat Barra terdiam seketika menahan gejolak di hatinya.
"Mengapa rasanya sangat sesak ketika melihatnya seperti ini?" ucap Barra dalam hati.
Semenjak ingatannya kembali pandangannya terhadap Edrea benar benar berubah, melihat Edrea menangis seperti ini tentu saja membuat hati Barra rasanya sangatlah sakit.
Barra terus menepuk pundak Edrea berulang kali berusaha memberikannya kenyamanan agar tidak kembali bersedih.
"Sudahlah... untuk apa kamu kamu menangisi orang yang tidak menyukaimu, bukankah itu malah akan membuat mu terlihat sangat menyedihkan?" ucap Barra dengan nada yang menggoda.
Edrea yang mendengar ucapan Barra barusan, tentu saja langsung mendongak dan menatap ke arah Barra dengan tatapan yang kesal.
"Kamu hendak menghibur ku atau mengatai ku?" ucap Edrea sambil menyedot ingusnya yang terus saja keluar, namun Barra hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak tahu menahu akan maksud dari perkataannya barusan.
"Tergantung dari caramu mengartikannya, bukankah begitu?" ucap Barra kemudian.
"Dasar menyebalkan!" ucap Edrea dengan kesal.
***
"Apa aku masuk terlalu jauh ya?" ucap Fano pada diri sendiri dengan nada yang bingung menatap ke arah sekitar.
Tak ingin berdiam diri dan semakin lama terjebak di dalam hutan, Fano memutuskan untuk terus melangkahkan kakinya mencari jalan pulang kembali ke camp.
Kresek... Kresek ...
Suara dedaunan yang seperti tengah di lewati sesuatu, lantas mulai terdengar di pendengaran Fano, membuat Fano langsung dengan spontan menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah sekitar mencoba mencari tahu suara apa barusan.
"Kemarilah... kemarilah... sssss" ucap sebuah yang menggema terdengar hampir di penjuru hutan disertai dengan desisan yang terus menerus terdengar.
Fano yang mendengar suara itu, anehnya seakan seperti terhipnotis akan suara tersebut, hingga ia malah terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah sumber suara alih alih melarikan diri.
__ADS_1
Fano terus melangkahkan kakinya ke arah sumber suara dengan tatapan yang kosong, secara perlahan tapi pasti Fano terlihat mulai masuk ke dalam mulut gua semakin dalam dan semakin dalam lagi.
"Hahahaha baru kali ini aku mendapat mangsa yang tampan, bukankah dagingnya akan terasa sangat lezat?" ucap siluman ular tersebut ketika melihat Fano datang secara sukarela masuk ke dalam sarangnya.
Ular raksasa tersebut terus melata mendekat ke arah Fano yang sedari tadi hanya berdiri diam dan tidak bergerak sama sekali karena pengaruh dari siluman ular tersebut.
Tetesan air liur ular tersebut, setetes demi setetes mulai terlihat turun ke bawah melalui taringnya ketika melihat santapan lezat di hadapannya.
"Baiklah mari kita makan..." ucap ular tersebut dengan semangat sambil membuka mulutnya dengan lebar.
Hanya saja, ketika jarak antara mulutnya dan juga tubuh Fano semakin dekat, dari manik mata Fano siluman ular tersebut seperti menangkap sesuatu yang berharga dan tentu saja tidak akan pernah datang kembali untuk yang kedua kalinya.
Ular itu begitu tertarik dengan kilas balik kehidupan Fano, apalagi ketika Edrea yang ia kira adalah sosok gadis ratusan tahun yang lalu, membuat siluman ular tersebut terus menatap semakin dalam ke arah manik mata milik Fano sambil terus menjulurkan lidahnya seakan menikmati tontonan ini.
"Aku punya sebuah rencana ssss..." ucapnya kemudian.
Setelah mengucapkan hal tersebut, sosok siluman itu lantas mendongakkan kepalanya tepat di hadapan Fano kemudian memejamkan kelopak matanya. Secara perlahan cahaya kehitaman mulai bermunculan memenuhi tubuhnya, hingga setelah cahaya itu terkumpul barulah sosok siluman ular tersebut mulai membuka matanya kembali.
Tepat setelah cahaya hitam berkumpul menjadi satu, sosok siluman ular itu lantas langsung lenyap seketika, sedangkan Fano yang tadinya terdiam langsung bergerak seakan seperti tengah melemaskan badannya.
"Lumayan sss..." ucap Fano dengan tersenyum licik.
****
Sementara itu di camp
Edrea yang sudah puas menumpahkan keluh kesahnya lantas langsung melangkahkan kakinya kembali ke camp, hanya saja bukannya keceriaan yang ia dapatkan ketika kembali, malah sebuah berita buruk tentang hilangnya Fano.
"Bagaimana bisa Fano hilang?" tanya Edrea kepada Kiera yang sedari tadi menatap ke arah Edrea dengan perasaan yang bersalah.
"Sudahlah, sebaiknya kamu istirahat saja... jika memang kamu merasa tidak enak badan kamu langsung datang ke camp petugas kesehatan, mereka akan membantu mu." ucap Aldo kemudian ketika melihat wajah pucat milik Edrea.
Setelah mengatakan hal tersebut dan memberikan keputusan, Aldo lantas memberi kode kepada Arhan untuk melanjutkan pencarian secara bersama sama. Hingga ketika langkah mereka hendak memasuki hutan, dari arah kejauhan samar samar mereka seperti melihat sosok laki laki tengah berjalan mendekat ke arah camp.
__ADS_1
"Fano?" ucap Edrea dengan sepontan ketika ia yakin akan sosok dari bayangan yang masih samar itu adalah Fano, namun mengapa Edrea merasa seperti ada yang berbeda dari Fano, terlihat dari tatapan serta gaya berjalannya yang menurut Edrea sedikit aneh seakan seperti bukan Fano.
Bersambung