
Edrea yang berhasil mengirim potongan tangan Lidia kembali ke tubuhnya lantas terlihat tersenyum dengan raut wajah yang berseri. Keinginan sahabat masa kecilnya pada akhirnya bisa ia wujudkan, kini Edrea bisa bernapas lebih lega karena sudah berhasil membuat Lidia pergi dengan tenang menuju ke alam atas.
Ketika Edrea sudah berhasil mengirim potongan tangan Lidia kembali kepada tubuhnya dan saat ini yang tersisa yaitu menyelamatkan Kiera dari pria bertudung hitam yang membawa Kiera hingga ke tempat ini. Edrea yang sudah tidak ingin lagi berlama-lama disini, lantas langsung melangkahkan kakinya bergegas hendak keluar dari ruangan tersebut dan mencari keberadaan Kiera, namun ketika langkah kakinya hampir membuka pintu ruangan tersebut. Belum sempat Edrea memutar handel pintu itu, pintu ruangan sudah terbuka dari luar membuat Edrea yang melihat pintu terbuka begitu saja dari luar tentu saja terkejut dan langsung mengambil langkah mundur seakan berjaga-jaga jika memang orang tersebut akan macam-macam kepadanya.
Pria bertudung hitam tersebut nampak mengedarkan pandangannya ke area sekitar begitu berhasil masuk ke dalamnya, membuat Edrea yang melihat tingkah Pria tersebut tentu saja langsung di buat bingung karena tingkah Pria tersebut yang terlihat begitu santai walau ia sudah melihat Edrea di sana.
"Ternyata kamu sungguh merusak segalanya ya?" ucap Pria itu yang lantas membuat Edrea semakin tidak mengerti akan arah pembicaraan Pria itu.
"Apa maksud dari ucapanmu?" tanya Edrea dengan tatapan yang bingung.
Namun sayangnya pria itu yang mendengar perkataan Edrea bukannya menjawab akan pertanyaannya, namun malah tertawa dengan keras sambil bertepuk tangan. Membuat Edrea makin mengernyit akan tingkah laku pria tersebut. Dengan langkah kaki yang perlahan Pria itu nampak mendekat ke arah Edrea, sedangkan Edrea yang melihat langkah kaki pria itu kian mendekat mulai mengambil langkah mundur menghindari Pria tersebut.
"Aku baru menemukan seorang wanita seperti dirimu, kau tahu? Tangan mu itu benar-benar sesuatu, Apa saja yang bisa kau lakukan dengan tangan itu? Katakan pada ku hahahaha.." ucap Pria itu dengan tawa yang menggema.
Edrea yang mendengar perkataan pria itu lantas langsung terkejut seketika, Edrea benar-benar tidak menyangka bahwa Pria itu melihat segala hal yang telah ia lakukan di ruangan ini. Edrea yang mencurigai sesuatu hal lantas langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa menangkap segala aktivitasnya di sini dan pandangannya terhenti pada sebuah kamera yang terletak di sudut ruangan tersebut, walau susana di dalam ruangan itu sangatlah gelap tapi Edrea tahu dengan jelas jika itu adalah sebuah kamera pengawas. Edrea benar-benar merutuki kebodohannya yang sama sekali tidak menyadari adanya kamera pengawas pada ruangan ini. Jika ia tahu sebuah kamera pengawas sedang mengintainya, Edrea pasti sudah lebih dahulu menghancurkannya. Jika sudah begini lalu Edrea harus bagaimana?
__ADS_1
"Ah sial!" gerutu Edrea dalam hati.
Pria itu yang melihat Edrea hanya diam dan termenung tanpa menanggapi pertanyaannya barusan, lantas tanpa Edrea sadari Pria itu langsung mendekat ke arahnya dan mencengkram dengan erat tangan Edrea kemudian mengangkatnya ke atas untuk melihat telapak tangan Edrea dengan tatapan yang teliti dan menelisik. Membuat Edrea tentu saja terkejut akan tingkah dari Pria itu dan lantas berusaha memberontak agar Pria itu melepaskannya.
"Apa yang kau lakukan?" pekik Edrea dengan nada yang meninggi, namun Pria itu malah terus memperhatikan telapak tangan Edrea dengan cermat kemudian tersenyum dengan lebar yang tentu saja tidak akan bisa terlihat oleh Edrea.
"Jika aku memotongnya apa kekuatannya akan hilang? Lalu bagaimana jika aku menukarnya dengan tangan ku, apa kekuatan itu akan menjadi milik ku? Sepertinya bisa...." ucap Pria itu sambil menatap dengan penasaran ke arah telapak tangan Edrea yang lantas membuat Edrea langsung memutar bola matanya dengan jengah.
Edrea yang sudah mulai kesal akan tingkah dari Pria itu yang semakin gila dan menjadi-jadi. Edrea kemudian lantas mengumpulkan energinya pada telapak tangannya kemudian mengarahkannya ke area dada bidang pria tersebut, yang lantas membuat Pria itu langsung terpental ke belakang beberapa meter dan berakhir menabrak Almari kaca di belakangnya, sehingga beberapa potongan tangan yang tersusun rapi di sana nampak berjatuhan begitu tubuh Pria itu menabrak Almari kaca tersebut.
Mendapat serangan yang mendadak dari Edrea bukannya membuat Pria itu takut kepada Edrea malah semakin senang karena bisa merasakan dahsyatnya kekuatan Edrea saat itu juga. Pria tersebut kemudian lantas membuka tudung kepalanya dan membuang begitu saja ke arah samping. Diusapnya darah segar yang keluar dari mulutnya akibat serangan dari Edrea kemudian perlahan mencoba bangkit dari sana sambil menatap dengan tatapan yang penuh arti ke arah dimana Edrea berada.
"Kau benar-benar psikopat gila! Harusnya kau pergi saja ke neraka!" ucap Edrea dengan nada penuh penekanan.
Setelah mengatakan hal tersebut Edrea kemudian lantas melesat ke arah Pria itu dan mencengkram dengan erat kerah baju Pria itu. Sambil menatapnya dengan tatapan penuh kilatan amarah Edrea terlihat mengertakan giginya, apa yang dilakukan oleh Pria itu benar-benar terdengar begitu gila dan membuat Edrea muak ketika mendengarkannya.
__ADS_1
"Sampai kapan pun impian mu itu tidak akan pernah terwujud!" ucap Edrea dengan penuh amarah kemudian melempar tubuh pria itu ke sembarang arah dan membuatnya kembali terpelanting cukup jauh dari posisinya semula.
**
Ruangan Barra
Di ruangannya Barra terlihat tengah sibuk membahas tentang beberapa arwah yang akan di jemput untuk beberapa hari ke depan. Saat ini Max nampak memberikan beberapa file kepada Barra untuk Barra tanda tangani. Barra yang memang sudah membaca sekilas beberapa data para arwah yang akan di jemput, lantas langsung hendak membubuhkan tanda tangannya tanpa membaca kembali kilas balik kehidupannya.
Hanya saja ketika Barra hendak membubuhkan tanda tangannya mendadak tangan Barra nampak terlihat bergetar, membuat Barra yang merasakan tangannya bergetar lantas terlihat langsung memegang tangannya kemudian memijatnya perlahan seakan berusaha untuk menghentikan getaran tersebut. Max yang melihat hal tersebut tentu saja sedikit kebingungan namun tidak berani menanyakan apapun karena ia takut tuannya nanti akan marah jika Max menanyakan hal tersebut.
"Apa sesuatu tengah terjadi pada tuan ya?" ucap Max dalam hati.
Max yang semula tidak ingin menanyakan apa yang ia lihat, hanya saja ketika getaran di tangan Barra terlihat tidak kunjung berhenti juga Max yang hendak menanyakannya lantas urung ketika mendengar perkataan Barra yang semakin membuatnya kebingungan.
"Sepertinya dia terlalu memforsir energi yang bukan miliknya, jika terus-terusan seperti ini tubuhnya tidak akan kuat menahannya." ucap Barra kemudian.
__ADS_1
"Apa maksud anda tuan?"
Bersambung