
"Berhasil!" ucap Edrea dengan gembira.
"Mengapa kau selalu saja berbuat sesuka hatimu ha?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Edrea terkejut seketika disaat mendengarnya.
Edrea yang mendengar sebuah suara tak asing di pendengarannya, lantas langsung mengarahkan obor yang baru saja menyala ditangannya ke arah sumber suara. Edrea yang semula hendak berteriak karena terkejut perlahan langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika melihat ternyata suara itu berasal dari Barra. Edrea yang kesal lantas dengan spontan memukul bahu Barra beberapa kali, sehingga membuat Barra meringis kesakitan dan bergerak sedikit menjauh dari Edrea untuk menghindari serangannya.
"Mengapa kamu selalu saja mengejutkan ku sih?" ucap Edrea dengan nada yang kesal.
Hanya saja ketika Edrea sibuk memukul bahu Barra, Barra yang merasakan sesuatu mendekat ke arah mereka berdua lantas berusaha untuk mencari tahu aura tersebut. Hingga kemudian, Barra yang sudah menemukan sumber aura tersebut lantas langsung mendekap tubuh Edrea dengan tangan sebelah kanannya, sedangkan tangan sebelah kirinya menangkis sesuatu yang mendekat dan hendak menyerang mereka berdua di sana.
Rawrrr..... awrrr.....
Edrea yang terkejut akan dekapan Barra yang tiba-tiba dan mengarahkannya sedikit menyamping, lantas kembali terkejut ketika mendengar suara raungan yang tentu saja berasal dari hewan yang tak asing baginya.
"Ha... harimau..." ucap Edrea dengan manik mata yang membulat.
"Itulah sebabnya aku melarang mu untuk mencari jiwa Fano karena tempat di mana Siluman ular tersebut menyembunyikan jiwa Fano, itu adalah sarang siluman pengabdi Siluman ular atau bisa kita sebut bala tentaranya." ucap Barra menjelaskan namun masih dengan menatap ke arah harimau yang juga terlihat tengah menatap ke arahnya.
Edrea yang mendengar penjelasan dari Barra tentu saja langsung terdiam, Edrea benar-benar merasa bersalah karena tingkahnya yang selalu saja berlebihan dan ingin menolong seseorang, selalu saja membuat Barra jadi menanggung akibat dari semua tingkah lakunya itu. Edrea menggigit bibir bagian bawahnya sambil melihat ke arah Barra yang saat ini tengah memasang wajah yang serius itu.
__ADS_1
"Lalu sekarang kita harus apa?" tanya Edrea kemudian.
Barra yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung menoleh ke arah Edrea. Barra tahu Edrea tengah menyesal namun nasi sudah menjadi bubur, lagi pula mereka sudah ada di sini bukan? Jadi menyesal pun tidak akan berguna. Barra menghela nafasnya dengan panjang kemudian menatap manik mata Edrea, membuat Edrea sedikit merasa bingung akan maksud dari tatapan Barra kepadanya.
"Kita hadapi sama-sama, tugas mu adalah mencari jiwa Fano biar aku yang mengurus mereka semua." ucap Barra sambil menunjuk ke arah sebelah menggunakan ekor matanya.
Edrea yang mengerti akan arti kode yang diberikan oleh Barra, lantas langsung menoleh ke arah samping sambil mengarahkan obor yang ia pegang untuk melihat apa yang dimaksud oleh Barra barusan. Ada sedikit perasaan terkejut ketika Edrea menolehkan kepalanya dan mengarahkan obor tersebut ke samping, ternyata di sebelah mereka berdua sudah berkumpul bermacam-macam jenis hewan yang mungkin beberapa diantara mereka wujudnya ada yang setengah hewan dan juga setengah manusia, membuat Edrea berubah menjadi takut ketika melihat wujud dari beberapa makhluk yang mengerubunginya dan juga Barra di sana.
Barra yang melihat raut wajah Edrea berubah lantas melepas dekapannya dengan pelan kemudian membuat wajah Edrea menatap ke arahnya.
"Jangan pikirkan bentuk mereka dan lakukan dengan tenang. Jika mereka menyerang mu lawanlah dan jangan memikirkan apapun!" ucap Barra dengan tatapan yang tajam ke arah Edrea.
Edrea menggelinding beberapa centimeter dari tempatnya sedangkan Barra langsung mencoba mengambil alih serangan dari harimau tersebut. Barra melirik sekilas ke arah Edrea yang terlihat masih terkejut karena dorongannya barusan, membuat Barra lantas berdecak dengan kesal karena Edrea malah tetap tiduran di sana dan tidak kunjung bangun juga.
"Rea bangun dan bergerak! Kau datang ke sini bukan untuk bersantai!" pekik Barra dengan kesal.
Mendengar suara Barra yang melengking itu membuat Edrea dengan spontan bangkit dari posisinya sambil mencari obor yang tadi ia pegang. Edrea yang melihat obor tersebut berada tidak jauh dari tempatnya kemudian bangkit dan langsung melangkahkan kakinya ke arahnya. Namun ketika ia baru saja menunduk sebuah kilatan cahaya kemerahan yang berasal dari belakangnya lantas mengejutkan Edrea, membuatnya sampai mengelus dadanya beberapa kali.
"Cepatlah bergerak Edrea!" pekik Barra lagi setelah baru saja berhasil menghalau serangan makhluk lainnya yang hampir saja mencelakakan Edrea ketika ia hendak mengambil obor tersebut.
__ADS_1
Edrea yang mengerti akan ucapan Barra kemudian bergegas pergi dari sana dan melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam mencari keberadaan jiwa Fano di dalam gua tersebut. Diarahkannya obor yang ia pegang ke arah kanan dan kiri sambil terus membawa langkah kakinya menyusuri area dalam gua yang entah sepanjang apa untuk sampai ke ujungnya.
Cit cit cit....
Sebuah suara dari hewan yang Edrea tahu apa itu, lantas membuat Edrea langsung mengarahkan obor yang ia pegang ke arah bawah mencoba untuk mencari sumber suara dan pandangannya terhenti pada seekor tikus yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Hanya tikus, aku tidak sepengecut itu hingga takut kepada hewan pengerat kecil seperti dia!" ucap Edrea dengan senyum yang mengembang menatap ke arah tikus tersebut.
Hanya saja senyuman yang semula mengembang di wajah cantiknya, perlahan-lahan berubah ketika tikus yang semula berukuran sangat kecil perlahan-lahan mulai berganti ukuran menjadi semakin besar dengan gigi siung yang terlihat begitu runcing terpasang tak beraturan di mulutnya. Melihat hal tersebut tentu saja Edrea terkejut bukan main dan sempat terdiam beberapa saat di tempatnya seakan seperti tak percaya akan perubahan yang terjadi begitu cepat pada tikus yang ia anggap hanyalah binatang kecil yang tidak akan menyusahkannya.
Edrea menelan salivanya dengan kasar ketika melihat hewan tersebut menjadi tampak begitu menakutkan baginya. Edrea yang tidak ingin berurusan dengan hewan tersebut lantas langsung mengambil langkah kaki seribu sambil terus meneriaki nama Barra dengan kencangnya karena tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan di saat-saat seperti ini.
**
Sementara itu Barra yang sibuk bertarung dengan beberapa makhluk jelmaan siluman penunggu gua, lantas langsung mendengus dengan kesal begitu mendengar suara teriakan dari seseorang yang tak asing di pendengarannya tengah meneriaki namanya sedari tadi. Sambil masih dalam posisi bertarung dengan makhluk-makhluk di sana, Barra lantas mendengus dengan kesal ketika kembali mendengar namanya dipanggil dengan nada yang begitu meninggi.
"Dasar gadis itu! Tidak bisakah dia tidak menyusahkan ku?" gerutu Barra sebelum pada akhirnya berteleportasi ke sebuah tempat.
Bersambung
__ADS_1