
"Apa kau senang sekarang?" ucap Barra kemudian dengan nada yang datar.
Mendengar nada suara Barra yang tidak enak lantas membuat Edrea langsung dengan spontan menoleh ke arah sumber suara dengan raut wajah yang bingung. Edrea kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra untuk meminta penjelasan akan maksud dari ucapan Barra kepadanya.
"Apa maksud mu, aku sama sekali tidak mengerti?" tanya Edrea dengan raut wajah yang penasaran.
Sedangkan Barra yang mendengar hal itu langsung berdecih seakan tidak percaya jika Edrea tidak mengetahui maksud ucapannya. Barra yang mulai kesal lantas mengambil posisi memunggungi Edrea dan bersiap untuk berteleportasi karena ia sudah muak berada di rumah ini.
Beruntungnya ketika Barra melakukan teleportasi, tangan Edrea sempat memegang punggung Barra yang tentu saja membawanya ikut berteleportasi ke suatu tempat tujuan Barra.
***
Ruangan Barra, Stasiun Pemberhentian
Barra dan juga Edrea terlihat berteleportasi ke ruang kerjanya, Barra benar-benar terkejut karena Edrea bisa mengikutinya hingga kesini namun detik berikutnya tersadar ketika Barra mengetahui tangan Edrea tengah memegang punggungnya saat ini.
"Sudah sana pergi aku sedang malas berdebat dengan mu." ucap Barra pada akhirnya sambil mengambil langkah sedikit maju dari posisinya semula.
Mendengar hal tersebut lagi-lagi Edrea dibuat kebingungan. Hingga ketika sebuah pemikiran tentang Barra yang cemburu kepadanya akan Fano yang mengajaknya berpacaran, lantas membuat senyuman di wajah Edrea terlihat dengan jelas. Sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra, Edrea mulai tersenyum dengan licik menatap sekilas ke arah Barra, membuat Barra menjadi bingung akan maksud dari senyuman Edrea kepadanya.
"Jangan bilang kamu cemburu karena Fano yang ingin mengajakku pacaran?" ucap Edrea kemudian dengan senyum yang percaya diri.
Barra yang mendengar tuduhan tersebut tentu saja langsung mendengus dengan kesal. Lagi pula Barra sendiri juga tidak terlalu yakin akan perasaannya, namun jujur ketika melihat ada laki-laki yang mendekati Edrea hatinya terasa sedikit memanas. Tak ingin tertangkap basah dengan Edrea, Barra kemudian lantas mengalihkan tatapannya ke arah samping untuk menghindari manik mata Edrea yang saat ini terlihat begitu berbinar dengan terang.
__ADS_1
"Jangan bercanda! sebaiknya kamu bantu Mira sekarang." ucap Barra kemudian sambil memalingkan mukanya.
"Benarkah..." ucap Edrea dengan nada yang menggoda.
Sedangkan Barra yang mendengar ucapan dari Edrea barusan lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah. Kemudian berbalik badan dan menatap Edrea sambil berkacak pinggang.
"Edreaaaaa" panggil Barra sengaja dengan nada yang memanjang.
Namun Edrea yang memang sedang ingin menggoda Barra saat ini, lantas dengan entengnya malah mencium pipi Barra dengan singkat kemudian tertawa setelah melakukan hal tersebut, membuat Barra langsung terdiam di tempatnya dengan seketika seakan terkejut akan aksi dari Edrea barusan. Tidak hanya Edrea saja terkejut Max yang sebenarnya sedari tadi ada di ruangan tersebut, melihat tingkah Edrea dan juga Barra yang seperti itu membuatnya kaget sampai tak sengaja menjatuhkan iPad ditangannya, yang langsung membuat tawa Edrea terhenti seketika tepat setelah suara benda terjatuh dengan keras terdengar di ruangan tersebut.
Bruk
Mendengar suara tersebut, Barra dan juga Edrea dengan spontan langsung menoleh ke arah sumber suara. Wajah Edrea mendadak memerah ketika melihat Max sudah berdiri di depan pintu sambil menatap aneh ke arah keduanya. Sementara Barra yang melihat Max sudah berdiri di sana hanya biasa berdehem sambil memasang posisi yang keren seakan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa barusan.
"Ma...af tuan saya menggangu, saya permisi." ucap Max kemudian yang seakan paham dengan situasinya.
"Kamu masuklah ke dalam aku akan keluar sebentar menemui Mira." ucap Edrea sambil terus melangkahkan kalinya melewati Max begitu saja.
"Tapi..." ucap Max hendak menolak namun keburu punggung Edrea tidak lagi terlihat pada pandangannya, membuat Max yang melihat hal itu menjadi tidak enak kepada Barra dan juga Edrea.
Barra hanya tersenyum melihat kepergian Edrea dari ruangannya. Entah mengapa tingkah Edrea yang seperti ini membuat Barra menganggapnya lucu dan juga manis. Namun detik berikutnya senyuman yang terlukis di wajahnya terlihat langsung berganti dengan raut wajah yang tegas ketika manik matanya dan manik mata Max bertemu.
"Jadi ada apa?" tanya Barra kemudian.
__ADS_1
"Em anu tuan..." ucap Max dengan nada yang ragu sambil mengambil iPad yang sebelumnya ia jatuhkan.
***
Di area lorong Stasiun pemberhentian
Edrea yang baru saja kepergok dengan Max tentu saja langsung malu. Bagaimana bisa Edrea sama sekali tidak tahu bahwa Max sedari tadi sedang ada di ruangan Barra. Edrea yang terlalu senang karena Barra cemburu kepadanya, lantas terlalu bersemangat hingga lupa dengan keadaan sekitarnya.
Edrea merutuki kebodohannya sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Mira hanya untuk sekedar meminimalisir rasa malunya dari Max, setidaknya jika Edrea di sana ia tidak akan bertemu dengan Max bukan?
Dengan perlahan Edrea mulai membuka pintu ruangan Mira yang terletak di ujung lorong tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, membuat Mira yang sedang asyik memeriksa beberapa file tentang arwah lantas langsung menoleh ke arah pintu masuk, begitu Mira mendengar suara pintu yang dibuka dari luar.
"Edrea" ucap Mira dengan mengernyit bingung ketika melihat kedatangan Edrea dengan raut wajah yang seperti itu.
Edrea yang mendengar panggilan tersebut hanya bisa tersenyum tipis ke arah Mira kemudian melangkahkan kakinya masuk dan mengambil duduk di sofa. Melihat Edrea yang seperti itu pada akhirnya mau tidak mau Mira lantas meletakkan file yang tengah ia pelajari dan bangkit dari kursi kebesarannya, kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea, untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi kepada Edrea saat ini.
"Apa ada sesuatu yang terjadi kepadamu?" tanya Mira kemudian sambil mengambil posisi duduk di sebelah Edrea.
Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat Edrea langsung menghela nafasnya dengan panjang, membuat Mira yang tidak tahu apa-apa semakin merasa bingung akan tingkah Edrea yang seperti itu.
Edrea terdiam sejenak mencoba memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Edrea karena tidak mungkin bukan, jika Edrea tiba-tiba mengatakan ia baru saja kepergok mencium pipi Barra di ruangannya oleh Max, entah apa yang akan dipikirkan oleh Mira jika Edrea benar-benar mengatakan hal tersebut. Yang ada mungkin Mira akan terus menggodanya tiada henti.
"Aku hanya malu...." jawab Edrea pada akhirnya namun semakin membuat Mira bingung ketika mendengar ucapan dari Edrea barusan.
__ADS_1
"Maksudnya?"
Bersambung