Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Gadis nakal


__ADS_3

"Tuan saya sudah menemukan titik di mana arwah pendendam itu berada." ucap Max dengan langkah kaki yang bergegas menghampiri keduanya dan memberikan laporan tentang sosok yang sedari tadi mereka cari.


Barra dan juga Mira lantas menatap ke arah Max dengan raut wajah yang penasaran begitu mendengar kabar bahwa Max sudah mengetahui titiknya.


"Dimana sosok itu?" tanya Barra kemudian ketika mendengar teriakan Max baru saja.


Max yang mendapat pertanyaan tersebut kemudian lantas menjelaskan bahwa titik posisi sosok arwah tersebut terdeteksi berada di area Black. Mendengar penjelasan dari Max yang mengatakan tentang posisi letak sosok arwah itu, membuat Barra dan juga Mira langsung merubah tujuannya dan melangkahkan kakinya bergegas menuju ke area Black untuk segera meringkus sosok arwah pendendam tersebut.


***


Area Black


Dari area inti terlihat Edrea tengah melangkahkan kakinya sambil terdiam dengan raut wajah yang datar keluar dari area Black. Arya yang memang dalam posisi tak jauh dari area Black, melihat Edrea keluar dari sana tentu saja langsung menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang bertanya-tanya. Arya yang penasaran akan alasan Edrea masuk ke area terlarang tersebut, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Edrea berada untuk menanyakan alasan Edrea masuk ke dalam area Black.


"Apa yang kamu lakukan di area Black?" ucap Arya sambil meraih pundak Edrea dan membuatnya saling bertatapan.


Ada kilatan hitam aneh muncul memenuhi manik mata Edrea namun detik berikut kembali normal, membuat Arya yang melihat perubahan tersebut lantas sedikit tersentak dan melepaskan pegangan tangannya dari pundak Edrea. Edrea yang melihat Arya nampak terkejut ketika melihatnya, lantas langsung tersenyum sambil mengarahkan telunjuk tangannya ke arah mulutnya seakan mengisyaratkan Arya untuk diam dan tidak berisik.


"Ssst..."


Arya yang melihat tingkah Edrea seperti itu lantas langsung terdiam mematung di tempatnya. Sedangkan Edrea kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Arya dengan tatapan yang kosong menatap ke arah depan.

__ADS_1


**


Beberapa menit kemudian


Terlihat Barra, Mira dan juga Max melangkahkan kakinya menuju area Black untuk mencari keberadaan arwah pendendam tersebut. Ketiganya yang melihat Arya berdiri mematung di perbatasan area terlarang lantas langsung mendekat ke arah di mana Arya berada. Ditepuknya bahu Arya oleh Max yang lantas membuat Arya terkejut seketika disaat mendapat tepukan tersebut, seakan seperti langsung tersadar dari keadaan yang termenung layaknya orang terhipnotis.


Arya menatap Barra, Mira dan juga Max secara bergantian dengan tatapan yang bingung, membuat ketiganya lantas langsung menatap bingung juga ke arah Arya yang terlihat seperti orang linglung ketika ketiganya menghampirinya di sana.


"Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Max kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Tadi... Tadi... Edrea... Ada yang aneh dengan Edrea!" pekik Arya kemudian.


Mendengar perkataan Arya barusan membuat Mira dan juga Barra saling pandang satu sama lain, sedangkan Max nampak langsung melihat pada layar iPad nya. Benar saja, tepat setelah Max melihat kepada layar iPadnya titik sosok arwah pendendam tersebut sudah berpindah tempat dan saat ini sudah tidak lagi ada di Stasiun pemberhentian, dengan kata lain sosok arwah pendendam tersebut sudah berhasil keluar dari sini.


"Bagaimana mungkin? Bukankah jika seorang arwah masuk ke dalam Stasiun pemberhentian mereka tidak akan pernah bisa keluar dari sini kecuali..... Edrea!" ucap Mira kemudian sambil langsung menatap ke arah Barra yang sedari tadi terlihat hanya diam dan termenung tanpa berkomentar sama sekali.


Barra yang sebenarnya juga sudah menduganya, begitu mendengar perkataan Mira barusan membuat Barra langsung menghela napasnya dengan panjang. Tanpa Mira jelaskan lebih detailnya sekalipun Barra sudah jelas tahu bahwa yang membawa sosok arwah pendendam itu keluar dari sini adalah Edrea.


"Kau Mir, ikut akan ke alam manusia dan mencari keberadaan Edrea. Sedangkan untuk kalian berdua lanjutkan pekerjaan kalian selama kita berdua tidak ada di sini." ucap Barra kemudian memberikan perintah kepada yang lainnya.


"Baik tuan" ucap Max dan juga Arya hampir secara bersamaan.

__ADS_1


Setelah memberikan perintah tersebut baik Mira maupun Barra langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah dunia manusia untuk mengejar sosok arwah pendendam tersebut dan tentunya Edrea.


"Benar-benar gadis nakal!" ucap Barra dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya dengan bergegas disusul Mira di belakangnya.


***


Di salah satu daerah di Jawa Barat, terlihat Edrea tengah berdiri di depan sebuah rumah yang terlihat dalam penglihatannya tadi. Edrea nampak memandangi rumah tersebut cukup lama, hingga kemudian seulas senyum lantas terlihat di mulutnya dengan tipis, membuat siapa saja yang melihat pasti tidak akan pernah tahu jika Edrea tengah tersenyum saat ini.


"Aku datang untuk memberi mu pelajaran Darma!" ucap Edrea dengan nada suara yang serak, benar-benar berbeda dengan suara Edrea biasanya.


Dengan langkah kaki yang perlahan, Edrea mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah rumah tersebut dan langsung masuk ke dalamnya tanpa permisi atau sekedar mengetuk pintu rumah tersebut.


Edrea mengedarkan pandangannya ke arah sekitar di mana di sana tercium aroma kuat khas minuman yang beralkohol, hingga membuat seulas senyuman sinis kembali terlihat pada wajah Edrea ketika ia mendapati Darma tengah terbaring di sofa sambil memegang botol minuman beralkohol yang tinggal sedikit di tangannya.


Edrea kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Darma berada dan langsung merampas botol tersebut dan membuangnya ke sembarang arah, hingga menyebabkan suara yang begitu berisik akibat dari botol kaca tersebut yang terbentur dengan dinding tembok ruangan.


Di tengah kondisi antara sadar dan tidak sadar akibat pengaruh alkohol, Darma yang botol minumannya tiba-tiba di rebut secara paksa lantas langsung berusaha bangkit dari tempat duduknya hendak mengamuk karena telah membuang botol minumannya tanpa seijinnya. Darma yang bangkit dan menatap ke arah Edrea lantas langsung mengernyit dengan bingung seakan bertanya-tanya siapa perempuan yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.


Ditatapnya area sekitar oleh Darma seakan mencoba mengingat-ingat apakah ia salah masuk rumah atau tidak. Namun setelah Darma sadar ini adalah rumahnya Darma lantas tersenyum menatap ke arah dimana Edrea berada saat ini. Membuat Edrea yang melihat ekspresi wajah dari Darma lantas menatap tajam dengan kilatan penuh amarah di matanya. Dengan langkah kaki yang sempoyongan Darma mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea seakan ia merasa ada bidadari yang mendadak turun di hadapannya dan membuat Darma ingin menggaulinya juga.


"Apa kamu bidadari yang dikirim dari langit untuk ku yang kesepian?" ucap Darma dengan nada yang melantur.

__ADS_1


"Tutup mulut mu Darma!"


Bersambung


__ADS_2