
"Siapa di sana?" ucap Edrea sambil menatap ke arah semak belukar di sekitarnya.
Kresek... kresek...
Suara itu kian terdengar dengan keras, membuat Edrea langsung menelan salivanya kasar ketika suara tersebut sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya.
Edrea yang mulai merasa semua ini tidak benar, lantas langsung berlarian menjauh dari sana karena takut suara gesekan dari semak belukar tersebut berasal dari salah satu hewan buas di hutan ini. Sambil menoleh ke arah kanan dan kiri, Edrea mulai menerjang semak belukar yang menjulang tinggi di hadapannya dengan langkah kaki yang lebar tanpa memperdulikan lagi kakinya yang terkena sabetan semak belukar tersebut di setiap langkah yang ia ambil.
Edrea yang berlari dan terus berlari berpikir bahwa ia bisa lolos dari kejaran sesuatu yang sama sekali tidak ia ketahui seperti apa bentuknya, namun ternyata langkah kaki besar yang ia ambil nyatanya sama sekali tidak membuatnya menjauh dari sosok itu. Suara gesekan dari balik semak belukar kian terdengar di telinga Edrea di sertai dengan getaran tanah yang begitu terasa ketika Edrea mengambil selangkah demi selangkah dari setiap ia berlari.
"Makhluk apa sebenarnya itu? Barra kamu di mana?" ucap Edrea dalam hati sambil terus mempercepat langkah kakinya.
Hingga ketika Edrea mulai lelah terus-terusan berlari sedari tadi, membuat langkah kaki Edrea menjadi kian melemah sedangkan getaran yang ia rasakan semakin terasa dan pada akhirnya hanya membuat Edrea pasrah karena kakinya tidak lagi bisa bergerak karena kelelahan dan juga terasa perih akibat sabetan dari semak belukar yang ia lalui.
Sssss
Suara desisan mendadak terdengar di telinga Edrea, membuat Edrea langsung menatap ke arah sekitar mencoba mencari suara desisan tersebut sambil terus mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
Tidak berapa lama setelah suara desisan tersebut terdengar sebuah goncangan hebat terjadi di sekitaran tanah yang Edrea pijak. Hingga puncaknya setelah getaran hebat terjadi, tanah di area sekitaran Edrea mulai retak dan membelah secara cepat diiringi dengan keluarnya sesosok makhluk seperti Ular berwarna hitam pekat namun dengan ukuran yang sangat besar.
Edrea yang terkejut akan sosok itu lantas langsung melongo sepersekian detik menatap sosok Ular berwarna hitam tersebut. Hingga sebuah tawa menggelegar terdengar memenuhi area hutan tersebut, ketika melihat wajah terkejut Edrea di sana barulah Edrea tersadar dari lamunannya.
Hahaha Apa kau terkejut?
__ADS_1
"Kau... Siluman ular hitam?" ucap Edrea ketika ia baru mengingat akan makhluk yang terus di bahas dan menjadi momok tersendiri bagi Barra sejak awal kedatangannya.
Kau mengenaliku rupanya!
"Apa yang sebenarnya kau inginkan ha? Mengapa kau sangat suka sekali mengganggu Barra?" ucap Edrea mencoba untuk memberanikan diri bertanya padahal ia sangat takut akan sosok Siluman ular hitam tersebut.
Yang aku inginkan kau dan juga Barra, apa kau sudah puas?
Mendengar ucapan Siluman ular hitam tersebut Edra merasa sedikit bingung, perkataan Siluman ular hitam barusan sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, malah semakin membuat Edrea kebingungan dan tidak mengerti akan ucapan dari sosok tersebut.
"Jangan pernah berharap!" ucap Edrea kemudian berteleportasi.
Edrea mencoba berteleportasi untuk kembali ke tempat semula di mana ia mencari keberadaan sosok Steven barusan. Namun ketika ia membuka matanya entah mengapa ia malah kembali ke hutan itu lagi dan lagi, membuat sosok tersebut tertawa dengan keras ketika melihat Edrea kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" ucap Edrea sambil terus berusaha untuk bisa keluar dari lilitan sosok tersebut.
Mendengar suara Edrea bukannya menanggapi ucapannya, sosok itu malah semakin menguatkan lilitannya dan membawa Edrea mendekat ke arah kepalanya dengan perlahan. Lidah sosok ular itu menjulur sambil mendesis dan menyentuh pipi Edrea, membuat air liur ular itu membasahi wajah Edrea.
Setelah ini kau akan merasakan bagaimana kejadian masa lalu terulang kembali di hadapan mu!
Ucap sosok Siluman ular tersebut sambil menatap ke arah bulan purnama dengan pancaran sinar berwarna kemerahan.
Tepat setelah mengatakan hal tersebut Sosok siluman ular tersebut mematuk Edrea tepat di area dahinya, membuat Edrea terdiam membeku dengan seketika.
__ADS_1
***
Sementara itu Barra yang baru saja sampai di sebuah tempat yaitu taman kota setelah berteleportasi dari rumah bertingkat itu, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah pohon tua yang menjadi tempat awal dan juga akhir segalanya terjadi. Barra benar-benar yakin bahwa sosok Siluman ular hitam tersebut membawa Edrea ke sebuah tempat di mana kejadian di masa lalu terjadi saat itu, mengingat hari ini adalah hari di mana bulan purnama merah terjadi.
"Mengapa aku sama sekali tidak menyadarinya bahwa hari ini adalah bulan purnama merah? Benar-benar bodoh kau Bar!" ucap Barra menggerutu sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah pohon besar di sudut taman.
Hingga ketika Barra sampai tepat di depan pohon besar tersebut, Barra terlihat mulai menghentikan langkah kakinya. Ditatapnya pohon besar tersebut dengan perasaan yang gamang namun juga penuh ke khawatiran akan keadaan Edrea saat ini. Barra memejamkan kelopak matanya perlahan dan mencoba untuk bertelepati dengan Ibu.
"Apakah ini sudah waktunya Bu?" tanya Barra mencoba untuk bertelepati dengan Ibu.
"Tentu saja itu tergantung kepadamu Bar? Sebuah kejadian di masa lalu pasti akan mempunyai pertanda jika hal itu akan kembali terulang." ucap Ibu menanggapi pertanyaan Barra.
"Pertanda? Pertanda apa maksud Ibu?" tanya Barra kembali sambil berusaha berpikir tentang pertanda yang dikatakan oleh Ibu.
"Apakah kamu tidak merasa ada yang hilang dari dirimu Bar? Pikirkanlah lagi secara perlahan... jangan terlalu gegabah sehingga kamu akan menyesali segalanya." ucap Ibu kemudian memutus telepati dengan Barra.
Barra yang mengetahui Ibu sudah memutus telepatinya lantas perlahan-lahan mulai membuka kelopak matanya sambil memikirkan apa yang hilang dari dirinya selama ini. Barra memijit pelipisnya dengan perlahan ketika ia tidak kunjung mengetahui apa yang di maksud oleh ibu barusan.
Hingga ketika Barra tengah berpikir akan apa yang di maksud oleh Ibu, sebuah hantaman dengan keras yang tiba-tiba terasa di dadanya membuat Barra sedikit terhuyung hingga harus bertumpu pada pohon besar di hadapannya. Barra memegang dadanya dengan erat mencoba untuk menahan rasa sakit yang mendera di area dadanya.
Sebuah penglihatan yang tidak pernah Barra inginkan mendadak terlintas di kepalanya tepat ketika ia merasakan sakit di area dadanya.
"Edrea!" ucap Barra dengan spontan sambil memegang area dadanya dengan erat mencoba untuk menahan rasa berdenyut di area dadanya.
__ADS_1
Bersambung