Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Ajian putar giling


__ADS_3

Cafe


Terlihat Edrea dan juga Mira yang tengah asyik menikmati waktu santai mereka dengan menikmati secangkir ice coffee di cafe tersebut. Seulas senyum terbit dari wajah Edrea ketika mengingat ia berhasil meredam arwah Karna agar tidak menjadi sosok arwah pendendam secara permanen, Edrea benar benar tidak menyangka bahwa hanya dengan mantra yang di ajarkan Surya padanya, lantas memberikan ide cemerlang ketika ia melakukan penjemputan arwah Karna.


Mira yang sedari tadi memang sudah penasaran, lantas langsung menatap ke arah Edrea dengan raut wajah yang penasaran ketika melihat wajah tersenyum Edrea yang tidak kunjung surut dari wajahnya itu.


"Apa kau benar benar tidak ingin memberitahuku mantra apa yang kau baca tadi?" tanya Mira lagi masih dengan memasang raut wajah yang penasaran ke arah Edrea.


Sedangkan Edrea yang mendengar ucapan Mira barusan, lantas menghentikan senyumannya kemudian menatap serius ke arah Mira begitu pula sebaliknya. Mira yang memang sudah penasaran sedari tadi, lantas membuka telinganya lebar lebar dan bersiap untuk mendengarkan penjelasan dari Edrea saat ini.


"Itu adalah ajian putar giling, sebenarnya aku tidak terlalu yakin ajian ini akan berhasil atau tidak, karena aku mendapatkan mantra tersebut dari Opa dan baru kali ini aku menggunakannya." ucap Edrea dengan senyum yang mengembang.


Mantra atau ajian putar giling sendiri ini sebenarnya Edrea dapat dari cerita kakeknya di masa lalu yang bercerita bahwa Surya mendapatkan Sita karena ajian tersebut, Surya mengatakan bahwa ajian ini memiliki keistimewaan yang bisa di gunakan seperti pelet atau sebagai bentuk ketika kita kehilangan sebuah barang, cara kerja dari ajian ini seperti memutarbalikkan sesuatu atau memutar giling sukma seseorang untuk kembali, hal itulah yang terjadi kepada Baron dan juga Pras kemarin, awalnya Edrea sama sekali tidak percaya kepada sang kakek, terlebih ketika kakeknya memberikan sebuah kalung dengan liontin merah delima dan mengatakan bahwa di dalam liontin tersebut Surya menurunkan ajian putar giling, sehingga Edrea tidak perlu tirakat atau puasa untuk memakai ajian tersebut. Hanya saja setelah apa yang terjadi saat ini, sepertinya Edrea jadi berpikir dua kali untuk tidak mempercayai ucapan Surya.


"Ku kira kau punya kelebihan seperti kami, ternyata sebuah amalan yang sering di lakukan oleh manusia rupanya." ucap Mira sambil mendengus dengan kesal.


Edrea yang mendengar respon Mira pada ceritanya, tentu saja menatapnya dengan bingung, bukankah seharusnya Mira menunjukkan ekspresi yang berbeda dari saat ini?


"Memangnya apa yang salah dari sebuah amalan? aku rasa semua tidak ada masalah jika kita menggunakannya ke jalan yang benar, contohnya seperti tadi.. iya kan?" ucap Edrea dengan sewot.

__ADS_1


"Memang tidak ada yang salah dari semua amalan yang di lakukan oleh manusia, hanya saja karena keserakahan manusia yang terus terusan mencari amalan untuk memperkuat dirinya dan menggiring opini masyarakat agar menganggapnya punya kelebihan, semua itu jelas salah karena apa yang mereka lakukan adalah menyesatkan manusia dan semakin jauh dengan Sang Pencipta." ucap Mira dengan nada yang dingin sambil menyeruput ice coffee pesanannya.


"Kalau itu aku setuju, tapi untuk kamu yang memarahi ku karena menggunakan ajian itu aku tidak setuju, lagi pula apa yang aku lakukan bukanlah sebuah keburukan dan juga tidak aku salahgunakan juga, jadi kamu tidak adil jika memarahi ku dan menyamaratakan aku dengan mereka." ucap Edrea dengan nada yang kesal.


Mendengar ucapan Edrea yang merajuk membuat Mira lantas tersenyum dengan tipis, ia bahkan tidak sadar jika sudah memarahi Edrea karena kesalahan yang sama sekali tidak ia perbuat, sebenarnya Mira sendiri tidak tahu mengapa Mira semarah itu ketika mendengar kisah Surya dan juga Sita, hanya saja Mira seperti merasa bahwa apa yang di lakukan Surya benar benar salah dan tidak baik, bahkan hingga kematian menjemput Sita, Surya sama sekali masih melakukan ajian itu tanpa mau melepaskan Sita.


"Baiklah baiklah... sepertinya aku sedikit keterlaluan tadi.. aku minta maaf ya.." ucap Mira kemudian sambil menggenggam tangan Edrea.


Sedangkan Edrea yang mendengar ucapan Mira barusan, hanya memutar bola matanya dengan jengah seakan malas ketika mendengarnya.


Ketika keduanya sedang asyik berbincang sebuah suara yang tidak asing di pendengaran keduanya, lantas terdengar menghampiri mereka berdua yang kemudian membuat Edrea dan juga Mira dengan spontan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Enak sekali kalian berdua ya... mengobrol sambil meminum secangkir kopi di sini." ucap Barra sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan juga Mira.


Barra yang mendengar pertanyaan dari Mira barusan, sama sekali tidak menjawabnya malah langsung mengambil gelas ice coffee di depan Edrea kemudian mulai meminumnya secara perlahan, membuat Edrea langsung menghadiahi Barra dengan tatapan yang tajam.


"Itu milik ku!" ucap Edrea dengan kesal.


"Aku hanya mencobanya saja, mengapa kamu seheboh itu?" ucap Barra dengan santainya sambil mendudukkan bokongnya di kursi Cafe dengan nyaman.

__ADS_1


"Iya tapi.. tapi... ah sudahlah terserah apa katamu saja." ucap Edrea pada akhirnya memilih untuk mengalah dari pada harus berdebat dengan Barra yang pasti tidak akan pernah ada ujungnya walau sebetulnya Barra yang salah sekalipun.


Mendengar ucapan Edrea lantas membuat gelak tawa terdengar dari Mira dan juga Barra, yang tentu saja semakin membuat Edrea cemberut karena reaksi keduanya yang mengesalkan.


**


Masih di sebuah cafe yang sama di mana Edrea, Mira dan juga Barra berada. Terlihat seorang pelayan cafe tengah membawa dua kantong kresek berwarna hitam pekat keluar dari cafe menuju ke bak sampah, yang letaknya tidak jauh dari cafe tersebut. Wajah gadis itu nampak sangat pucat dengan keringat dingin yang mengalir membasahi dahinya.


Melihat wajah pucat gadis itu membuat seseorang temannya datang menghampirinya sambil menepuk bahunya dengan pelan.


"Apa kamu baik baik saja Ndri? tanya pelayan cafe lainnya.


Mendengar pertanyaan tersebut Indri yang merasa namanya di panggil hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan tanpa mengucapkan kata kata, membuat temannya itu hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang ketika melihat reaksi Indri barusan.


"Jika kamu tidak sehat pulanglah, aku akan mengijinkan mu kepada bu Monic nanti." ucapnya lagi masih tidak terlalu yakin akan keadaan Indri saat ini.


"Kamu tidak perlu khawatir, sebaiknya kita masuk sekarang dan lanjutkan pekerjaan kita." ucap Indri sambil menggandeng tangan temannya dan membawanya kembali masuk ke cafe.


Tanpa di sadari oleh keduanya sebuah bayangan berwarna hitam pekat, nampak melesat mengikuti langkah kaki keduanya setelah sebelumnya sosok tersebut berdiri tepat di sebuah bak sampah menatap dengan menyeringai ke arah Indri.

__ADS_1


Sebentar lagi kamu akan menjadi milik ku...


Bersambung


__ADS_2