
Edrea yang mulai penasaran lantas mempercepat langkah kakinya menuju ke arah sumber suara dan berhenti tepat di belakang Barra yang kini terlihat dalam posisi tengah memunggunginya.
"Apa yang kamu lakukan Bar?" ucap Edrea sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra.
Barra yang mendengar sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya, lantas langsung dengan spontan menoleh ke arah sumber suara. Sedangkan sosok roh tersebut yang seakan bisa membaca situasi kemudian perlahan lahan menghilang dari hadapan Barra dan lenyap bagaikan terbawa angin yang berhembus saat itu. Barra yang menyadari sosok itu menghilang tepat ketika dirinya lengah, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimanapun Barra sudah kehilangan sosok roh pendendam tersebut, tepat ketika ia mendengar suara Edrea barusan yang membuatnya tidak fokus dan kehilangan sosok tersebut.
Edrea yang melihat ada sesuatu dengan Barra, mulai mempercepat langkah kakinya dan menghampiri Barra, di tatapnya Barra dengan tatapan yang menelisik seakan mencari tahu apa yang tengah terjadi pada Barra saat ini.
"Apa ada sesuatu yang terjadi Bar? mengapa wajah mu seperti itu?" tanya Edrea kemudian dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Barra yang hanya diam saja sedari tadi tanpa menjawab pertanyaannya.
"Sudahlah... sebaiknya kita kembali duduk, Mira pasti sudah terlalu lama menunggu." ucap Barra kemudian tanpa menjawab pertanyaan Edrea terlebih dahulu, yang lantas membuat Edrea langsung cemberut.
"Baiklah" ucap Edrea dengan singkat.
Pada akhirnya Edrea hanya bisa pasrah dan mengikuti ajakan Barra untuk kembali ke meja mereka padahal sebenarnya Edrea masih penasaran akan apa yang di lakukan oleh Barra sebelumnya, namun ia tidak berani untuk bertanya lebih lanjut kepada Barra.
***
Ruangan Barra
__ADS_1
Barra yang masih penasaran akan sosok roh tersebut, setelah kepulangannya dari dunia manusia Barra memutuskan untuk mencari tahu tentang sosok roh itu. Dari luar ruangannya terlihat Max kini tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Barra berada saat ini. Di tatapnya beberapa detik Barra dengan tatapan yang ragu karena sejujurnya Max juga tidak terlalu yakin akan jawaban dari pertanyaan Barra tentang sosok yang ia temui di Cafe tadi.
"Ada apa dengan raut wajah mu itu? apa ada masalah?" ucap Barra menanyakan tentang mimik wajah Max yang terlihat begitu aneh sambil membawa iPad di tangannya sedari tadi.
Max yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas memberikan iPad yang sedari tadi ia pegang kepada Barra, membuat Barra langsung menerima iPad pemberian Max dan mulai menggeser layar iPad tersebut satu persatu untuk melihat informasi apa yang di dapat oleh Max kali ini.
"Jika menurut ciri ciri yang tuan berikan, sepertinya roh yang paling cocok adalah roh kayu penghuni pohon yang terletak di area taman. Saya tidak terlalu yakin.. apakah memang sosok itu yang anda cari atau bukan, tapi jika memang sosok itu yang anda cari saya bisa memberikan informasi mendetail kepada anda tuan." ucap Max dengan nada yang terdengar ragu ragu.
Barra yang melihat sebentar ke dalam iPad tersebut kemudian menggeser iPad dan langsung menatap ke arah Max. Semua ciri ciri dalam iPad yang di tunjukkan oleh Max barusan memang ada kemiripan, namun yang menjadi pertanyaannya saat ini, jika memang itu roh kayu penunggu pohon lalu mengapa roh tersebut malah menempeli pelayan Cafe? bukankah itu sedikit aneh?
"Sepertinya memang dia yang aku cari." ucap Barra kemudian. "Apa menurut mu... ada kemungkinan sosok ini menempeli seorang gadis manusia?" tanya Barra kemudian.
"Mungkin jawaban dari pertanyaan anda barusan adalah tidak mungkin, namun ada sebuah kisah lampau yang menceritakan tentang kisah hidup sepasang kekasih yang harus berakhir dengan tragis dan di pisahkan oleh takdir, sang pria menjadi seorang arwah pendendam dan menempati pohon tempat di mana keduanya menghembuskan nafas terakhirnya. Hingga waktu yang tidak bisa di tentukan ia terus menunggu dan menunggu kekasihnya bereinkarnasi, tidak ada yang berani menjemputnya karena sosoknya sudah berubah menjadi roh pendendam seutuhnya, ia tidak akan pergi dari dunia ini jika keinginannya belum tercapai." ucap Max menjelaskan sebuah kisah lama yang berhasil ia temukan ketika mencari tahu tentang sosok roh kayu.
Mendengar cerita Max barusan, membuat Barra terdiam sejenak memikirkan kemungkinan yang terjadi. Jika di tarik kesimpulan memang cerita Max dan juga sosok roh yang ia temui di Cafe memiliki satu kesamaan, namun Barra tidak terlalu yakin apakah sosok yang di temui Barra di Cafe adalah sosok legenda yang di ceritakan oleh Max barusan atau bukan.
"Apa menurut mu orang yang aku temui adalah sosok yang sama dengan legenda tersebut?' ucap Barra kembali bertanya kepada Max.
"Tidak ada yang tahu pastinya tuan selain dia sendiri yang mengatakannya." ucap Max yang lantas membuat Barra terdiam seketika seakan tengah memikirkan kemungkinannya.
__ADS_1
***
Malam harinya
Indri terlihat melangkahkan kakinya secara perlahan melewati gang perumahan kompleksnya, hari ini karena ada acara besar yang menyewa Cafe tempatnya bekerja, sehingga Indri harus bekerja lembur dan juga pulang malam di tengah kondisinya yang tidak enak badan sejak beberapa hari yang lalu.
Indri mengusap tengkuknya yang tiba tiba terasa merinding tanpa sebab, entah mengapa akhir akhir ini Indri selalu saja merasa merinding jika tengah melewati area gang kompleknya ini. Indri yang sudah mulai merasakan hawa aneh di sekitarannya lantas langsung mempercepat langkah kakinya bergegas menuju ke kontrakannya yang terletak tepat di ujung gang ini.
"Ini hanya perasaan ku saja... hanya perasaan ku saja..." ucap Indri berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri sambil terus melangkahkan kakinya bergegas menuju ke arah kontrakannya.
Langkah demi langkah Indri ambil dengan lebar, hingga ketika sebuah langkah kaki besar terdengar di belakangnya Indri kemudian mengambil langkah berlari untuk segera sampai di rumahnya. Dengan terburu buru Indri lantas berlarian dan berhenti tepat di depan pintu kontrakannya, di ambilnya kunci pintu yang terletak di Tote bag yang ia bawa sedari tadi namun sayangnya tidak kunjung ketemu.
"Di mana sih kuncinya? mengapa susah sekali menemukannya?" gerutu Indri sambil menatap ke arah sekitar takut langkah kaki besar itu mengikutinya sampai ke rumah kontrakannya.
Hanya saja anehnya semakin di cari entah mengapa kunci rumah kontrakannya itu tidak kunjung ketemu juga, membuat keringat dingin terus bercucuran membasahi pelipisnya, hingga sebuah suara yang tiba tiba terdengar lantas mengejutkannya dan membuat semua isi tasnya tumpah berceceran ke lantai.
"Hei..."
Bersambung
__ADS_1