
"Apa semua yang kau lakukan juga karena ikatan masa lalu yang belum selesai? katakan padaku yang sebenarnya..." tanya Edrea dengan tiba tiba.
Mira yang mendengar ucapan Edrea barusan tentu saja terkejut bukan main, baru kali ini Mira mendengar pertanyaan ketus yang keluar dari mulut Edrea. Entah mengapa Mira merasa seperti ada sesuatu yang telah terjadi kepada Edrea yang membuatnya langsung menanyakan hal itu kepada Mira.
"Aku..." ucap Mira menggantung, membuat Edrea tersenyum dengan sinis walau air matanya kembali menetes.
"Dengan diam mu saja aku sudah bisa menebaknya, tidak perlu kamu menjawab pertanyaan dari ku karena aku sudah mengetahui jawabannya. Yah... semua orang di Stasiun Pemberhentian ini benar benar menyebalkan dan bertindak semaunya tanpa mempertimbangkan segalanya terlebih dahulu." ucap Edrea dengan nada yang tertahan.
Setelah mengucapkan hal itu Edrea kemudian lantas melangkahkan kakinya dengan perlahan meninggalkan Mira di sana, ketika Mira memanggil nama Edrea dan mencoba menghentikan langkah kaki Edrea, yang di lakukan Edrea hanya mengangkat tangannya saja seakan memberikan pertanda bahwa ia tidak ingin di ganggu ataupun berbicara saat ini dengan tubuh yang tetap lurus ke arah depan. Dalam setiap langkah kaki Edrea yang meninggalkannya, Mira melihat tubuh Edrea bergetar yang bisa di pastikan bahwa Edrea tengah menangis saat ini. Melihat Edrea yang seperti itu jujur saja membuat Mira tidak tega dan ingin mengejarnya, hanya saja Mira merasa tidak terlalu berhak ikut campur dalam masalah Edrea saat ini.
Mira yang tidak lagi melihat punggung Edrea, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah ruangan Barra dan langsung masuk ke dalamnya tanpa mengetuk pintu. Ada sedikit perasaan terkejut dalam diri Mira, ketika semula Mira hendak marah karena melihat Edrea yang seperti itu barusan, malah menjadi terdiam ketika melihat Barra kini tengah duduk di lantai bersandar pada meja kerjanya dengan raut wajah yang terlihat frustasi seperti itu.
Mira melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Barra berada, kemudian menghentikan langkah kakinya ketika jarak antara Barra dan juga dirinya hanya berjarak beberapa centi saja. Barra mendongakkan kepalanya sekilas ketika mendengar langkah kaki seseorang, kemudian mengusap wajahnya dengan kasar ketika mengetahui suara langkah kaki itu berasal dari Mira.
"Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? apa kamu dan Edrea tengah bertengkar?" ucap Mira pada akhirnya karena sudah tidak tahan melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu.
"Jangan mengganggu ku sekarang... pergilah.. jika ada sesuatu yang penting sampaikan saja kepada Max atau Arya." ucap Barra dengan nada yang lirih.
Mira yang mendengar ucapan Barra barusan tentu saja terkejut, baru kali ini Barra seakan lepas tanggung jawab, sebenarnya masalah seperti apa yang keduanya ributkan hingga di antara Barra maupun Edrea sama sama terlihat begitu murung dan sangat sedih.
__ADS_1
"Kau tidak bisa seperti ini dong Bar, jika memang ada masalah harusnya di selesaikan bukan hanya diam seperti ini! dengan kau diam, masalah yang terjadi di antara kalian berdua tidak akan bisa terselesaikan!" ucap Mira mencoba untuk membangkitkan semangat dalan diri Barra.
Barra yang mendengar ucapan dari Mira barusan lantas langsung bangkit dari posisinya dan menatap ke arah Mira.
"Kamu itu gak tahu apapun tentang masalah kami, jadi aku harap tidak usah menggurui seperti itu!" ucap Barra dengan nada yang dingin kepada Mira saat ini.
Barra kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Mira yang kini masih berada di dalam ruangannya. Tanpa memperdulikan kehadiran Mira, Barra kemudian langsung berteleportasi ke sebuah tempat yang tentu saja Mira tidak akan tahu di mana tujuan Barra pergi barusan.
"Apa yang tengah terjadi sebelumnya pada kedua orang itu? mengapa rasanya ada masalah berat yang sulit untuk terselesaikan oleh keduanya?" ucap Mira bertanya tanya pada diri sendiri.
***
Kediaman ibu
"Barra? tumben ke sini? duduklah..." ucap Ibu sambil masih berkutat dengan berbagai jenis tangkai bunga di hadapannya.
Barra yang mendengar pertanyaan dari Ibu barusan, lantas hanya mendengus kesal sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Ibu berada. Barra menghentikan langkahnya ketika jarak di antara Ibu dan dirinya hanya tersisa beberapa centi saja. Sedangkan Ibu yang tidak mendengar jawaban apapun dari Barra, langsung mengernyit dan menatap Barra dengan tatapan yang bertanya tanya.
"Apa kamu sedang ada masalah Bar?" tanya Ibu yang lantas menghentikan gerakannya dan menatap ke arah Barra dengan pandangan yang menelisik.
__ADS_1
Barra menghela nafasnya dengan panjang, meski Barra tidak menceritakannya secara rinci namun Barra yakin bahwa Ibu sudah mengetahuinya, melihat Barra tidak kunjung menjawab pertanyaannya membuat Ibu lantas langsung tersenyum sambil menatap ke arah Barra.
"Apa ini tentang Edrea dan masa lalu kalian?" ucap Ibu menebak yang lantas membuat Barra langsung mengangguk dengan pelan.
Mengetahui tebakannya benar, Ibu kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra lalu menyenderkan tubuhnya pada meja dan mengambil posisi terenak.
"Jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalamu ada pada dirimu, jika kamu berpikir lebih jernih aku yakin masalah serumit apapun kamu pasti akan mengetahui solusinya. Tak perlu risau.. karena jawaban yang kamu cari sudah ada di sini." ucap Ibu dengan nada yang lembut sambil menunjuk ke arah dada Barra.
Barra terdiam sejenak mencermati setiap kata kata yang keluar dari mulut Ibu, berharap pikirannya kini bisa lebih tenang dan jernih sehingga ia bisa mengambil keputusan terbaik untuk saat ini.
**
Stasiun pemberhentian
Sementara itu Arya yang baru saja menerima pesan dari sistem, lantas langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Barra, hanya saja sayangnya ketika Arya sampai di sana, Barra sama sekali tidak ada di ruangannya membuat Arya kebingungan harus mencari ke mana.
Arya yang tidak kunjung menemukan keberadaan Barra, lantas berinisiatif untuk menemui Max di ruangannya. Dengan gerakan yang bergegas tanpa basa basi Arya langsung menyelonong masuk ke dalam ruangan Max. Sedangkan Max yang sedari tadi di buat pusing akan segala laporan yang mendadak semua di serahkan padanya, menjadi kesal ketika melihat Arya yang masuk tanpa ijin ke ruangannya.
"Tidak bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu?" ucap Max dengan nada yang kesal.
__ADS_1
"Aku punya berita yang lebih penting ketimbang hanya perkara pintu yang tidak di ketuk." ucap Arya yang semakin membuat Max kesal ketika mendengarnya.
Bersambung