Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Kilau cahaya berwarna keputihan


__ADS_3

Di sebuah rumah yang terletak di Ibu kota, terlihat Fano tengah duduk dengan posisi bersandar sambil menikmati segelas wine di tangannya. Ditatapnya area dinding kaca yang langsung berhadapan dengan halaman samping di mana terdapat beberapa tanaman hias dan juga kolam ikan di sana.


Tak tak tak


Suara langkah kaki yang beradu dengan keramik terdengar menggema di ruangan tersebut, membuat seulas senyum lantas langsung terlihat di wajah Fano saat itu juga.


"Tuan.." panggil seseorang yang lantas membuat Fano langsung menoleh seketika ke arah sumber suara.


"Apa kamu sudah melakukan apa yang aku suruh Dan?" tanya Fano kepada Dani sambil menatap penasaran kearahnya.


"Tentu tuan, saya juga sudah menempatkan lukisan tersebut ke sebuah rumah yang berada di puncak." ucap Dani memberikan laporan.


"Bagus, selanjutnya kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan?" ucap Fano sambil tersenyum menyeringai membuat Dani langsung tersenyum seketika.


"Tentu tuan anda tidak perlu khawatir." ucap Dani dengan nada yang yakin.


****


Tolong....


Mendengar suara tersebut Edrea langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar mencoba mencari suara kerincingan dan juga suara minta tolong yang terdengar di telinganya. Kekosongan terjadi sejauh mata memandang membuat suasana kian mencekam. Hingga beberapa kali mencari asal suara kerincingan tersebut, sesosok makhluk dengan asap hitam di sekitarnya terlihat tengah berdiri di sudut ruangan tersebut namun yang membuat Edrea heran, kedua kaki sosok tersebut seperti dirantai besi yang menimbulkan suara kerincingan yang di dengar Edrea sedari tadi.


"Steven?" ucap Edrea kemudian dengan nada yang ragu-ragu.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Edrea barusan sosok tersebut terlihat mulai melangkahkan kakinya dengan tertatih mendekat ke arah Edrea, membuat Edrea semakin melangkahkan kakinya mundur secara perlahan. Entah mengapa Edrea melihat ada aura gelap yang mengerubungi sosok makhluk tersebut.


Tolong aku...


"Ikutlah dengan ku ke Stasiun pemberhentian, tugas mu di dunia ini sudah selesai Steven Fernando..." ucap Edrea dengan nada yang gamang sambil terus melangkahkan kakinya mundur.


Sosok tersebut yang melihat Edrea terus melangkahkan kakinya mundur, lantas menghentikan langkah kakinya yang membuat Edrea ikut menghentikan langkah kakinya juga. Sosok itu tersenyum tipis kemudian menatap ke arah samping, tepat ketika sosok itu menoleh pintu ruangan di sebelah Edrea lantas terbuka dengan lebar membuat Edrea terkejut seketika di saat pintu terbuka dengan lebar.


Tolong bantu aku keluar dari lukisan tersebut, aku terjebak di dalamnya...


Ucap sosok tersebut sambil menunjuk ke arah lukisan yang terpajang di dinding ruangan tersebut.


"Bagaimana caraku untuk membantu mu?" ucap Edrea kemudian.


Mendengar ucapan Edrea sosok itu lantas langsung menoleh ke arah Edrea sambil tersenyum dengan tipis kemudian kembali menunjuk ke arah lukisan tersebut, membuat Edrea lantas kebingungan akan maksud sebenarnya dari sosok tersebut.


"Apa kau sungguh menginginkan aku melakukannya?" tanya Edrea sambil mengambil cutter tersebut dan kembali bertanya kepada sosok itu.


Sosok tersebut mengangguk dengan yakin sambil terus menunjuk ke arah lukisan tersebut, membuat Edrea langsung menghela nafasnya dengan panjang. Edrea yang tahu dengan jelas apa permintaan dari sosok tersebut lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah di mana lukisan itu berada.


Ditatapnya sesekali ke arah sosok tersebut kemudian menatap kembali ke arah lukisan itu. Dengan langkah kaki yang perlahan Edrea terus membawa kedua kakinya mendekat ke arah lukisan tersebut. Helaan nafas bahkan terdengar dengan jelas dari mulut Edrea begitu ia sampai di depan lukisan yang di tunjuk oleh sosok tersebut.


Dengan ragu-ragu Edrea mulai membuka cutter yang ada di tangannya secara perlahan kemudian mengarahkannya ke atas dan bersiap untuk merobek lukisan itu.

__ADS_1


"Maafkan aku yang tidak meminta ijin mu Bar..." ucap Edrea pada diri sendiri.


Tepat setelah mengatakan hal tersebut Edrea mengarahkan pisau itu secara vertikal dan juga horizontal di area tepi lukisan tersebut yang langsung membuat lukisan itu sobek dan hampir jatuh. Sebuah cahaya berwarna keputihan mendadak muncul di saat Edrea berhasil menyobek sebagian lukisan tersebut, membuat Edrea yang melihat cahaya tersebut dengan spontan menutup kedua matanya karena cahaya sinar terang yang berasal dari lukisan itu.


Melihat kilauan cahaya yang keluar dari bingkai lukisan tersebut sosok yang menyerupai arwah Steven perlahan-lahan mulai berubah wujud menjadi sosok ular hitam besar dengan mata merah menyala. Sosok itu nampak berdesis seakan tengah senang akan pemandangan yang ada di dalamnya. Dengan memanfaatkan kondisi Edrea yang tengah menutup matanya, sosok ular itu lantas langsung mengibaskan ekornya dan mendorong tubuh Edrea masuk ke dalam bingkai lukisan tersebut.


"Aku mendapatkan mu!" ucap sosok ular tersebut.


***


Sementara itu Barra yang kebagian mencari di lantai atas, lantas secara perlahan terlihat menyusuri area lantai dua mencari keberadaan sosok arwah Steven untuk menjemputnya. Disaat langkah kaki Barra kian masuk dan menyusuri area lantai dua, sebuah aura yang begitu gelap mendadak ia rasakan membuat langkah kakinya lantas terhenti seketika. Barra yang bisa merasakan aura tersebut lebih dominan di lantai satu terlihat melirik dari lantai atas ke arah bawah untuk mengecek keadaan.


"Edrea!" ucap Barra yang teringat akan posisi Edrea yang saat ini tengah berada di lantai bawah.


Tak ingin menyianyiakan waktunya, Barra yang mulai khawatir kepada Edrea langsung berbalik badan dan bersiap untuk melangkahkan kakinya kembali ke bawah, namun sebuah suara pintu yang di buka dengan keras dari arah ruangan yang tidak jauh dari posisinya, membuat langkah kaki Barra terhenti seketika. Barra terdiam di tempatnya seakan bingung harus turun ke bawah dan melihat keadaan Edrea atau melanjutkan langkah kakinya dan melihat ke arah sumber suara siapa tahu itu adalah sosok arwah Steven.


"Sial!" ucap Barra dengan kesal ketika kini pikirannya tengah bercabang.


Setelah beberapa menit berpikir pada akhirnya pilihannya jatuh kepada suara pintu ruangan yang terbuka. Dengan langkah yang bergegas Barra mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah sumber suara tersebut berasal. Hingga ketika langkah kaki berhenti tepat di sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka lebar, Barra lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


Bruk...


Suara pintu tertutup dengan sendirinya membuat Barra langsung berbalik badan dengan seketika. Barra benar-benar merasa seperti tengah dipermainkan oleh seseorang. Hingga ketika ia berusaha pergi dari sana sebuah tawa yang berasal dari seseorang membuat Barra dengan perlahan mulai berbalik badan.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya?" ucap Barra dengan manik mata yang menatap tajam.


Bersambung


__ADS_2