Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Ayo ikut aku!


__ADS_3

Barra yang baru saja mengetahui kabar tentang kematian Sita neneknya Edrea, lantas segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya untuk pergi menuju ke dunia manusia dan mendatangi Edrea, Barra yakin Edrea pasti tengah hancur saat ini.


Barra melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya secara perlahan namun dengan langkah kaki yang pasti, sedangkan Mira yang memang saat ini juga sedang melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan Barra, lantas bertemu dengan Barra di lorong ruangannya, membuat langkah kaki Barra terhenti seketika di saat berpapasan dengan Mira.


Mira menatap Barra dengan tatapan yang penuh dengan kekhawatiran, tidak hanya Barra bahkan Mira pun merasakan hal yang sama tepat ketika mendengar kabar tentang kematian Sita nenek Edrea.


"Apa kamu mau ke rumah Edrea?" tanya Mira secara langsung begitu melihat Barra melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.


"Iya, mungkin agak lama karena Edrea pasti akan kesepian setelah kepergian Sita." ucap Barra ketika mendengar pertanyaan dari Mira barusan.


"Ijinkan aku ikut bersama mu Bar, ku mohon..." ucap Mira dengan nada yang memohon.


"Sebaiknya jangan... karena kondisinya masih sangat kacau, aku takutnya jika kamu datang akan memperumit keadaan." ucap Barra yang langsung membuat Mira terdiam seketika.


Barra benar benar mengerti bahwa Mira kini juga mengkhawatirkan Edrea, namun keadaan Edrea yang masih belum stabil emosinya pasti akan menimbulkan suasana yang tidak enak jika Mira tiba tiba datang ke rumah Edrea. Barra yang melihat Mira nampak kecewa lantas memegang pundak Mira berusaha untuk menenangkannya dan membuat Mira mengerti.


"Kita tunggu sampai situasinya sedikit lebih tenang oke? nanti baru kamu datang ke sana." ucap Barra dengan nada yang lebih rendah membuat Mira pada akhirnya mau tidak mau menuruti ucapan Barra demi kebaikan bersama.


Setelah mengatakan hal tersebut, Barra lantas kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan Mira di sana, namun ketika baru beberapa kali melangkah Barra kemudian menghentikan langkah kakinya dan menatap ke arah Mira.


"Jika kamu ingin membantu, pergilah ke gedung Apartment dan temui pak Surya katakan kepadanya bahwa seseorang yang ia tunggu kini sudah datang." ucap Barra memberikan perintah.


"Maksudmu pelayan mu sebelum Edrea? bukankah berapa nomor unit Apartemennya tidak ada yang tahu? lalu bagaimana aku mencarinya?" tanya Mira menatap bingung ke arah Barra.


"Jika kamu mencarinya dengan hati kamu pasti akan menemukannya." ucap Barra dengan tersenyum kemudian kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Mira di sana dengan pandangan yang bingung akan perintah dari Barra barusan.

__ADS_1


**


Mansion milik Edrea


"Aku menemukannya?" ucap Mira dengan raut wajah yang serius.


"Apa kamu yakin?" tanya Barra dengan nada yang serius.


Mira yang mendengar pertanyaan dari Barra barusan tentu saja langsung kesal, pertanyaan Barra benar benar seperti tengah meremehkannya, padahal butuh waktu berhari hari untuk Mira mencari tahu tentang unit Apartment Surya demi untuk menemukannya seperti perintah Barra, namun kini ketika Mira benar benar menemukan Surya, yang Mira dapat adalah sebuah pertanyaan yang meremehkannya.


"Jika aku berbohong, lalu untuk apa aku kemari Bar... apa menurut mu aku seiseng itu?" ucap Mira dengan nada yang ketus, membuat Barra langsung menghela nafasnya dengan panjang begitu mendengar ucapan ketus dari Mira barusan.


"Baiklah baiklah aku minta maaf kalau kata kata ku membuat mu tersinggung." ucap Barra pada akhirnya ketika melihat tatapan tajam dari Mira.


"Syukurlah kau peka!" ucap Mira dengan singkat.


Kedatangan Mira ke rumah ini bukanlah hanya sekedar menyampaikan pesan bahwa ia telah menemukan Surya, namun juga sekalian ingin melihat keadaan Edrea, namun Barra malah seenaknya memberikannya kembali perintah seakan tidak mengijinkan sama sekali Mira untuk bertemu dengan Edrea barang sebentar saja. Hal ini benar benar membuat Mira kesal bukan main karena tingkah Barra yang semena mena. Sedangkan Barra yang sama sekali tidak merasa bersalah, malah menatap ke arah Mira dengan tatapan yang bertanya tanya karena Mira bukannya langsung bergerak malah hanya diam dan menatapnya dengan tatapan yang kesal tanpa menjelaskan sesuatu apapun kepadanya.


"Mengapa kamu masih di sini?" tanya Barra dengan raut wajah yang penasaran.


"Aku bahkan belum sempat bertemu dengan Edrea Bar, setidaknya biarkan aku menemuinya terlebih dahulu... apakah kau setega ini padaku Bar?" ucap Mira dengan nada bicara yang kesal.


Sedangkan Barra yang mendengar rengekan Mira barusan lantas hanya menghela nafasnya dengan panjang kemudian memijit pelipisnya dengan pelan.


"Lalu kamu menginginkan aku yang bagaimana?" tanya Barra kemudian dengan tatapan yang bingung ke arah Mira.

__ADS_1


"Sudahlah lupakan, yang jelas ini adalah terakhir kalinya ya Bar... aku harap setelah tugas ku kali ini selesai kamu akan membiarkan ku bertemu dengan Edrea." ucap Mira dengan nada yang ketus kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Barra dan langsung berteleportasi ke tempat Stasiun Pemberhentian.


**


Sedangkan tanpa Mira dan juga Barra sadari, Kiera yang tadinya hendak bertanya kembali kepada Barra, lantas dikejutkan dengan kehadiran Mira yang tiba tiba di sana. Kiera yang melihat kemunculan Mira yang mendadak, lantas langsung menutup mulutnya dengan rapat kemudian bersembunyi di balik sofa ruang tamu di mansion Edrea. Dengan perasaan yang takut Kiera tanpa sengaja mendengarkan segala ucapan keduanya yang semakin terasa tidak masuk akal bagi Kiera, hingga sampai pada kepergian Mira yang secara tiba tiba, membuat Kiera yang semula sudah meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat hanyalah halusinasinya saja. Kini malah di buat semakin tidak percaya ketika melihat Mira kembali menghilang dari hadapan Barra.


Kiera yang melihat pemandangan tak asing itu, lantas langsung terduduk seketika sambil masih menutup mulutnya dengan rapat.


"Ternyata aku tidak mimpi... aku benar benar tidak sedang bermimpi!" ucap Kiera sambil memukul pipinya dengan keras mencoba untuk menyadarkan dirinya sendiri bahwa yang ia lihat semuanya bukanlah sebuah mimpi.


****


Setelah kepergian Mira dari hadapannya, Barra kemudian lantas melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah depan untuk mengecek apa yang tengah Edrea dan Fano bicarakan. Hanya saja ketika Barra sampai di sana, yang ia lihat hanyalah Edrea yang kini tengah menatap kosong ke arah depan, membuat Barra lantas mengerutkan keningnya dengan bingung ketika ia tak menjumpai sosok Fano di manapun.


"Ke mana Fano?" tanya Barra kemudian yang lantas membuat Edrea langsung dengan spontan menoleh ke arahnya.


"Sudah pergi" jawab Edrea dengan singkat.


"Bagus deh, kalau begitu ayo ikut aku sekarang!" ajak Barra sambil menarik tangan Edrea agar mengikuti langkah kakinya.


"Ke mana?" tanya Edrea dengan bingung.


"Ke tempat yang akan membuat mu bahagia" ucap Barra dengan tersenyum yang lantas membuat Edrea curiga ketika melihat senyuman Barra tersebut.


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2