
Edrea yang sedari tadi sibuk menggeser layar iPad, lantas kemudian langsung menghentikan gerakan tangannya ketika sebuah bayangan tentang ingatannya beberapa menit yang lalu sebelum Kiera meninggalkannya di lorong kelas kembali terlintas di benaknya.
"Jangan bilang ini ada hubungannya dengan Fano? jika ia.. tidak akan ku biarkan dia mengambil energi Kiera dengan mudah, tidak akan pernah!" ucap Edrea pada diri sendiri kemudian berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Max yang menatap kepergiannya dengan tatapan yang bingung.
"Eh tunggu..." teriak Max namun Edrea sudah keburu pergi dari hadapannya tanpa mengatakan sepatah kata apapun kepada Max.
Max yang di tinggal pergi oleh Edrea, hanya bisa menatap kepergiannya dengan tatapan yang bingung. Hingga ucapan Barra kemarin mendadak terlintas di benaknya begitu saja.
"Jangan bilang Edrea adalah penyelamat yang di bicarakan oleh tuan kemarin?" ucap Max kemudian sambil mencoba mengingat ingat ucapan Barra kemarin.
***
Sementara itu Edrea terus melangkahkan kakinya dengan bergegas menuju ke arah kelas Kiera, Edrea tahu Kiera ada kelas pagi ini. Tujuannya datang ke kelas hanya untuk memastikan bahwa Kiera benar benar masuk ke dalam kelas dan tidak menemui Fano.
"Semoga saja Kiera ada di kelas." ucap Edrea dalam hati.
Setelah melangkahkan kakinya beberapa menit, Edrea lantas menghentikan langkah kakinya ketika ia sampai di depan ruangan kelas Kiera. Diintipnya sedikit ke dalam melalui celah celah pintu ruangan tersebut. Edrea sedikit merasa lega ketika melihat Kiera tengah duduk dan memperhatikan dosen dalam menjelaskan materi.
"Syukurlah Kiera ada di sana." ucap Edrea dalam hati sambil mengelus dadanya dengan lega.
Edrea yang baru bisa bernafas dengan lega, lantas di kejutkan dengan sebuah suara yang langsung membuatnya dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.
"Rea..." panggil seseorang dari arah belakangnya.
"Eh Lita... kau membuat ku terkejut saja..." ucap Edrea ketika berbalik badan dan mendapati Lita di belakangnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? kelas bahkan sudah hampir di mulai... ayo kita pergi sekarang." ajak Lita kemudian sambil menarik tangan Edrea menjauh dari ruang kelas Kiera.
"Tapi aku... ada hal yang harus aku urus terlebih dulu..." ucap Edrea hendak menolak ajakan Lita, namun tangannya sudah terlebih dahulu di tarik oleh Lita menjauh dari sana.
"Sudahlah nanti saja, kau tahu bukan dosen kali ini sangatlah garang? jika kau terlambat satu menit saja ia pasti akan mengamuk." ucap Lita sambil terus menarik tangan Edrea agar mengikutinya.
__ADS_1
"Tapi.. aku..." ucap Edrea hendak kembali menolak namun tidak bisa dan pada akhirnya hanya bisa mengikuti arah tarikan dari Lita yang membawanya menuju ke arah ruang kelas.
****
Ruang kelas Kiera
Kiera yang tengah fokus memperhatikan materi, lantas di kejutkan dengan suara notifikasi yang terdengar bergetar pada ponsel miliknya. Kiera yang mengira itu penting lantas mencuri kesempatan untuk membukanya.
Setelah selesai kelas temui aku di gudang belakang.
Kiera yang membaca pesan tersebut agak sedikit berkerut dengan bingung ketika mendapati pesan singkat tersebut.
"Fano? tumben ngajak ketemu... ada apa?" ucap Kiera dalam hati bertanya tanya namun tidak kunjung mendapat jawaban apapun dari pertanyaannya.
**
Setelah menyelesaikan kelasnya Kiera merapikan beberapa buku dan memasukkannya ke dalam tas, Kiera bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kelas.
"Apa aku datang saja ya? sekalian menjelaskan segalanya agar segera beres dan antara aku juga Edrea tidak lagi canggung seperti sekarang ini." ucapnya pada diri sendiri.
Pada akhirnya Kiera memilih untuk melangkahkan kakinya dan memenuhi permintaan Fano yang memintanya untuk datang ke gudang belakang.
***
Sementara itu Edrea yang juga baru saja menyelesaikan kelasnya, lantas bergegas keluar dan menuju ke ruang kelas Kiera, berharap Kiera masih ada di sana.
Edrea yang melangkahkan kakinya dengan tergesa memasuki ruangan kelas, lantas langsung mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Kiera di sana, namun ia tidak mendapati Kiera di manapun. Perasaan khawatir dan juga gelisah mulai menyapa hatinya ketika Edrea tidak mendapati sosok Kiera di dalam ruangan kelas.
Edrea yang bingung harus bagaimana, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah kerumunan mahasiswa yang sedang membahas materi.
"Permisi... apa kalian ada yang tahu di mana Kiera?" tanya Edrea kemudian.
__ADS_1
"Dia sudah keluar dari tadi.. mungkin ke kantin atau enggak pulang kali.." ucapnya sambil mengingat ingat tentang Kiera.
"Oh begitu ya... terima kasih banyak..." ucap Edrea dengan wajah yang lesu kemudian berlalu pergi dari sana.
Edrea mengusap rambutnya dengan kasar karena kesal ia telah kecolongan. Edrea kemudian lantas menatap ke arah sekeliling, mencoba menerka nerka kemana perginya Kiera namun semakin diterka semakin ia tidak tahu dengan pasti kemana Kiera akan pergi saat ini.
"Argh... kemana aku harus mencari keberadaan Kiera saat ini? pikiran ku benar benar buntu sekarang.. Kiera di mana kamu berada?" ucap Edrea sambil menggigit kukunya dengan pelan mencoba berpikir akan keberadaan Kiera saat ini.
***
Gudang belakang
Kiera terlihat melangkahkan kakinya secara perlahan memasuki ruangan gudang dengan perasaan yang ragu ragu karena suasana gudang yang begitu sunyi dan sepi, membuat Kiera sedikit ketakutan ketika mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam gudang.
"Ini Fano benar benar memintaku datang ke mari? mengapa suasananya horor sekali sih?" ucap Kiera dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam gudang mencari keberadaan Fano di sana.
Sedangkan tanpa Kiera sadari sosok Fano nampak tengah berdiri di antara kegelapan menatap tajam ke arah di mana Kiera berada saat ini. Fano tersenyum dengan senang sambil sesekali mendesis ketika ia melihat kedatangan Kiera di gudang.
"Tikus sudah masuk ke dalam perangkap... saatnya sang ular beraksi dan menghabisi mangsanya dengan gerakan yang cepat." ucap Fano pada diri sendiri dengan nada yang lirih sambil terus mendesis menatap tajam ke arah Kiera saat ini.
**
Kiera terus melangkahkan kakinya sambil menengok ke arah kanan dan ke kiri mencoba mencari keberadaan Fano di sana.
"Fan... Fano.. kamu dimana? Fan.. Fano..." teriak Kiera secara berulang kali mencoba mencari keberadaan Fano di sana.
Hawa dingin mendadak terasa menusuk ke dalam tulangnya, hingga Kiera mengusap lengannya secara berulang kali untuk menghangatkan tubuhnya. Sebuah tangan besar mendadak menyentuh pundaknya, membuat Kiera langsung terdiam ketika merasakan tangan tersebut menyentuh pundaknya disertai dengan suara desisan layaknya seperti ular.
Kiera kemudian lantas perlahan lahan mulai memutar kepalanya untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut.
"Aaaaaaaa" teriak Kiera.
__ADS_1
Bersambung