Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Akulah satu-satunya


__ADS_3

Setelah memastikan bahwa pengemudi sedan berwarna putih tersebut tertangkap, baik Edrea maupun Mira lantas berteleportasi dan kembali menuju ke arah Stasiun pemberhentian. Dengan tawa yang mengembang di wajah keduanya lantas terlihat melangkahkan kakinya menyusuri area lorong Stasiun sambil membahas beberapa hal tentang yang mereka alami baru saja.


"Kau benar-benar sudah gila Mir, aku bahkan benar-benar kapok mengikuti mu.." ucap Edrea sambil bergidik ngeri ketika mengingat cara menyetir Mira yang ugal-ugalan tersebut.


"Ayolah Re... Jangan terlalu kolot, bukankah anak muda jaman sekarang cara menyetirnya mayoritas seperti itu?" ucap Mira dengan nada yang santai seakan tanpa beban sama sekali.


"Bicara mayoritas anak muda sayangnya aku termasuk ke dalam minoritas, jadi ku mohon jangan lagi-lagi karena aku sudah kapok!" ucap Edrea kemudian yang lantas membuat Mira tertawa begitu mendengar perkataan dari Edrea barusan.


Ketika keduanya tengah asyik berbicara dan membahas segala hal bersama, sebuah suara yang menyapa telinga keduanya lantas terdengar dan langsung menghentikan langkah kaki Edrea dan juga Mira.


"Apa kalian sudah puas bersenang-senang?" tanya sebuah suara yang ternyata berasal dari Barra.


Baik Mira maupun Edrea lantas terlihat langsung menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar suara tak asing menyapa telinga keduanya. Mira yang tahu ia berada di tengah-tengah pasangan yang tak mengenal tempat pada akhirnya membuat Mira mengundurkan diri dan pergi dari sana meninggalkan keduanya karena tidak ingin lebih lama lagi menjadi obat nyamuk di antara keduanya.


"Sebaiknya aku pergi karena kehadiran ku pasti akan terkesan aneh di sini." ucap Mira kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana.


"Tapi Mir..." ucap Edrea hendak menolak namun Mira malah terus melangkahkan kakinya pergi sambil melambaikan tangannya, membuat Edrea hanya bisa menghela napasnya dengan kesal ketika melihat tingkah Mira yang seperti itu.


Kini di lorong Stasiun hanya tersisa Edrea dan juga Barra. Suasana mendadak menjadi hening tanpa pembicaraan apapun, membuat Edrea benar-benar mati kutu karena yang dilakukan oleh Barra sedari tadi hanya menatapnya tanpa mengatakan sepatah kata apapun juga. Edrea melirik sekilas ke arah Barra dimana saat ini ia masih terlihat menatap ke arahnya dengan tatapan yang serius, membuat Barra lantas menghela napasnya dengan panjang ketika melihat Edrea yang menundukkan kepalanya barusan.

__ADS_1


"Apa kamu ingin minum milk tee boba?" ucap Barra kemudian yang lantas membuat Edrea langsung mendongak dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Barra barusan yang terkesan begitu aneh karena bukannya mengatakan sesuatu malah mengajaknya minum milk tea boba, bukankah Barra sangat aneh?


**


Cafe


Setelah Edrea mengiyakan tawaran dari Barra yang mengajaknya untuk pergi meminum milk tea boba, pada akhirnya saat ini keduanya terlihat tengah duduk di area paling sudut Cafe tersebut dengan di temani dua cup milk tea boba dan juga lava cake di atas meja keduanya. Keheningan lagi-lagi kembali terjadi di sana membuat Edrea agak sedikit canggung ketika kembali di hadapkan dengan situasi seperti ini.


"Sebenarnya... Apa tujuan mu mengajak ku kemari Bar? Situasi seperti ini benar-benar terasa aneh untuk ku. Jika tidak ada yang ingin kita bicarakan lebih baik aku pulang saja sekarang." ucap Edrea kemudian karena tidak tahan akan situasi yang penuh dengan keheningan seperti saat ini.


Mendengar perkataan dari Edrea barusan membuat Barra lantas menghela napasnya dengan panjang. Barra terlihat memperbaiki posisi duduknya kemudian kembali menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang menelisik.


Sedangkan Edrea yang mendengar perkataan dari Barra barusan tentu saja terkejut bukan main. Tidak hanya terkejut bahkan sampai menatap tak percaya ke arah Barra ketika kata "Berkencan" keluar dengan begitu mudahnya dari mulut Barra yang mengatakannya dengan nada yang begitu datar.


Melihat Edrea yang hanya terdiam sambil termenung begitu saja, membuat Barra lantas menatap dengan tatapan yang mengernyit ke arah Edrea.


"Apakah ada sesuatu yang salah?" tanya Barra kemudian dengan raut wajah yang penasaran namun Edrea masih terdiam tanpa menanggapi perkataannya sama sekali.


Barra yang tak kunjung mendapat jawaban apapun dari Edrea kemudian mencoba untuk menggoyangkan bahu Edrea yang tentu saja langsung membuyarkan segala lamunan Edrea sedari tadi.

__ADS_1


"Ah iya maaf..." ucap Edrea kemudian yang terkejut ketika Barra menggoyang bahunya barusan.


"Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Barra sekali lagi karena sedari tadi ia sama sekali tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya barusan.


"Iya tentu, perkataan mu tentang berkencan benar-benar membuat konsentrasi ku buyar!" ucap Edrea dalam hati dengan raut wajah yang saat ini sudah memerah karena ucapan dari Barra barusan.


"Re... Rea..." panggil Barra kemudian yang lagi-lagi malah melihat Edrea melamun tanpa menanggapi pertanyaan dari Barra barusan.


"Ah iya maafkan aku, milk tea boba ini rasanya luar biasa." ucap Edrea kemudian sambil mulai meminum milk tea boba di hadapannya dengan terburu-buru, membuat Barra yang mendengar perkataan tidak nyambung dari Edrea barusan hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang bingung.


***


Sementara itu di sebuah hutan yang jauh dari peradaban terlihat Angkara yang kini sudah perlahan-lahan bisa merubah bentuknya menjadi manusia, yang kini nampak terlihat menggeliat dengan ekor ularnya. Raganya belum terlalu sempurna sehingga Angkara harus cukup puas dengan bagian tubuh atasnya yang berwujud manusia sedangkan bagian bawahnya berwujud ular.


Kekuatannya belum sempurna terkumpul dan kembali seperti semula. Apalagi ketika Barra mengobrak-abrik sarangnya kala itu dan mencuri cangkang manusianya, membuat Angkara harus kembali mengulangi lagi dari awal segala prosesnya. Sambil menatap bulan sabit yang terlihat jelas di langit malam itu, Angkara nampak menggeliat mendekati ke arah bibir gua untuk melihat lebih jelas bulan sabit di langit malam itu. Seulas senyum terlukis dengan jelas diwajahnya ketika ia menatap lebih jelas ke arah bulan sabit tersebut.


"Sebentar lagi saatnya... Aku yakin jika hari itu tiba akan aku pastikan bahwa akulah pemenangnya. Baik dulu maupun sekarang tetaplah aku yang akan menjadi satu-satunya!" ucap Angkara dengan tawa yang menggema memenuhi seluruh ruangan di gua tersebut, hingga membuat beberapa burung walet dan juga kelelawar nampak berterbangan ketika mendengar suara tawa yang menggelegar berasal dari Angkara barusan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2