
Di salah Stasiun Kereta yang masih terletak di Ibu kota
Terlihat Edrea tengah berdiri di antara tiang dengan pondasi dinding tembok yang saling berhadapan satu sama lain seakan akan tampak seperti sebuah pintu masuk, padahal keduanya adalah pilar penghubung sebuah papan reklame yang berisi tentang informasi keberangkatan kereta di stasiun itu.
Edrea menatap kedua tiang tersebut dengan tatapan yang menelisik dalam waktu yang cukup lama, Edrea tidak terlalu yakin jika kedua tiang ini adalah pintu masuk ke Stasiun Pemberhentian, namun jika mengikuti arahan dari Arya seharusnya pilar yang di maksud oleh Arya adalah pilar di Stasiun ini.
"Apa benar ini tiangnya? kalau bukan gimana?" ucap Edrea dengan nada yang lirih pada diri sendiri.
Datanglah ke sebuah Stasiun kereta yang letaknya tidak jauh dari sini namun tidak terlalu dekat dari sini, carilah dua tiang atau pilar dengan pondasi tembok yang bentuknya seperti sebuah pintu, ada sebuah papan reklame yang berisi tentang informasi keberangkatan Stasiun tersebut yang menjadi penanda dari kedua pilar tersebut. Katakan sebuah kata pembuka tepat ketika kamu hendak masuk ke dalamnya, jika kamu pernah masuk ke dalam Stasiun Pemberhentian atau sudah di berikan akses, maka kamu akan bisa masuk ke dalamnya.
Ucapan Arya tadi di kampus benar benar terngiang ngiang di telinganya, jika mengikuti arahan dari Arya kedua tiang atau pilar di hadapannya ini adalah yang paling pas dan sesuai dengan petunjuk dari Arya.
"Ah bodoh lah... mending aku coba dulu saja..." ucap Edrea sambil mulai melangkahkan kakinya maju begitu saja memasuki ke dua pilar tersebut.
Bruk
Suara tabrakan dengan jelas terdengar menggema di sana, membuat Edrea menjadi pusat tontonan beberapa orang yang berlalu lalang di Stasiun tersebut, karena bukannya masuk ke dalam Stasiun Pemberhentian ia malah kepentok papan reklame yang ada di sana.
"Aw..." pekik Edrea sambil mengusap jidatnya yang terasa sakit akibat benturan barusan.
Edrea menatap kembali kedua pilar tersebut dengan tatapan yang kesal sambil berpikir apa yang salah, mengapa dia tidak bisa masuk ke dalam.
Hingga sebuah ingatan tentang ucapan Arya kembali terlintas di benaknya.
"Apa mungkin karena aku tidak membaca kata pembukanya?" ucap Edrea kemudian yang baru mengingat akan hal tersebut.
Edrea kemudian lantas menghembuskan nafasnya secara perlahan dan mulai fokus menatap ke arah pilar tersebut, sebuah kata pembuka "open" terdengar lirih keluar dari mulut Edrea, beriringan dengan suara itu Edrea mulai melangkahkan kakinya secara perlahan maju dan masuk di antara dua pilar tersebut dengan langkah kaki yang yakin.
***
__ADS_1
Ruangan Barra
Pembicaraan Ibu dan juga Barra terus berlanjut dengan sesekali di selingi obrolan santai, walau sebenarnya perkataan dari Ibu selalu saja mengandung teka teki atau makna tersendiri yang harus Barra pecahkan.
Setelah obrolan mereka yang berlangsung beberapa menit, Ibu kemudian berpamitan pulang dari tempat Barra.
"Terima kasih atas kunjungannya Bu..." ucap Barra yang melepas kepergian Ibu dari sana.
Ibu yang mendengar ucapan Barra barusan lantas tersenyum ke arah Barra.
"Sepertinya dia akan datang kemari.." ucap Ibu dengan spontan yang lantas membuat Barra bingung akan maksud dari ucapan Ibu barusan.
"Siapa yang akan datang Bu?" tanya Barra dengan raut wajah yang penasaran.
"Datanglah ke pintu masuk sekarang, maka kamu akan tahu siapa yang akan datang..." ucap Ibu sambil tersenyum ke arah Barra.
**
Sesuai instruksi dari ibu, Barra kini tengah berdiri menanti kedatangan seseorang di sana dengan tatapan yang serius ke arah pintu masuk.
Sebuah cahaya nampak terlihat bersinar di pintu masuk yang menandakan seseorang tengah memasuki pintu penghubung antara Dunia manusia dengan Stasiun Pemberhentian.
Barra yang sedari tadi memasang wajah serius, lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika melihat yang datang adalah Edrea dengan langkah perlahan sedangkan matanya terpejam dengan sempurna.
"Sia sia aku menunggu di sini..." ucap Barra dalam hati sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea.
"Apa kau akan terus melangkah dengan mata yang tertutup seperti itu?" ucap Barra dengan nada yang dingin membuat Edrea dengan spontan langsung membuka matanya dengan sempurna.
"Astaga kau mengejutkan ku saja!" pekik Edrea ketika mendengar suara dingin yang tidak asing di pendengarannya.
__ADS_1
"Apa yang kau cari kali ini? aku yakin kau datang ke sini bukan untuk menemui ku bukan?" tanya Barra secara langsung tanpa basa basi terlebih dahulu.
"Em itu... sebenarnya..." ucap Edrea bingung hendak menjelaskan bagaimana kepada Barra tentang niat tujuannya datang kemari.
"Apa?" tanya Barra tidak sabaran.
"Ada seorang kenalan ku yang meninggal pagi ini, apa aku boleh.." ucap Edrea dengan nada yang ragu ragu namun langsung di potong oleh Barra.
"Tidak!" ucap Barra dengan singkat.
"Aku bahkan belum mengatakan niat ku tapi kamu sudah memotongnya, itu namanya tidak sopan tahu..." ucap Edrea dengan nada yang kesal setelah mendengar jawaban dari Barra barusan.
"Kenalan mu mati karena bunuh diri, dalam kasus ini seseorang yang melakukan bunuh diri sama dengan seseorang yang melakukan tindak kejahatan. Jadi untuk kasus ini tidak akan ada bantuan ataupun pelayanan khusus untuk menyelesaikan apa yang belum terselesaikan di dunia." ucap Barra menjelaskannya secara singkat.
"Tega sekali kalian, lagi pula mereka juga tidak menginginkan hal tersebut, namun keadaan yang memaksa mereka untuk melakukan perbuatan tercela itu." ucap Edrea yang tidak terima akan ucapan Barra.
"Semua orang pasti punya alasan untuk melakukannya, namun bunuh diri bukanlah penyelesaian yang tepat untuk sebuah masalah, apa kau mengerti?" ucap Barra lagi yang langsung membuat Edrea mencebikkan mulutnya dengan kesal ketika kembali mendengar penyangkalan dari Barra barusan.
"Lalu kedatangan ku sia sia dong jika kamu tidak mengijinkan ku untuk bertemu dengan kenalan ku?" ucap Edrea dengan nada sendu berharap Barra akan luluh dan mengijinkannya untuk bertemu dengan Sila.
Edrea benar benar penasaran akan alasan Sila mengakhiri hidupnya sendiri, padahal dulu Sila terkenal sebagai pribadi yang ceria dan ramah. Bagaimana bisa tiba tiba Sila memutuskan untuk bunuh diri?
"Ayolah Bar... lagi pula aku hanya ingin mengetahui alasannya saja tidak lebih, aku janji setelah aku mengetahui alasan kematiannya aku akan langsung pergi dan tidak akan menimbulkan keributan, boleh ya?" ucap Edrea lagi mencoba untuk membujuk Barra agar mengijinkannya untuk bertemu dengan arwah Sila.
Barra yang mendengar permohonan Edrea, lantas terdiam seketika seakan tengah menimbang keputusan apa yang akan ia ambil untuk Edrea.
"Baiklah tapi ada satu syaratnya." ucap Barra kemudian pada akhirnya, membuat Edrea yang mendengar hal tersebut lantas langsung menjadi bersemangat.
"Apa syaratnya?" tanya Edrea tidak sabaran.
__ADS_1
Bersambung