Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Jika Barra ada Siluman ular hitam juga ada


__ADS_3

"Ada apa?" tanya Barra.


Mendengar pertanyaan tersebut dari Barra, Edrea sedikit merasa ragu untuk bertanya kepada Barra tentang masalah ini. Namun rasa penasaran yang mendadak muncul dalam diri Edrea tepat setelah Edrea bertemu dengan Mira, membuatnya tidak lagi bisa menahan untuk menanyakan segalanya kepada Barra. Mungkin jika Edrea bertanya hatinya akan sedikit lebih lega, bukankah begitu?


"Apakah selama ini Fano adalah jelmaan dari Siluman ular hitam?" tanya Edrea pada akhirnya dengan nada yang sedikit ragu takut Barra tidak akan menjawab pertanyaannya mengingat Siluman ular hitam adalah hal yang sensitif untuk Barra.


Barra yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung terdiam sejenak. Pikirannya melayang memutar kembali ingatan dimana Fano yang mendadak bertingkah aneh kala itu. Helaan nafas lantas terdengar berhembus dari mulut Barra, ditatapnya Edrea dengan tatapan yang aneh membuat Edrea langsung menelan salivanya dengan kasar.


"Bukan, hanya saja Siluman ular hitam tersebut menggunakan tubuh Fano sebagai cangkang untuknya beradaptasi dengan lingkungan sekitar." ucap Barra kemudian, membuat Edrea langsung terdiam seketika.


Pikiran Edrea melayang memikirkan segala hal yang mungkin saja tidak perlu ia pikirkan. Ada perasaan simpati dalam diri Edrea ketika mendengar bahwa Fano hanya dijadikan cangkang oleh Siluman ular hitam tersebut. Meski masih ada sedikit rasa kesal dalam diri Edrea, namun Edrea sama sekali tidak mengharapkan hal ini terjadi kepada Fano.


"Lalu di mana jiwa Fano saat ini?" tanya Edrea kemudian.


Barra yang mendengar ucapan Edrea baru saja tentu saja langsung mengernyit seakan bertanya-tanya, untuk apa Edrea bertanya dengan jiwa Fano? Barra menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang menelisik, membuat Edrea langsung menjadi salah tingkah ketika mendapat tatapan seperti itu dari Barra sedari tadi.


"Mengapa kamu menatap ku seperti itu? Apakah ada sesuatu?" tanya Edrea dengan nada yang tergugup.


Barra yang melihat Edrea salah tingkah lantas langsung bangkit dari posisinya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea, kemudian mengunci tubuh Edrea di kursi dengan kedua tangan Barra yang di letakkan pada pegangan kursi di bagian kanan dan kiri Edrea. Sedangkan Edrea yang tiba-tiba mendapat perlakuan tersebut lantas berusaha memundurkan tubuhnya namun mentok karena terdapat sandaran kursi yang kini ia duduki, sehingga yang bisa dilakukan Edrea hanya diam di tempat tanpa bisa melakukan apa-apa.


"Jangan coba-coba untuk mencari keberadaan jiwa Fano, mengerti?" ucap Barra dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


"Ba...bagaimana kamu bisa tahu..." ucap Edrea dengan terbata-bata seakan terkejut jika Barra mengetahui niatannya.


Mendengar perkataan Edrea barusan langsung membuatnya menyentil jidat Edrea dengan pelan kemudian bangkit dari posisinya sambil bersendekap dada.


"Aku tahu isi pikiran mu itu, jadi sebelum kau memulainya hentikan sekarang juga, mengerti?" ucap Barra memperingati Edrea agar tidak melakukan hal-hal gila yang mungkin akan membawanya ke dalam marabahaya.


Edrea yang mendengar ancaman tersebut lantas langsung mengalihkan pandangannya kemudian mengambil milk tea miliknya yang terletak di atas meja Barra dan meminumnya dengan santai. Membuat Barra yang melihat tingkah Edrea seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan pelan.


***


Keesokan harinya di kampus


"Apa kau sudah mendengar berita hangat akhir-akhir ini?" tanya sebuah suara yang ternyata adalah Kiera.


Edrea yang mendengar pertanyaan dari Kiera barusan terdiam sejenak. Jika Edrea tidak salah menduganya kabar yang dimaksud oleh Kiera sudah pasti kabar tentang penemuan beberapa mayat dengan kematian yang aneh.


"Apa ini tentang penemuan mayat akhir-akhir ini?" tanya Edrea yang langsung di balas Kiera dengan anggukan kepala.


Kiera yang tidak menyangka Edrea mengetahui berita tersebut tentu saja langsung bersemangat dan memulai ceritanya tentang penemuan mayat dipinggiran kota yang kematiannya sama dengan teman sekampusnya beberapa waktu yang lalu. Sepanjang koridor yang terdengar di telinga Edrea hanyalah sebuah dugaan serta beberapa penemuan yang berasal dari Kiera, di mana ia ikut menyambung-sambungkan berita yang ia dapat dari internet menjadi sebuah opini yang mungkin masuk akal tentang penemuan mayat yang lagi viral belakangan ini.


Edrea menggelengkan kepalanya dengan pelan ketika mendengar Kiera bercerita tentang kemungkinan terbesar kematian mereka di alami karena gizi buruk, mengingat keadaan mereka yang hanya tersisa tulang dan juga kulitnya saja, benar-benar terlihat seperti seseorang yang kekurangan gizi. Hingga kemudian ketika opini lain yang berasal dari Kiera menghampiri telinga Edrea, seulas senyum yang tadinya terlukis di wajahnya mendadak menghilang dan berganti dengan raut wajah penuh ketegangan.

__ADS_1


"Atau mungkin energi kehidupan mereka diserap oleh sesuatu sehingga menyebabkan tubuh mereka menjadi seperti itu, bagaimana menurut mu tentang ini?" tanya Kiera kemudian.


Edrea yang sedari tadi mendengar opini Kiera tentu saja terkejut ketika Kiera tiba-tiba mengatakan hal tersebut, membuat Kiera yang melihat wajah terkejut Edrea lantas semakin memperkuat dugaannya.


"Jangan sembarang kamu Ki, lagi pula makhluk apa yang bisa menyerap energi kehidupan seseorang?" tanya Edrea kemudian mencoba mengalihkan pembicaraan Kiera.


"Aku serius lah, apa kamu belum mendengar tentang makhluk yang ada di legenda jaman dulu? Siluman ular hitam!" ucap Kiera yang lagi lagi mampu membuat Edrea terkejut ketika mendengar ucapannya.


"Jangan berlebihan lagi pula itu hanya legenda." ucap Edrea sambil menatap ke arah Kiera dengan tatapan yang serius.


"Jika Barra ada itu artinya Siluman ular hitam juga ada dan aku percaya itu!" ucap Kiera dengan kekeh kemudian berlalu pergi meninggalkan Edrea di sana.


Edrea yang melihat Kiera berlalu pergi meninggalkannya, lantas berusaha mengejar langkah kaki Kiera untuk menjelaskan perkara Siluman ular hitam yang baru saja keduanya ributkan. Hingga tiba-tiba Edrea yang terlalu fokus mengejar langkah kaki Kiera tanpa sadar ia malah menabrak seseorang, namun untungnya tidak sampai terjatuh karena tangannya yang sigap memegang bahu orang yang ia tabrak barusan.


"Ah maaf.. maaf... aku terlalu terburu-buru tadi... Fano!" ucap Edrea dengan wajah yang terkejut ketika orang yang ia tabrak barusan adalah Fano.


Fano yang mendengar panggilan dari Edrea barusan sama sekali tidak merespon, malah hanya menatap sekilas ke arah Edrea dengan tatapan yang kosong kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Edrea dengan raut wajah yang bingung akan sikap dari Fano barusan.


"Ada apa dengan Fano sebenarnya?" tanya Edrea pada diri sendiri sambil terus menatap ke arah kepergian Fano.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2