
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?" ucap Edrea kemudian dengan polosnya.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Barra dan juga Mira tentu saja langsung menatap ke arah Edrea secara bersamaan. Keduanya nampak terdiam dan hanya menatap ke arah Edrea, membuat Edrea semakin kebingungan karena sama sekali tidak mengerti akan kemana arah pembicaraan antara Mira dan juga Barra sebenarnya sedari tadi.
"Sebaiknya kamu tidak mencari tahu ataupun bertanya karena jika tidak kamu pasti akan membuat masalah kembali." ucap Barra dengan nada yang datar namun berhasil membuat Edrea cemberut ketika mendengarnya.
Sedangkan Mira yang mendengarkan larangan tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala akan tingkah keduanya yang begitu terkesan tarik ulur. Entah karena keduanya yang tidak sadar bahwa mereka berdua saling menyukai atau memang karena keduanya yang masih tetap mempertahankan ego mereka masing-masing. Mira menatap ke arah interaksi keduanya sambil mengambil posisi bersendekap dada.
"Apa kalian berdua membuat ku ada disini hanya untuk menonton kalian berdua yang sedang dimabuk asmara ini?" sindir Mira yang lantas menghentikan segala percekcokan keduanya.
Edrea yang mendapat sindiran tersebut tentu saja langsung terdiam seketika kemudian menatap ke arah Barra dengan tatapan yang melotot, namun bukan Barra namanya kalau terus menanggapi tatapan tersebut, yang ada saat ini Barra malah memalingkan mukanya srhingga membuat Edrea kian merasa kesal ketika mendapatkan perlakuan itu dari Barra.
Edrea yang mulai kesal akan sikap Barra barusan lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mira dan langsung menggandeng tangan Mira keluar dari ruangan tersebut, membuat Mira yang digandeng begitu saja hanya bisa mengikuti langkah kaki Edrea yang membawanya pergi keluar tanpa bisa protes sama sekali.
Barra yang melihat kepergian Edrea dan juga Mira dari ruangannya, tentu saja hanya bisa tersenyum karena tahu Edrea pasti sedang marah kepadanya saat ini karena ia sama sekali tidak memberitahu tentang masalah Dora maupun masalah Darma kepadanya. Barra memang sengaja tidak memberitahu Edrea tentang hal ini karena Barra hanya ingin Edrea cukup hidup dengan baik dan melanjutkan hidupnya, jika sampai Edrea tahu hukuman apa yang ia berikan kepada Dora atau Darma yang dilakukan oleh Mira, rasa simpati dalam diri Edrea pasti akan kembali menimbulkan masalah yang sama sekali tidak diinginkan oleh Barra.
__ADS_1
"Setidaknya mungkin ini lebih baik." ucap Barra kemudian sambil terus menetap kepergian Mira dan juga Edrea dari ruangan kerjanya.
***
Dunia manusia Kafe pelangi
Di sudut Kafe terlihat Mira dan juga Edrea tengah menikmati minuman boba yang sedang viral belakangan ini. Keheningan terjadi diantara keduanya yang terdengar sedari tadi hanyalah suara seruputan minuman tersebut baik dari Edrea maupun dari Mira sekalipun. Mira yang sama sekali tidak menyukai kecanggungan ini lantas langsung meletakkan minuman tersebut ke atas meja kemudian menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang menelisik.
"Kau menyukai Barra begitu pula sebaliknya, bukan? Tak perlu bersandiwara lagi karena akting mu dan juga Barra sangatlah buruk!" ucap Mira secara langsung.
Mendengar tebakan tersebut membuat Edrea langsung tersedak seketika. Edrea bahkan tidak menyangka bahwa Mira akan langsung dengan mudah menebaknya seperti ini. Sedangkan Mira yang melihat Edrea baru saja tersedak lantas bangkit dari tempat duduknya dan menepuk pundak Edrea beberapa kali untuk meredakan batuknya.
Disaat Mira sedang asyik menggoda Edrea, sebuah suara yang mendadak menyapa telinga keduanya membuat gelak tawa Mira langsung terhenti seketika. Ada semacam aura aneh yang mendadak terasa ketika suara tersebut menghampiri keduanya, membuat Mira sedikit mengernyit ketika merasakan aura tersebut.
"Edrea... Ya ampun apa kabar?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Edrea langsung menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Lidia! Oh hai...." ucap Edrea dengan raut wajah bahagia begitu ia mengetahui bahwa suara tersebut berasal dari teman masa kecilnya.
Perempuan yang di panggil Lidia itu nampak tersenyum dengan manis ke arah Edrea dan juga Mira sambil terus bercerita tentang masa lalu dan juga masa sekarang dengan bahagia. Mira yang memang tidak mengenal Lidia hanya terlihat diam dan mengamati keduanya saja tanpa ikut nimbrung maupun menanggapi pembicaraan keduanya. Meski Edrea sudah memancing Mira sekalipun untuk bergabung, namun sayangnya Mira masih tetap diam dan fokus mencari apa yang salah dalam diri Lidia sehingga Mira merasakan ada sesuatu yang salah dalam dirinya.
Lidia dan juga Edrea terus saja bercerita tanpa mengenal waktu hingga ketika kaki Lidia yang sudah mulai pegal karena sedari tadi terus berdiri di sebelah meja Edrea, lantas mulai berpamitan kepada Edrea. Lidia meninggalkan nomer kontak yang bisa dihubungi oleh Edrea sekaligus menyambung tentang hubungan pertemanan yang terputus beberapa tahun karena kepindahan Lidia saat itu, membuat Edrea begitu bahagia karena pada akhirnya bisa kembali mendengar kabar dan berhubungan dengan Lidia.
Setelah berpamitan dengan Edrea dan juga Mira di sana, Lidia terlihat melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Kafe tersebut dengan tatapan Mira yang tak pernah lepas menatap ke arah Lidia bahkan hingga kepergiannya dari hadapan keduanya. Edrea yang belum sadar sepenuhnya dengan Mira yang sedikit aneh, lantas terlihat memasukkan nomor ponsel Lidia ke dalam kontak telponnya dengan santai kemudian menyeruput minuman boba tersebut sambil tersenyum dengan sumringah.
"Siapa dia?" tanya Mira kemudian kepada Edrea.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Edrea lantas tersenyum ke arah Mira kemudian mulai menceritakan bahwa Lidia adalah teman masa kecilnya yang sempat kehilangan kontak karena Lidia yang tiba-tiba pindah sekolah waktu itu. Mira yang mendengar penjelasan dari Edrea sama sekali tidak merasakan ada yang aneh dari cerita itu. Helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Mira, membuat Edrea yang mendengar helaan napas Mira lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung seakan bertanya-tanya apa yang sebenarnya yang membuat Mira nampak begitu gusar saat ini.
Edrea yang merasa ada yang tidak beres dengan Mira, lantas mulai menatap ke arah Mira dengan tatapan yang menelisik sekaligus bertanya-tanya serta penasaran akan apa yang sedang terjadi kepada Mira saat ini. Hingga kemudian sebuah perkataan yang keluar dari mulut Mira secara tiba-tiba membuat Edrea langsung merasa terkejut seketika seakan tidak percaya akan apa yang dikatakan oleh Mira barusan tentang Lidia.
"Teman mu akan meninggal malam ini!" ucap Mira dengan nada yang datar membuat Edrea tentu saja langsung terkejut seketika disaat mendengar perkataan dari Mira barusan.
__ADS_1
"Apa maksud mu Mir?"
Bersambung