Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sebuah bangunan rumah


__ADS_3

Di salah satu bangunan rumah dengan area perkebunan di kanan kirinya terlihat Edrea tengah melangkahkan kakinya dengan secepat mungkin mendekat ke arah bangunan rumah tersebut. Edrea yang baru saja sampai, lantas terlihat menatap ke arah layar ponselnya dan yakin bahwa Kiera serta pria itu ada di dalam bangunan rumah ini.


Ditatapnya area bangunan rumah tersebut dengan tatapan yang menelisik seakan mencari tahu bagaimana caranya agar Edrea bisa masuk ke dalam rumah tersebut. Beberapa menit mencari Edrea yang tak kunjung menemukan jalan atau pintu masuk ke dalam rumah tersebut pada akhirnya menghembuskan nafasnya dengan kasar melalui mulutnya. Edrea bahkan sampai melupakan bahwa ia bisa berteleportasi membuatnya dengan spontan tertawa kecil ketika mengingat kebodohannya.


"Benar-benar bodoh kau Re!" ucap Edrea sambil tersenyum sebelum pada akhirnya memutuskan untuk berteleportasi dan masuk ke dalam bangunan rumah tersebut tanpa melalui pintu atau bahkan jendela bangunan rumah tersebut.


***


Area dalam bangunan rumah


Edrea yang baru saja masuk ke bagian dalam rumah tersebut, lantas terlihat mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan mencoba mencari tahu tentang keberadaan Kiera di dalamnya. Edrea yang melihat percabangan di area dalam rumah tersebut lantas sedikit mengernyit seakan bingung harus mengambil jalan yang mana. Suasana yang remang-remang di tambah dengan keadaan yang begitu sepi membuat Edrea kian bingung menentukan pilihannya.


"Baiklah kita pilih saja salah satu secara acak, semoga saja aku tidak salah." ucap Edrea pada akhirnya mencoba untuk mengikuti kata hatinya.

__ADS_1


Setelah memutuskannya Edrea kemudian mulai melangkahkan kakinya melipir ke arah kiri dan bergerak mencari keberadaan Kiera dengan langkah kaki setenang mungkin dan tentu saja berusaha agar tidak menimbulkan suara apapun atau ia akan ketahuan nantinya. Edrea menyusuri setiap ruangan dengan langkah kakinya yang perlahan, hingga kemudian ia menemukan dua ruangan dengan posisi saling berhadapan yang lantas membuat Edrea sedikit bimbang hendak masuk ke dalam ruangan yang sebelah mana terlebih dahulu.


Hingga kemudian Edra yang tak ingin berpikir terlalu keras dan juga bingung harus pergi ke mana, pada akhirnya memilih ruangan di sebelah kirinya terlebih dahulu. Edrea yang yakin akan pergi ke ruangan sebelah kirinya lantas langsung berteleportasi masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa melalui pintu. Ketika ia sampai di sana Edera yang baru masuk ke bagian dalam ruangan tersebut, lantas dibuat terkejut ketika ia mendapati sebuah ranjang di mana di atasnya terdapat seorang wanita cantik tengah diikat di bagian tangan kanan dan kirinya juga di bagian kaki kanan dan kirinya pula. Perempuan itu nampak menutup matanya entah itu pingsan atau bahkan telah tiada.


Edrea yang sedikit ragu namun juga merasa iba terhadap wanita itu, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana perempuan tersebut berada. Dengan perlahan tangan Edera ia gerakan mendekat ke arah pundak wanita itu kemudian menggoyangkan bahunya selama beberapa kali untuk mencoba membangunkan wanita itu sekaligus memeriksa kondisinya. Hanya saja akibat dari goyangan Edrea yang mungkin membuat wanita tersebut terkejut, wanita itu lantas langsung membuka matanya dan hendak bersiap untuk berteriak. Beruntung tangan Edrea sigap dan langsung menutup mulut wanita itu hingga suaranya tidak sampai terdengar keluar.


"Jangan berisik aku akan membantumu, oke?" ucap Edrea dengan nada lirih yang lantas dibalas wanita itu dengan anggukan kepala tanda mengerti akan perkataan dari Edrea barusan.


"Sekarang kamu pergi lah dan selamatkan lah dirimu, hubungi polisi dan katakan agar segera datang ke tempat ini." ucap Edrea kemudian.


"Lalu kamu bagaimana?" tanya wanita tersebut.


"Teman ku masih ada di dalam dan aku akan menyelamatkannya terlebih dahulu, kamu pergilah dan lakukan semua kata-kata... Aku berharap banyak kepadamu." ucap Edrea sambil menggenggam tangan wanita tersebut.

__ADS_1


Wanita itu yang seakan mengerti tentang perkataan Edrea barusan, lantas langsung mengangguk kemudian mengucapkan terima kasih kepada Edrea baru setelah itu ia lantas melangkahkan kakinya dengan perlahan meninggalkan Edrea seorang diri di sana. Edrea menghela napasnya dengan panjang kemudian tersenyum, setidaknya satu orang berhasil ia selamatkan dan kini tersisa Kiera dan juga tangan kiri Lidia yang harus Edrea cari keberadaannya.


Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekat ke arah pintu kamar, Edrea terlihat mulai menyembulkan kepalanya pada celah-celah pintu sambil menatap ke area sekitar dan memastikan semuanya aman. Setelah Edrea yakin kondisi area sekitar aman, Edrea lantas mulai melangkahkan kakinya secara perlahan keluar dan bergerak ke arah ruangan yang tepat di hadapannya. Dipegangnya handel pintu ruangan tersebut sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Meski Edrea tidak yakin Kiera ada di ruangan tersebut, tapi setidaknya Edrea tetap harus melihatnya bukan? Lagi pula tidak ada salahnya untuk mencoba masuk ke dalam, jika memang ia akan bertemu dengan pria bertudung hitam tersebut ketika masuk ke dalam Edrea tetap bisa berteleportasi dan menghilang dari sana untuk menghindari pria bertudung hitam tersebut.


Sambil memutar handel pintu ruangan itu, Edrea kembali menyembulkan kepalanya untuk melihat keadaan di dalam ruangan tersebut. Ketika Edrea merasa ruangan tersebut aman dari pria bertudung itu barulah Edrea melangkahkan kakinya secara perlahan masuk ke dalam ruangan tersebut.


Suasana di dalam ruangan yang begitu gelap membuat Edrea mulai berdecak dengan kesal. Dalam hatinya Edrea terus mengomel karena kebanyakan rumah penjahat atau psikopat selalu saja gelap tanpa penerangan, membuat Edrea selalu saja kesulitan jika sedang mengunjungi rumah mereka atau mungkin lebih tepatnya tamu tidak diundang mungkin.


Edrea yang benci dengan kegelapan karena tidak bisa melihat apapun di sana, lantas terlihat merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya di saku celana. Sambil menekan ikon senter pada layar ponsel miliknya, Edrea kemudian mulai mengarahkan senter di ponselnya untuk menerangi area sekitar. Edrea yang semula mengira tempat tersebut hanyalah tempat biasa, setelah senter yang ia pegang menerangi ruangan tersebut betapa terkejutnya Edrea dengan apa yang baru saja ia lihat di sana, hingga Edrea tanpa sadar menjatuhkan ponselnya karena terkejut.


"Astaga apa itu!" pekik Edrea sambil tanpa sengaja melempar ponselnya begitu saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2