
"Dasar gadis itu! Tidak bisakah dia tidak menyusahkan ku?" gerutu Barra sebelum pada akhirnya berteleportasi ke sebuah tempat.
…
Edrea yang melihat tikus itu membesar lantas terus mempercepat langkah kakinya berlari dan terus berlari sambil meneriaki nama Barra berulang kali. Peluh keringat langsung membasahi dahinya ketika ia harus berolahraga tanpa pemanasan terlebih dahulu sebelumnya. Hingga ketika sebuah sosok yang ia kenal muncul di hadapannya, lantas membuat Edrea langsung mengerem dengan mendadak ketika melihat Barra berada tepat di hadapannya.
"Bar kau lihat hewan itu... dia berubah menjadi besar dan aku..." ucap Edrea dengan panik namun dipotong oleh Barra.
"Dan aku sudah beberapa kali bilang kepadamu untuk jangan melihat wujudnya, tetap tenang dan lawan dia dengan energi mu, apa kamu belum mengerti juga?" ucap Barra dengan kesal membuat Edrea langsung terdiam seketika.
Edrea terdiam dengan wajah yang cemberut karena Barra memarahinya barusan, membuat Barra yang melihat wajah cemberut Edrea pada akhirnya hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang. Hingga kemudian sebuah suara dari binatang pengerat lantas menghentikan gerakan Barra yang tadinya hendak membujuk Edrea yang kini tengah merajuk tersebut.
Satu persatu hewan jadi-jadian mulai mendekat ke arah Edrea dan juga Barra, membuat Barra lantas berdecak dengan kesal ketika melihat mereka berdua kembali di kepung. Sedangkan Edrea raut wajahnya seketika berubah karena merasa bersalah kepada Barra. Barra terlihat mengambil kuda-kuda kemudian melirik sekilas ke arah Edrea.
"Kali ini lakukan dengan benar, jika kamu masih bisa menanganinya jangan selalu meneriaki namaku! Apa kamu mengerti?" ucap Barra kemudian kembali mengingatkan Edrea untuk yang kesekian kalinya.
"Baiklah aku mengerti" ucap Edrea dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar.
Setelah mengatakan hal tersebut Edrea kemudian mulai mengambil langkah kakinya kembali untuk masuk ke dalam gua mencari keberadaan jiwa Fano di dalam gua. Dengan mempercepat langkah kakinya Edrea terus mencari dan mencari sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba mencari letak di mana jiwa Fano di sembunyikan oleh Siluman ular hitam tersebut.
__ADS_1
Hingga tak berapa lama Edrea seperti sampai di ujung gua, di mana ketika Edrea mengarahkan obor tersebut ke arahnya terdapat sebuah singgasana dari batu besar dengan beberapa anak tangga yang berada tepat di bawa batu besar tersebut. Edrea sungguh tahu bahwa ia telah sampai pada tempatnya, membuatnya langsung mengarahkan obor miliknya ke arah kanan dan kiri mencari sesuatu.
Sebuah benda aneh yang terlihat di sudut singgasana menarik perhatian Edrea, benda itu berbentuk seperti manusia namun seluruh badannya di bungkus selayaknya sebuah kepompong lengkap dengan beberapa lendir yang terlihat begitu lengket dan membuat Edrea mual ketika melihatnya. Antara yakin dan tidak yakin Edrea mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah benda tersebut untuk memastikan apakah itu jiwa Fano yang ia cari sedari tadi.
Dengan perlahan Edrea mulai mengarahkan tangannya ke arah benda berlendir itu berusaha melihat apa sesuatu yang ada di dalamnya. Hingga sebuah suara lantas menghentikan gerakan tangannya dengan seketika.
"To...long aku..." ucap sebuah suara dengan nada yang lirih terdengar jelas dari dalan benda berlendir itu.
"Fa...no?" ucap Edrea dengan nada yang sedikit ragu dan tidak terlalu percaya bahwa Fano ada di dalamnya.
"Edrea! Apa itu kamu? Tolong aku... tolong keluarkan aku dari sini." ucap suara tersebut lagi dari dalam benda berlendir itu.
Edrea yang yakin di dalam benda itu adalah Fano, lantas mulai menatap ke arah sekeliling dan meletakkan obor yang sedari tadi ia pegang pada tatakan yang biasanya digunakan sebagai tempat meletakkan obor (biasanya bentuknya seperti tiang dan berdiri di pinggir jalan di pedesaan). Edrea kemudian kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Fano berada dan terjebak dan langsung menatap ke arah benda tersebut.
"Tolong Rea... tolong" ucap Fano begitu wajahnya mulai timbul ke permukaan benda tersebut.
"Ia aku tahu, diam lah sebentar aku tengah berusaha ini." ucap Edrea dengan kesal karena Fano terus mengulang kata yang sama padahal tanpa diminta sekalipun Edrea tetap akan berusaha mengeluarkannya.
Beberapa gelembung terlihat timbul keluar dari benda yang membungkus tubuh Fano, begitu Edrea menghentikan gerakan tangannya, benda tersebut perlahan-lahan mulai kembali menutup. Membuat Edrea maupun Fano yang melihat hal tersebut tentu saja terkejut bukan main. Edrea mencoba kembali membuka benda tersebut dan menahan gerakannya yang hendak menutup kembali, sedangkan Fano yang ada di dalam sana bukannya membantu malah hanya berteriak-teriak saja membuat Edrea kian merasa kesal akan tingkah Fano yang begitu cerewet.
__ADS_1
"Rea... Rea tolong.... jangan tinggalkan aku... kalau kamu menyelamatkan ku maka aku akan bersedia jadi pacar mu... Rea... Re..." teriak Fano terus menerus.
Edrea yang mulai kesal akan teriakan Fano yang semakin melantur, ketika benda tersebut hanya menyisakan lubang yang tepat pada mulut Fano, Edrea yang kesal karena mulut itu hanya menyerocos saja, lantas dengan ringannya malah menabok mulut Fano dengan sengaja, membuat Fano semakin ngedumel karena ulah Edrea yang memukul mulutnya.
"Ku bilang diam dan jangan berisik, lagi pula meski aku menyelamatkan mu sekalipun aku tidak akan sudi menjadi pacar mu! Jadi stop mengatakan yang tidak-tidak!" pekik Edrea dengan nada yang kesal.
Setelah meluapkan emosinya barusan Edrea lantas berusaha berpikir kembali cara apa yang bisa membuat benda yang membungkus Fano terbuka dengan mudah tanpa harus menyusahkannya seperti ini. Edrea mendengus dengan kesal ketika ia sama sekali tidak menemukan jalan keluar meski sedari tadi Edrea sudah mencoba untuk memikirkannya. Hingga tidak berapa lama sebuah ide yang mungkin bisa Edrea gunakan lantas muncul dan memenuhi kepalanya, membuat Edrea langsung tersenyum seketika disaat mendapat ide tersebut.
Edrea kemudian mengambil nafasnya perlahan dan menghembuskannya berulang kali mencoba untuk menenangkan pikirannya dan bertelepati dengan Barra, siapa tahu Barra akan menjawab panggilannya.
"Bar.... apa kau mendengar ku?" panggil Edrea mencoba untuk bertelepati dan memanggil Barra.
Satu detik...
Dua detik...
Hingga 1 menit kemudian tidak ada jawaban apapun dari Barra, Edrea yang tidak putus asa lantas berusaha kembali memanggil nama Barra berharap kali ini Barra akan menjawab panggilannya dan memberikan solusi atas permasalahannya.
"Bar... apa kamu mendengar ku?" panggil Edrea sekali lagi.
__ADS_1
"Ada apa?"
Bersambung