
drea begitu kesal akan sikap Fano yang seakan meremehkan apa yang terjadi kemarin.
Ssss
Ssss
Ssss
Edrea yang tadinya sengaja berbalik karena enggan menatap ke arah Fano yang memasang wajah menyebalkan, lantas di buat terkejut ketika ia malah mendengar suara desisan tepat di bagian belakangnya.
Edrea yang penasaran akan suara tersebut, lantas langsung dengan spontan berbalik badan untuk memastikan suara apa yang baru saja ia dengar. Namun ketika ia berbalik badan malah gelagat aneh dari Fano yang ia dapatkan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" ucap Edrea yang terkejut ketika ia berbalik badan dan melihat gelagat aneh dari Fano, yang terlihat sedang mengendusnya sambil beberapa kali menjulurkan lidahnya.
Fano yang mendengar ucapan dari Edrea barusan, lantas langsung membenarkan posisinya dan menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang santai seakan seperti tidak melakukan apapun.
"Aku hanya sedang mencium bau busuk yang berasal dari dirimu, apakah kau belum mandi?" ucap Fano dengan nada yang santai, namun langsung membuat Edrea terkejut ketika mendengar sindiran dari Fano barusan.
Edrea yang memang merasa belum mandi lantas langsung mencium bau tubuhnya dengan spontan, mencoba mencari tahu apakah dirinya benar benar bau saat ini.
"Tidak bau, enak saja kau... benar benar menyebalkan!" teriak Edrea dengan nada yang meninggi kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan Fano dengan langkah kaki yang kesal.
Fano yang melihat kepergian Edrea dari sana, hanya tersenyum dengan sinis dan tetap menatap punggung Edrea hingga menghilang dari pandangannya.
**
Siang harinya
Acara di lanjutkan dengan meneliti beberapa tumbuhan unik yang hanya di temukan di dalam hutan, para mahasiswa kembali di bagi menjadi beberapa kelompok yang sama sesuai dengan pembagian kelompok jurit malam kemarin.
__ADS_1
Edrea yang memang dalam keadaan masih kesal dengan Kiera dan juga Fano, selama proses penelitian hanya diam saja dan fokus mencari tanaman tanpa ingin membuka pembicaraan sama sekali baik pada Kiera maupun kepada Fano. Hingga ketika ketiganya menemukan satu jenis tanaman yang dapat di gunakan sebagai obat obatan, barulah ketiganya mulai menganalisa tanaman tersebut.
Edrea mencatat setiap detail karakteristik dan juga ciri ciri tumbuhan tersebut dengan serius, sedangkan Kiera yang sudah tidak tahan lagi akan sikap Edrea yang mendiamkannya, lantas langsung berjongkok tepat di hadapan Edrea dan berusaha untuk menjelaskannya.
"Rea aku minta maaf... soal kemarin aku..." ucap Kiera hendak mulai menjelaskan segalanya namun keburu di potong oleh Edrea.
"Memang kemarin apa yang terjadi? sudahlah tidak perlu di bahas lagi, lagipula aku sama sekali tidak ingat semalam ada apa." ucap Edrea acuh tak acuh sambil menoleh sekilas ke arah Kiera kemudian kembali fokus menatap ke arah tanaman tersebut.
Kiera yang mendengar ucapan Edrea barusan, lantas langsung terdiam seketika dan menatap ke arah Fano sekilas lalu kembali menatap ke arah Edrea.
"Baiklah kalau itu mau mu, biarkan aku mengambil gambar tanaman ini." ucap Kiera kemudian berusaha untuk bersikap seperti biasanya sama seperti yang di minta oleh Edrea barusan.
"Terserah" ucap Edrea dengan singkat kemudian kembali fokus mencatat setiap detail tanaman tersebut, membuat Kiera yang mendengar jawaban tersebut hanya bisa menghela nafasnya kasar namun tidak bisa protes sama sekali karena memang ini adalah kesalahannya.
Setelah ketiganya menyelesaikan penelitiannya, acara kembali di lanjutkan dengan di mana setiap kelompok di berikan satu bibit pohon untuk mereka tanam di setiap tempat yang di tunjuk oleh panitia.
Mendapat satu bibit pohon membuat ketiganya lantas mulai membagi tugas di mana Fano akan menggali tanah, sedangkan Kiera akan bertugas menanam dan memastikan semua proses urutannya benar dan Edrea kebagian tugas untuk dokumentasi.
Ketika Edrea sedang sibuk mendokumentasikan kegiatan mereka, samar samar Edrea seperti kembali mendengar suara desisan yang lantas langsung membuatnya menoleh ke arah sekitar mencoba mencari sumber suara yang baru saja ia dengar.
"Suara itu lagi..." ucap Edrea dalam hati.
Sedangkan tanpa Edrea sadari Fano yang meengetahui akan gerakan dari Edrea barusan lantas tersenyum dengan senang ketika melihat respon dari Edrea.
"Apa ada sesuatu Fan? mengapa kamu tersenyum?" tanya Kiera sambil memegang tangan Fano yang sibuk menggali tanah.
Edrea yang kebetulan juga mendengar ucapan Kiera barusan, lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah karena ia baru menyadari jika ternyata perasaan yang tumbuh di antara Kiera dan juga Fano tidaklah terjadi dengan tiba tiba, melainkan sudah lama terjalin melalui perhatian perhatian kecil yang sering keduanya lakukan tanpa Edrea sadari.
"Mengapa aku baru menyadarinya sekarang?" ucap Edrea dalam hati dengan nada yang kesal.
__ADS_1
"Ehem"
Mendengar deheman yang berasal dari Edrea keduanya lantas sedikit tersentak, dengan spontan Fano langsung menepis tangan Kiera agar tidak lagi menyentuhnya.
"Bisakah kalian melakukannya dengan sedikit lebih cepat? aku sudah lapar saat ini..." ucap Edrea kemudian yang lantas membuat keduanya langsung mengangguk seketika.
"Baiklah kami akan melakukannya dengan cepat." ucap Kiera kemudian sambil mempercepat gerakannya dalam menanam bibit pohon tersebut.
Sedangkan Edrea yang melihat hal tersebut hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang, sebenarnya Edrea benar benar tidak tega terus bermusuhan dengan Kiera seperti ini. Hanya saja jika melihat wajah Kiera ia selalu saja teringat akan ungkapan cinta Fano kepadanya semalam, membuat Edrea selalu saja kesal akan keduanya.
Bukan karena Edrea egois atau apa, hanya saja bukankah sedari awal ia sudah mengatakan bahwa Edrea menyukai Fano? lalu mengapa malah Kiera yang terus dekat dengan Fano? seakan akan Kiera seperti tidak tahu bahwa dirinya menyukai Fano sejak awal.
***
Keesokan harinya di kampus
Edrea yang sedang suntuk akan mata kuliah saat ini, memutuskan untuk absen dan melipir sebentar ke arah gudang belakang untuk menenangkan hatinya yang selalu saja terbayang akan kejadian Fano dan juga Kiera.
"Mungkin istirahat sejenak akan sedikit mengurangi rasa sakitnya." ucap Edrea dengan nada yang lirih pada dirinya sendiri
Ketika Edrea terus melangkahkan kakinya menuju ke arah gudang belakang karena tidak terlalu memperhatikan sekitaran, tanpa sengaja Edrea menbrak seseorang hingga membuat ia mundur beberapa langkah dari posisinya tadi.
"Ah maafkan aku..." ucap Edrea sambil sedikit menunduk tanpa melihat siapa yang baru saja ia tabrak.
"Tidak apa..." ucap sebuah suara kemudian berlalu pergi meninggalkan Edrea.
Edrea yang hapal betul akan suara tersebut lantas langsung menoleh ke arah belakang mencoba untuk memastikan kembali siapa orang tersebut.
"Apa yang ia lakukan di sini?" ucap Edrea bertanya tanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Bersambung