Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Aura aneh yang terasa


__ADS_3

"Kendalikan emosi mu Bar! Cobalah untuk berpikir lebih jernih lagi saat ini!" ucap seseorang yang tak mau kalah meski ia sudah mendapat teriakan dari Barra.


Barra yang mendengar perkataan Mira lantas langsung terdiam seketika sambil mengusap rambutnya dengan kasar ke arah belakang. Apapun yang dikatakan oleh Mira barusan sama sekali tidak membuat emosi Barra menjadi menurun.


"Argggg"


Sedangkan Mira yang melihat Barra seperti itu hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Niat hati ingin menjenguk sekaligus melihat keadaan Edrea, yang Mira dapati ketika berada di ruang perawatan Edrea malah kemarahan Barra yang terlihat berapi-api hingga menyebabkan beberapa barang-barang di ruangan tersebut pecah dan juga rusak.


Beruntung Mira datang lebih awal dan langsung membawa Barra dari sana jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada sosok Dokter tersebut. Mira yakin lebih parah daripada hanya sekedar lampu yang berkelap-kelip dan pecah.


Barra yang tidak menyukai akan tingkah Mira yang selalu saja suka ikut campur urusannya, lantas terlihat memunggungi Mira seakan enggan untuk berbicara dengan wanita itu. Membuat Mira yang melihat tingkah laku Barra lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang.


"Jangan seperti anak kecil begini Bar, usia mu bahkan sudah hampir ratusan tahun. Apa kau tidak belajar banyak walau sudah melewati beratus-ratus tahun lamanya kehidupan?" ucap Mira mencoba untuk membuat Barra mengerti.


"Kau jangan ikut campur tentang masalah ini Mir!" ucap Barra memberi peringatan kepada Mira.


"Aku tidak akan ikut campur jika memang kau bersikap wajar, namun apa yang kau lakukan tadi bisa memancing manusia untuk mencurigai mu. Apa kau tidak sadar sudah menggunakan kemampuan mu tadi?" ucap Mira sekali lagi mencoba untuk menjelaskan kepada Barra.


Mendengar perkataan dari Mira barusan membuat Barra lagi-lagi terdiam. Dihembuskan napasnya dengan kasar selama beberapa kali, setelah itu bisa membuatnya lebih tenang barulah Barra mengusap raut wajahnya dengan kasar. Barra memijit pelipisnya dengan pelan, setelah pikirannya sedikit lebih jernih Barra menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan memang sudah keterlaluan dan tidak wajar.

__ADS_1


Barra yang sudah lebih tenang lantas melirik sekilas ke arah dimana Mira berada, membuat Mira yang melihat tingkah Barra barusan lantas tersenyum dengan tipis karena tidak menyangka bahwa Barra ternyata bisa cemburu juga.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika sosok tuan angkuh dan juga datar seperti dirimu bisa merasakan cemburu juga?" ucap Mira dengan nada yang menyindir Barra, membuat Barra lantas memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar sindiran tersebut.


"Jangan memancing ku kembali Mir!" ucap Barra dengan nada yang datar.


"Baiklah-baiklah aku minta maaf..." ucap Mira pada akhirnya memilih untuk mengalah dari pada harus kembali ribut dengan Barra, sedangkan Barra yang mendengar ucapan Mira barusan hanya bisa mendengus dengan kesal sambil memalingkan wajahnya.


***


Ruangan Dokter Andi


Ingatan ketika perpisahan keduanya terjadi kala itu begitu membekas bagi Andi. Saat itu ketika Andi dan juga Edrea menjalin kasih selayaknya pasangan kekasih pada umunya. Sebuah ujian cinta yang tidak pernah dibayangkan oleh Andi sebelumnya lantas secara tiba-tiba mendatangi keduanya. Andi yang memang mempunyai seorang kakak tanpa di duga-duga ternyata juga mencintai Edrea.


Sang kakak yang merupakan seorang introvert dan jarang berbaur dengan teman sebayanya, begitu mengetahui sang kakak yang secara tiba-tiba dan entah sejak kapan menyukai Edrea lantas membuat heboh seluruh anggota keluarganya.


Sang ibu yang juga mendukung kakaknya untuk maju lantas meminta Andi agar memutuskan Edrea dan merelakannya dengan sang kakak. Andi yang menganggap sebuah kisah percintaan semasa SMA hanyalah main-main saja, lantas dengan polosnya memutuskan Edrea dan menyuruh Edrea untuk menerima kakaknya tanpa memikirkan perasaan Edrea terlebih dahulu dan ternyata keputusan yang diambil olehnya rupanya begitu menyakiti Edrea dan membuat hubungan keduanya menjadi renggang.


Helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulut Andi ketika memori masa lalu tentang ia dan juga Edrea berputar di kepalanya. Hingga ketika ia mengingat tentang suatu barang yang hendak ia berikan kepada Edrea beberapa tahun yang lalu, membuat Andi langsung bangkit dari posisinya sambil tersenyum dengan cerah menatap ke arah depan.

__ADS_1


"Aku rasa benda itu masih ada dan ku bawa di Apartment ku. Setidaknya meski aku tidak bisa bersamanya keinginan ku untuk memberikan benda tersebut tetap tersampaikan." ucap Andi dengan nada yang yakin dan juga raut wajah yang bahagia.


Setelah mengatakan hal tersebut Andi kemudian lantas langsung melepas jas dokternya dan menaruhnya sembarangan pada kursi miliknya, lalu bergegas pergi meninggalkan ruangannya menuju kembali ke Apartment untuk mengambil barang yang ia maksud tadi untuk Edrea. Setidaknya sekaligus sebagai permintaan maaf Andi kepada Edrea untuk kesalahan yang terjadi di masa lalu kala itu.


***


Malam harinya di ruang perawatan Edrea.


Selang oksigen terlihat sudah terlepas dari hidung Edrea malam itu. Pada akhirnya pernapasan Edrea sudah mulai kembali normal dan ia bisa menikmati udara malam itu yang terasa begitu sejuk walau sedikit dingin dan juga berembun. Sambil mendorong tiang penyangga selang infusnya, Edrea terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju ke arah jendela yang terletak di ruang perawatannya, dimana jendela itu berhadapan langsung dengan kolam ikan yang berada di taman Rumah Sakit. Seulas senyum lantas terbit dari wajah Edrea ketika ia menatap suasana langit malam itu. Hingga sebuah ketukan pintu yang tiba-tiba lantas langsung membuyarkan lamunannya yang sedari tadi asyik menatap ke arah langit malam kala itu.


"Apa aku mengganggu mu?" tanya sebuah suara yang ternyata adalah Andi.


Mendapat pertanyaan tersebut membuat Edrea langsung menggeleng dengan perlahan kemudian tersenyum menatap ke arah Andi. Manik mata Edrea entah mengapa tak bisa lepas sedikitpun ketika memandangi langkah kaki Andi yang terlihat kian mendekat ke arahnya. Ada sebuah aura aneh yang Edrea rasakan ketika langkah kaki Andi kian mendekat ke arahnya, membuat Edrea lantas tertegun seketika sambil melihat apa yang salah dari Andi saat ini.


"Ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu Rea, benda ini sudah cukup lama bersama ku dan sekarang pada akhirnya aku bisa memberikannya kepadamu." ucap Andi dengan senyum yang mengembang menatap ke arah Edrea.


"Apa yang terjadi dengan mu An?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2