
Rumah Sakit Medika Cipta
Setelah mendapat informasi dari resepsionis di Stasiun Kereta, Edrea dan juga sosok gadis itu lantas terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam Rumah Sakit dan langsung menuju pusat informasi.
"Permisi, apakah tadi pagi ada pasien yang kecelakaan di eskalator Stasiun Kereta tak jauh dari sini?" ucap Edrea mulai bertanya kepada seorang suster di pusat informasi.
Mendengar pertanyaan dari Edrea, suster tersebut kemudian mulai mengklik dan melihat daftar pasien pada layar komputernya kemudian langsung menoleh ke arah Edrea.
"Benar, pasien saat ini ada di kamar Melati nomor 02, apakah mbaknya ini keluarga pasien?" tanya suster tersebut.
Sedangkan Edrea yang mendengar ucapan suster tersebut tentu saja lega bukan main, pasalnya jika gadis itu sudah berada di ruang inap itu artinya sosok gadis itu masih hidup dan belum meninggal seperti yang di katakan oleh resepsionis di Stasiun Kereta tadi.
"Bukan, saya datang ke sini hanya untuk memastikan apakah dia orang yang saya kenal atau bukan, terima kasih infonya saya permisi..." ucap Edrea kemudian berlalu pergi, membuat suster tersebut hanya menghela nafasnya dengan panjang melihat kepergian Edrea dari sana karena ternyata Edrea juga bukan keluarga dari pasien.
Gadis yang mengalami kecelakaan tersebut masuk tanpa wali, sedangkan pada barang barang yang di bawa oleh gadis itu hanya berisi barang barang pribadinya tanpa ada identitas yang lengkap seperti ktp atau sejenisnya, hanya ada sebuah ponsel dan itupun terkunci, membuat pihak Rumah sakit dan juga kepolisian bingung sekaligus kesulitan ketika harus menghubungi keluarganya.
**
Edrea melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang perawatan Melati nomer 02 untuk melihat keadaan gadis itu, dengan langkah kaki yang perlahan, Edrea mulai membuka pintu ruang perawatan tersebut dan masuk ke dalamnya.
Edrea yang baru saja masuk, lantas merasa sedikit prihatin dengan kondisi gadis itu, suara dari alat pendeteksi detak jantung atau dalam dunia medis di kenal dengan sebutan Electrocardiogram mulai terdengar menggema memenuhi ruangan tersebut.
__ADS_1
Ada satu pemandangan yang menarik perhatian Edrea ketika memasuki ruangan tersebut, yaitu di mana kedua kaki gadis itu tidak ada, membuat Edrea tercekat dan bingung harus bereaksi seperti apa di saat saat seperti ini.
Sosok gadis tersebut yang melihat tubuhnya terbaring di ranjang pasien, nampak mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah tubuhnya. Gadis itu terkejut bukan main ketika melihat kedua kakinya telah hilang dan tidak lagi terlihat, gadis itu bahkan sampai berulang kali mencoba meraba bagian kakinya yang tentu saja langsung tembus ke bawah dan sama sekali tidak menyentuh kakinya, walau gadis itu mencoba berulang kali memegang kedua kakinya.
Kaki ku...
Gadis itu yang tidak kunjung bisa menyentuh kakinya lantas langsung jatuh terduduk sambil menangis dengan tersedu, membuat Edrea menjadi tidak tega sekaligus merasa bersalah karena sedari tadi yang ia lakukan malah terus menggerutu dan memarahi sosok gadis tersebut tanpa rasa prihatin sama sekali.
Edrea mendekatkan dirinya ke arah sosok gadis tersebut kemudian ikut bersimpuh di sebelah gadis itu dan mencoba untuk menenangkannya, walau mungkin ucapan dari Edrea tidak akan berpengaruh apa apa untuk gadis itu.
***
Di area keberangkatan yang terletak di Stasiun Pemberhentian, terlihat Mira tengah sibuk memandu dan mengecek proses pemberangkatan para arwah menaiki gerbong kereta masing masing. Mira yang melihat prosesi naiknya satu persatu arwah, lantas terlihat terdiam sambil termenung menghela nafasnya dengan panjang berulang kali, membuat Wili yang sedari tadi ada di sebelah Mira bahkan sempat beberapa kali menoleh karena penasaran akan apa yang tengah di pikirkan oleh Mira saat ini.
Mira yang mendengar pertanyaan dari Wili barusan, lantas terlihat menoleh sekilas ke arah Wili kemudian kembali menghela nafasnya dengan panjang, membuat Wili semakin di buat bingung akan ekspresi yang di tunjukkan oleh Mira barusan.
"Apakah menurut mu Edrea akan berhasil melaksanakan tugasnya kali ini?" ucap Mira dengan raut wajah yang khawatir, membuat Wili langsung menatap dengan heran ke arah Mira seakan tidak percaya jika Mira baru saja mengatakan hal tersebut.
"Kenapa dengan ekspresi wajah mu itu? apakah ucapan ku barusan salah?" ucap Mira dengan nada yang bingung ketika melihat ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Wili.
Wili yang di tanya seperti itu tentu saja langsung bingung dan gelagapan, tidak mungkin bukan wili mengatakan yang sejujurnya kepada Mira? yang ada tanduk wanita itu pasti akan keluar dan bersiap untuk menyerunduk.
__ADS_1
"Em... kalau menurut saya sepertinya Edrea akan membuat sedikit masalah dalam tugas ini, bukankah biasanya juga seperti itu?" ucap Wili kemudian menjawab seadanya namun malah membuat raut wajah Mira berubah seketika.
"Jika tahu begitu harusnya kau mengawasinya atau jika perlu ikuti pergi bersamanya, bukan malah hanya diam dan berdiri di sini." ucap Mira dengan nada yang kesal kepada Wili setelah mendengar ucapan dari Wili barusan.
"Bukankah tugas saya memang di sini Madam?" ucap Wili dengan raut wajah yang bingung ketika mendengar omelan dari Mira barusan.
Mira yang mendengar jawaban dari Wili barusan, kemudian lantas terdiam seakan baru sadar bahwa apa yang di katakan oleh Wili merupakan sebuah kebenarannya. Mira memijat pelipisnya dengan pelan ketika merasa ia sudah mulai melantur, entah mengapa setelah Mira mengetahui fakta bahwa Edrea dan juga dirinya adalah kakak beradik di masa lalu, membuat pandangan Mira benar benar berubah 360 derajat kepada Edrea, kini Mira bahkan jadi lebih merasa khawatir dan juga kasihan ketika melihat tugas berat yang selalu saja di berikan Barra kepada Edrea.
"Sudahlah aku akan berbicara sendiri dengan Barra! berbicara dengan mu sama sekali tidak memberi ku solusi." ucap Mira dengan nada yang kesal kemudian berlalu pergi meninggalkan Wili seorang diri di sana.
Melihat kepergian Mira barusan, Wili yang tidak tahu apa apa lantas langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap dengan penuh kebingungan ke arah kepergian Mira.
"Salah ku di mana lagi sekarang?" ucap Wili dengan tatapan yang bingung.
***
Sementara itu di Rumah Sakit, Edrea yang melihat sosok gadis tersebut terus menangis tanpa berhenti sedetikpun lantas berusaha menenangkannya. Tidak ada kata kata penghibur yang bisa Edrea ucapkan untuk menenangkan sosok gadis tersebut selain kata sabar dan ikhlas, dua kata itu mungkin adalah kata yang lebih tepat untuk menenangkan sosok gadis tersebut saat ini.
Mendengar ucapan Edrea barusan, sosok tersebut lantas langsung dengan seketika menoleh ke arah Edrea dengan tatapan yang tidak biasa, membuat Edrea dan juga sosok gadis itu lantas langsung saling pandang satu sama lain.
Kau itu tidak mengerti apa apa, jadi jangan sok sok'an menceramahi ku, selagi aku masih berpikir dengan waras saat ini!
__ADS_1
Ucap sosok tersebut dengan kilatan amarah pada manik mata miliknya, membuat Edrea langsung terkejut seketika di saat mendengar kata kata itu keluar dari mulutnya.
Bersambung