
"Aaaaaa" teriak Indri yang terkejut dengan apa yang baru daja ia lihat.
Sesosok bayangan hitam dengan kedua matanya yang merah menyala nampak berdiri di sudut ruangannya, membuat Indri lantas terkejut seketika akan kemunculan sosok tersebut yang tiba tiba itu. Dengan gerakan yang perlahan sambil menahan ketakutan yang ada dalam dirinya, Indri mulai meraba dan mencoba mencari ponsel miliknya yang terjatuh dengan tangan yang gemetaran hebat, sehingga membuat Indri semakin merasa seperti sedang di awasi sekaligus ketakutan yang berlebihan.
"Aku menemukannya?" ucap Indri ketika ia berhasil menemukan ponselnya.
Dengan gerakan yang cepat, Indri langsung dengan spontan mengarahkan ponselnya ke arah di mana ia melihat sebuah sosok di sana, deru nafas terdengar kian membara dari mulut Indri karena perasaan takut yang memenuhi hatinya, sayangnya ketika senter yang berasal dari ponsel miliknya di arahkan kembali, senter miliknya sama sekali tidak menangkap sosok apapun di sudut sana membuat hati Indri sedikit lega ketika tidak melihat apapun barusan.
Apa kamu mencari ku?
Ucap sebuah suara tepat di telinganya, yang lantas membuat Indri kembali terkejut dan dengan spontan mengarahkan senter tersebut ke arah kiri untuk melihat suara siapa barusan, hanya saja lagi lagi ketika senter yang berasal dari ponselnya di arahkan ke arah samping, Indri sama sekali tidak menemukan apapun di sana, membuat Indri langsung mengambil langkah mundur perlahan sambil menatap ke area sekitar dengan mengarahkan senter yang di ponselnya ke segala arah, mencoba mencari apakah benar benar ada sesuatu di sana.
Beberapa menit mencari keberadaan seseorang di sana, Indri yang sudah merasa lega kembali ketika berbalik badan lantas di kejutkan dengan sosok berwarna hitam pekat dengan kedua matanya yang merah menyala, membuat Indri langsung jatuh seketika dalam posisi terduduk karena terkejut akan apa yang baru saja ia lihat.
"Siapa kamu?" pekik Indri sambil mengesot perlahan ke belakang.
Mendengar pertanyaan dari Indri barusan sosok itu nampak tertawa dengan keras, membuat nyali Indri kian menciut ketika mendengar suara sosok tersebut barusan.
Takdir mu adalah menjadi milik ku, sekuat apapun kamu berlari... kamu akan kembali jatuh ke tangan ku!
Ucap sosok itu dengan tawa yang menggelegar, membuat Indri dengan spontan menggeleng sambil terus menggeser tubuhnya ke arah belakang mencoba untuk kabur dari sosok tersebut.
Sosok itu yang mengetahui niatan Indri hendak kabur darinya, lantas dengan spontan langsung melesat mendekat ke arah Indri dan mencengkeramnya dengan erat, hingga tubuh Indri yang semula duduk perlahan lahan mulai naik dan melayang tanpa menyentuh lantai. Indri yang di cengkram berusaha terus meronta sambil menahan rasa sakit yang menjalar di area lehernya dan juga pernafasannya yang mulai terasa berat akibat cengkraman tersebut.
__ADS_1
"Lepas... kan aku..." ucap Indri dengan nada yang tertahan.
Ini adalah malam purnama penuh, penantian ku selama beratus ratus tahun lamanya aku pastikan akan berakhir saat ini juga!
Mendengar ucapan sosok tersebut tentu saja membuat Indri semakin merasa ketakutan, meski Indri tidak mengerti sama sekali akan ucapan dari sosok tersebut tapi dari apa yang ia tangkap dan cerna, malam ini mungkin akan menjadi malam terakhir bagi Indri untuk bisa menghembuskan nafasnya di dunia.
"Ku... mohon.. jangan..." ucap Indri dengan nada yang tercekat karena cengkraman di lehernya kian mengerat dan membuatnya sesak.
***
Sementara itu Edrea dan juga Mira yang mencium aura dari sebuah sosok, lantas langsung menghentikan perdebatan mereka dan melesat menuju ke sumber di mana aura itu berasal. Setelah mengikuti bau dari aura tersebut yang sangat pekat, keduanya lantas sampai pada rumah kontrakan milik Indri, di mana tadi Edrea mengikutinya.
"Sudah ku bilang ada yang tidak beres, kau lihat? jika sampai kita terlambat karena ulah mu, maka aku... ah sudahlah lupakan karena itu tidak penting!" ucap Edrea dengan nada yang kesal kepada Mira.
"Baiklah.. aku minta maaf jika aku salah... sebaiknya kita segara masuk dan lihat sosok seperti apa yang ada di dalam sana hingga menciptakan aura yang seperti ini." ucap Mira dengan nada yang lebih rendah.
Mendengar ucapan Mira barusan membuat Edrea lantas dengan spontan mengangguk dan mengiyakan saran dari Mira barusan, hingga pada akhirnya Mira dan juga Edrea memutuskan untuk berteleportasi dan masuk ke dalam rumah kontrakan Indri.
**
Kembali kepada Indri
Indri yang di cengkram dengan erat lehernya oleh sosok tersebut hanya bisa terdiam pasrah sambil menahan rasa sakit di area lehernya. Indri tidak tahu lagi harus berbuat apa di saat saat seperti ini, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah pasrah dan berharap ada seseorang yang menolongnya untuk terbebas dari jeratan sosok bermata merah menyala ini.
__ADS_1
"To... long..." rintih Indri yang sudah pasrah akan keadaannya saat ini.
Indri yang sudah benar benar berada di ujung tanduk, lantas tubuhnya mendadak terpental cukup jauh ketika sebuah kilatan cahaya datang mendekat dan menghantam tubuh sosok tersebut, sehingga membuat cengkraman sosok itu terlepas seketika dari leher Indri.
Uhuk uhuk...
Dalam pandangan yang samar samar Indri melihat seperti ada sosok laki laki tengah berdiri memunggunginya dan menatap sosok hitam itu dengan tatapan yang tajam, sampai pada akhirnya pandangannya menggelap dan pingsan karena benturan yang terjadi cukup keras padanya.
Kau? Mengapa kau selalu saja menganggu ku? apa kau sudah bosan terus duduk di kursi singgasana mu?
Mendengar ucapan sosok tersebut tentu saja membuat Barra menjadi marah dan hilang kendali, dengan gerakan yang melesat Barra kemudian mendekat ke arah sosok itu dan langsung berteleportasi mengajaknya ke sebuah tempat seperti ruangan hampa yang mirip dengan sebuah bangunan gedung tua yang tidak lagi berpenghuni.
Barra yang berhasil membawa sosok tersebut ke tempat ini, lantas langsung melemparnya begitu saja membuat sosok tersebut lantas berguling beberapa meter dari tempatnya dan berhenti ketika tubuhnya menghantam ke dinding.
Melihat Barra yang penuh dengan kilat kemarahan, bukannya membuat sosok itu takut malah menatap ke arah Barra dengan senyum yang mengembang.
Kau pikir kau siapa ha? bahkan ceritamu dan juga ceritaku sama, lalu mengapa kau malah menghalangi ku untuk menjemputnya?
"Apa maksud ucapan mu itu? jangan pernah bermain main dengan ku!" pekik Barra dengan kesal namun sosok itu malah tertawa dengan keras.
Hahahaha
Bersambung
__ADS_1