Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Sebuah kematian dan juga kelahiran


__ADS_3

Stasiun pemberhentian


Setelah membutuhkan perjuangan yang ekstra agar Edrea mau ikut dengannya, tepat dia area lorong Stasiun pemberhentian terlihat Edrea dan juga Barra tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah bangunan Apartment untuk menemui seseorang yang Edrea sendiri tidak tahu siapa itu. Tidak ada yang Barra jelaskan selain hanya memintanya untuk ikut bersama dengan Barra ke suatu tempat, membuat Edrea bertanya tanya di sepanjang jalan tanpa bisa mengatakannya secara langsung kepada Barra.


Edrea melangkahkan kakinya mengikuti kemana langkah kaki Barra membawanya pergi. Edrea yang memang sedang tidak mood saat ini hanya bisa terus menghela nafasnya panjang sambil terus melangkahkan kakinya mengekori Barra tanpa henti.


"Sebenarnya kamu ingin membawa ku ke mana? mengapa rasanya sedari tadi kita hanya terus berjalan tanpa sebuah arah tujuan?" ucap Edrea dengan raut wajah yang kesal sambil menatap ke arah punggung Barra yang hingga kini masih terus melangkahkan kakinya.


Mendengar pertanyaan dari Edrea barusan, Barra bukannya menjawab malah langsung menghentikan langkah kakinya, membuat Edrea yang memang sedari tadi sedang menggerutu tanpa memperhatikan jalanan sekitar sehingga tubuhnya tanpa sengaja membentur tubuh Barra dan langsung membuat Edrea terkejut bukan main.


"Sudahlah ikut saja dan jangan protes!" ucap Barra lagi.


Dengan raut wajah yang cemberut Edrea terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Barra, Edrea dan Barra terus melangkahkan kakinya melewati lorong lorong unit Apartment yang suasananya sangatlah sepi. Hingga ketika Edrea dan juga Barra sampai di sebuah unit Apartment, barulah Barra terlihat menghentikan langkah kakinya yang membuat Edrea semakin bertanya tanya, untuk apa Barra membawanya kemari?


Barra menekan tombol pas yang terpasang di pintu, baru setelah itu perlahan lahan pintu unit Apartment tersebut mulai terbuka dengan lebar dan menampilkan sosok seorang laki laki dengan rambut yang sudah memutih, namun masih terlihat gagah di usianya yang senja. Edrea yang hanya melihat bagian punggung laki laki itu, hanya bisa mengerutkan keningnya dengan bingung karena sosok pria tersebut seperti tidak asing di ingatannya namun Edrea tidak tahu siapa itu.

__ADS_1


"Pak Surya..." panggil Barra kemudian sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah sosok pria tersebut.


Edrea yang mendengar sebuah nama tidak asing di ingatannya, lantas terhenti seketika tepat ketika mendengar Barra memanggil sosok tersebut. Edrea terdiam di tempatnya seakan tidak percaya mungkinkah sosok di hadapannya ini adalah benar benar orang yang Edrea kenal atau bukan.


"Tidak mungkinkan dia..." ucap Edrea dalam hati sambil menatap punggung sosok pria itu dengan tatapan yang menelisik.


Sosok pria tersebut nampak mulai bangkit dari posisinya dan perlahan lahan mulai berbalik badan, seulas senyum nampak terlukis jelas pada raut wajah sosok pria tersebut ketika manik matanya bertemu dengan manik mata milik Edrea. Keduanya saling terkunci pada manik mata masing masing, Edrea benar benar tidak menyangka bahwa sosok yang ada di hadapannya ini adalah kakeknya yang sudah lama meninggal. Edrea yang sadar ia tidak bermimpi lantas langsung bergerak perlahan mendekat ke arah kakeknya sambil terus menatap sosok tersebut dengan lekatnya.


Sosok itu membuka kedua tangannya dengan lebar seakan mengisyaratkan kepada Edrea untuk masuk ke dalam pelukan pria yang sudah termakan usia itu. Edrea yang melihat isyarat tersebut tentu saja langsung tersenyum kemudian mempercepat langkah kakinya dan masuk ke dalam pelukan kakeknya. Setelah sekian lama akhirnya Edrea bertemu dengan kakeknya, hal ini bahkan sampai membuat air mata Edrea menetes saking bahagianya.


**


Setelah pelukan yang erat antara keduanya selama beberapa menit, Edrea dan juga Surya terlihat duduk di sofa ruang tamu sambil mengobrol ringan seputar kehidupan keseharian Edrea. Surya yang melihat Edrea bercerita dengan riangnya, lantas menggenggam tangan Edrea kemudian mengelusnya secara perlahan, membuat Edrea tersenyum dan langsung menghentikan ceritanya.


"Kehidupan dan juga kematian terus berputar dan akan terjadi di sekitaran kita Rea, seseorang yang di tinggalkan haruslah tabah.. jika yang di tinggalkan mereka tidak ikhlas maka jalan bagi seseorang yang meninggalkan akan terasa sangat berat dan gelap. Apa kamu menginginkan hal tersebut terjadi pada kakek dan nenek?" ucap Surya mencoba untuk memberikan pengertian kepada Edrea agar bisa belajar lebih ikhlas lagi dalam menghadapi segalanya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Surya barusan Edrea nampak terdiam, perkataan Surya memanglah benar tapi kenyataannya tidak semuda yang di ucapkan oleh Surya bahkan rasanya begitu berat dan membuatnya tersiksa, semua kenangan mendadak terkumpul menjadi satu di benaknya dan menghantamnya dengan bertubi tubi, membuat perasaan Edrea kian tidak bisa rela dan melepaskan dengan ikhlas sebagaimana ucapan Surya padanya.


Surya yang melihat Edrea hanya diam lantas tersenyum, ditepuknya perlahan tangan Edrea yang lantas membuyarkan lamunan Edrea barusan. Di tatapnya raut wajah Surya yang terlihat begitu tenang dan damai itu, seakan tidak ada lagi beban hidup berat yang ditanggungnya.


"Apa kakek dan nenek bahagia?" tanya Edrea kemudian yang lantas membuat Surya kembali tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Edrea barusan.


"Tentu saja, tugas kami berdua di dunia sudah selesai dan kini saatnya tugas mu untuk melanjutkan kehidupan di dunia yang Fana itu. Percayalah Edrea... kematian bukanlah satu satunya hal yang menyakitkan, manusia pasti akan selalu di uji walau dengan cara yang berbeda, semua itu tergantung bagaimana cara kita dalam menghadapinya... kakek dan nenek percaya kamu bisa melakukannya Rea..." ucap Surya lagi sambil mengusap pundak Edrea.


Edrea menatap kakeknya sekali lagi dengan tatapan yang menelisik kemudian menghela nafasnya dengan panjang, bagaimanapun Edrea tetap harus belajar melepaskan, siap atau tidak inilah kehidupan di dunia, akan ada saatnya kita menyaksikan kelahiran dan ada saatnya pula kita menyaksikan kematian. Edrea yang sudah mulai mengerti lantas langsung kembali masuk ke dalam pelukan kakeknya dengan erat, Edrea ingin menumpahkan segala perasaannya kepada kakeknya untuk yang terakhir kalinya. Di usapnya rambut Edrea dengan lembut oleh Surya berusaha untuk menenangkan Edrea, cucunya itu memang harus di beri pengertian secara perlahan dan tidak bisa dengan kata kata kasar ataupun secara paksaan.


Ketika keduanya sedang mencurahkan kasih sayang untuk yang terakhir kalinya, suara pintu terbuka perlahan lahan mulai terdengar namun sama sekali tidak membuat Edrea melepas pelukannya kepada sang kakek, hingga sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya mulai terdengar, barulah Edrea melepaskan pelukannya.


"Kini sudah saatnya Rea..." ucap sebuah suara yang lantas membuat Edrea menatap ke arah sumber suara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2