Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Mengapa tidak ada yang memberitahuku?


__ADS_3

Ketiganya lantas terus berjalan ke arah tengah gudang, hingga kemudian baik Edrea, Arya dan juga Wili nampak menghentikan langkah kakinya ketika melihat seseorang tengah bersembunyi di balik tong oli dengan ukuran yang cukup besar.


"Yoga Prasetya... saatnya untuk kamu berhenti karena waktu mu di dunia ini telah berakhir." ucap Edrea dengan nada yang bangga seakan akan ia benar benar sosok penjemput arwah sungguhan, walau kenyataan sebenarnya Edrea hanyalah penjemput arwah yang masih dalam status magang.


"Apa maksud kalian?" ucap Yoga dengan tatapan yang bingung.


"Waktu kematianmu pukul 11.00, penyebab kematian tertembak ketika hendak kabur dari penggerebekan." ucap Edrea lagi sambil melihat iPad di tangannya. "Saatnya kamu ikut dengan kami saat ini." ucap Edrea lagi kemudian memberikan iPad tersebut pada Arya.


"Jangan gila kau, mati? yang benar saja?" ucapnya dengan tawa yang meremehkan.


Edrea yang mendengar hal tersebut lantas menghela nafasnya panjang.


"Apa kau tidak lihat tepat di arah jam 9 jasad mu tengah terbaring kaku saat ini." ucap Edrea lagi.


Yoga yang mendengar ucapan Edrea lantas langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Edrea, Yoga yang tadinya tidak percaya lantas di buat terkejut ketika ia benar benar melihat tubuhnya yang sudah bersimbah darah tergeletak begitu saja di lantai gudang yang penuh dengan debu.


"A... aku sudah tiada?" ucap Yoga dengan nada yang terkejut.


"Saatnya kau ikut dengan kami, kalian berdua kawal Yoga menuju ke stasiun." ucap Edrea yang lantas di balas anggukan oleh Arya, sedangkan Wili yang mendengar perintah dari Edrea barusan malah di buat kesal.


"Dasar manusia, bisanya hanya menyuruh tanpa bisa bertindak." ucap Wili dalam hati ketika mendengar perintah dari Edrea barusan.


Pada akhirnya sesuai dengan instruksi dari Edrea barusan, baik Wili maupun Arya lantas mulai mengawal arwah Yoga menuju ke arah Stasiun, keempatnya lantas mulai melangkahkan kakinya secara perlahan dan pergi dari sana.


"Ternyata menjadi penjemput arwah tidaklah sesulit itu rupanya." ucap Edrea dalam hati merasa bangga dengan kerja kerasnya dalam menyusul arwah Yoga. Hingga kemudian ketika Wili dan juga Arya tengah lengah, Yoga yang masih belum bisa menerima kematiannya lantas langsung mendorong tubuh keduanya hingga terhuyung dan hampir jatuh jika saja mereka tidak sigap dan langsung menyeimbangkan tubuh mereka.


Edrea yang melihat Yoga melarikan diri dan kabur lantas langsung terkejut bukan main.


"Bagaimana dia bisa kabur?" ucap Edrea dengan kesal.

__ADS_1


"Maaf saya tadi sedang tidak fokus." ucap Wili dengan kepala yang menunduk seakan merasa bersalah atas perbuatannya barusan.


" Ah sudahlah, sebaiknya kita berpencar saja agar bisa lebih cepat menemukan arwah yang kabur itu." ucap Edrea membagi tugas yang lantas di balas Wili dan juga Arya dengan anggukan kepala.


Setelah mendapat perintah tersebut Wili lantas langsung menghilang dan meninggalkan Edrea dan juga Arya di sana, Edrea yang melihat Arya hendak ikut menghilang juga lantas langsung menarik dengan erat jas milik Arya.


"Ada apa?" tanya Arya kemudian sambil menatap ke arah Edrea yang malah terlihat tersenyum ke arahnya dengan garing.


"Jadi begini, aku kan manusia biasa dan bukan dari golongan kalian... lalu bagaimana cara ku menangkapnya? jika menghadangnya saja aku tidak mampu." ucap Edrea pada akhirnya yang lantas membuat Arya menghela nafasnya dengan panjang.


Arya yang mendengar ucapan Edrea barusan, lantas langsung menusuk jarinya dengan jarum kemudian menempelkannya ke ibu jari milik Edrea di sebelah kiri karena Arya tahu ibu jari Edrea sebelah kanan sudah terikat dengan Barra.


"Kamu sebut saja nama ku tiga kali maka aku akan langsung datang padamu." ucap Arya kemudian setelah melakukan peoses pengikatan. Proses ini di lakukan agar kedua belah pihak bisa saling terhubung satu sama lain sekaligus memudahkan untuk memanggil salah satu dari mereka walau dengan cara hanya menyebut namanya.


"Baiklah kalau begitu" ucap Edrea kemudian sambil menatapi ibu jarinya yang terlihat bercahaya tadi. "Lalu apa yang terjadi dengan.." ucap Edrea kembali hendak bertanya namun ketika ia menoleh ke samping Edrea sudah tidak melihat keberadaan Arya di sebelahnya.


***


Ruangan Barra


Dari arah pintu masuk Max terlihat melangkahkan kakinya begitu saja masuk ke dalam ruangan Barra tanpa mengetuk pintu sebelumnya, membuat Barra yang sedang memejamkan matanya di kursi kebesarannya, lantas langsung perlahan memutar kursinya menghadap ke arah depan sambil membuka matanya perlahan.


"Apa yang membuat mu terburu buru seperti itu hingga lupa mengetuk pintu Max?" tanya Barra ketika Max berhenti tepat di hadapannya.


"Tim Edrea sepertinya tengah mendapat kesulitan saat ini tuan, dari sinyal yang kami terima tim Edrea melenceng jauh dari lokasi yang di tentukan untuk menjemput arwah tersebut." ucap Max mencoba melaporkan.


"Aku tahu dan aku juga merasakan hal itu, kita tunggu saja sebentar lagi baru kita mengambil tindakan..." ucap Barra kemudian.


***

__ADS_1


Sementara itu kembali pada Edrea yang tengah berusaha mencari keberadaan arwah Yoga.


Edrea terus melangkahkan kakinya menyusuri area gudang, Edrea sedikit lega karena ia memasuki alam arwah jadi tubuhnya tidak akan bisa terlihat oleh manusia, sehingga Edrea bisa berkeliling dengan tenang di tengah tengah aksi penggerebekan bandar narkoba yang sedang terjadi di sana.


Edrea terus melangkahkan kakinya ke segala penjuru gudang, hingga kemudian langkah kaki Edrea lantas terhenti ketika dari kejauhan Edrea melihat Yoga yang tengah menatapi tubuhnya, sambil berusaha terus memegang tubuhnya seakan berharap semua ini hanyalah mimpi.


"Mungkinkah aku terlalu negatif thinking padanya?" ucap Edrea dalam hati ketika melihat pemandangan di hadapannya.


Dengan perlahan Edrea lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Yoga berada.


"Yoga semuanya sudah berakhir, apa yang telah kamu lakukan di dunia tidak akan bisa di putar kembali kecuali kamu bereinkarnasi dalam betuk yang jauh lebih baik di kehidupan yang akan datang, tidakkah kamu menginginkan hal itu?" ucap Edrea dengan lebih lembut seakan berusaha membujuk Yoga agar mau ikut bersamanya.


"Aku tidak bisa mati begitu saja, ada banyak hal yang masih harus aku lakukan..." ucap Yoga dengan manik mata yang sendu.


"Semua akan baik baik saja walau ketika kamu pergi nantinya." ucap Edrea lagi sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Yoga.


"Tidak! kau salah... siapa yang akan menemani ibu ku di rumah jika aku telah tiada? Kau yang tak tahu apa apa tidak usah ikut campur dan sok tahu!" teriak Yoga sambil menatap tajam ke arah Edrea.


Edrea yang mendengar teriakan tersebut tentu saja terkejut hingga langsung menghentikan langkah kakinya dengan spontan.


"Memang awalnya akan terasa sulit menerimanya, tapi seiring berjalannya waktu orang yang di tinggalkan akan mulai menerima kenyataan yang memang harus mereka terima dan jalani, jadi kamu tidak perlu khawatir akan hal itu." ucap Edrea lagi.


Kali ini Yoga nampak terdiam, membuat Edrea lantas seakan berhasil membujuk Yoga.


Hingga ketika jarak keduanya sudah tinggal dua langkah lagi tanpa di duga duga Yoga tiba tiba marah dan melempar sebuah balok kayu ke arah Edrea. Edrea yang juga terkejut dan tidak bisa menghindar lantas tidak bisa bergerak kecuali meneriakkan satu nama di mulutnya.


"BARA!" teriak Edrea.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2