
Merasa ada yang tidak beres dengan sarangnya sosok Siluman ular hitam yang berubah menjadi ular kobra hitam, lantas langsung menuju ke sarangnya dengan perasaan yang penuh dengan amarah. Apa yang dilakukan oleh Barra benar-benar telah membuatnya marah. Hingga ketika Siluman ular hitam itu sampai di gua, sosok ular kobra hitam itu berubah menjadi Angkara dan langsung melangkahkan kakinya masuk semakin dalam ke mulut gua menuju ke arah singgasananya.
Setelah ia mendapatkan kekuatan lewat menghisap energi kehidupan puluhan manusia, membuat sosok ular kobra hitam tersebut kini bisa berubah menjadi wujud manusia walau kekuatannya belum sempurna dan kembali seperti semula.
"Apa yang terjadi dengan istana ku?" pekiknya ketika melihat beberapa bala tentaranya sudah bergelimpangan di sana, sedangkan tepat di area singgasananya penuh dengan air liur akibat letusan kepompong yang membalut jiwa Fano dibuka dengan paksa.
Sesosok hewan pengerat nampak mendekat ke arah dimana Angkara berada kemudian merubah sosoknya menjadi manusia. Sambil memegangi area dadanya yang terluka sosok itu nampak mendekat untuk memberikan laporan kepada Angkara.
"Apa yang sebenarnya terjadi ketika aku tidak ada di sini?" tanya Angkara dengan tatapan yang murka.
Mendengar pertanyaan tersebut sosok siluman tikus itu nampak terdiam sambil menunduk, ia bahkan benar-benar bingung harus mengatakan apa kepada Angkara tentang keadaan sarangnya yang terlihat begitu kacau itu. Melihat Siluman tikus hanya diam membuat Angkara semakin jengkel hingga langsung menghantam Siluman tikus dengan energinya. Beruntung kekuatan Angkara belum sepenuhnya kembali sehingga serangan yang di dapatkan oleh Siluman tikus tersebut tidaklah kuat dan menyebabkannya hingga tewas.
Siluman tikus tersebut yang mendapat serangan dari Angkara lantas perlahan-lahan mulai bangkit dan kembali menundukkan kepalanya, membuat Angkara yang melihat hal tersebut lantas semakin kesal kemudian melesat ke arah Siluman tikus tersebut dan mencengkram kerah bajunya dengan erat.
"Apa kau begitu bodoh hingga kecolongan seperti ini? Bukankah ilmu mu lebih tinggi dari yang lainnya?" ucap Angkara dengan menatap tajam ke arah siluman tikus tersebut.
"Di... dia terlalu kuat tuan, saya bukanlah tandingannya." ucap Siluman tikus tersebut.
Mendengar perkataan tersebut Angkara terlihat marah namun detik berikutnya menghempaskan tubuh Siluman tikus tersebut begitu saja dan langsung berbalik badan memunggunginya.
__ADS_1
"Pergi kau dari sini, aku tidak ingin melihat mu!" ucap Angkara dengan nada yang ketus.
Pada akhirnya sosok Siluman tikus tersebut lantas meninggalkan sarang sesuai dengan perintah Angkara tanpa protes sedikitpun. Siluman tikus tersebut tidaklah marah kepada Angkara karena memang semua ini terjadi karena kecerobohannya.
"Arggggg" teriak Angkara sambil menendang kursi singgasananya tepat setelah kepergian Siluman tikus tersebut dari sana.
*****
Sementara itu setelah berhasil mengeluarkan jiwa Fano dari benda yang mirip kepompong itu baik Barra, Edrea maupun Fano terlihat kembali ke rumah milik Fano. Di mana di sana terlihat raga Fano masih melamun menatap kosong ke arah lukisan tersebut. Sedangkan Fano yang melihat raganya tengah terduduk dalam posisi tersebut lantas menghela nafasnya dengan panjang.
"Masuklah ke raga mu sekarang juga." ucap Barra kemudian memberikan perintah kepada Fano untuk segera bergerak kembali.
Fano yang mendengar ucapan dari Barra barusan lantas mendengus dengan kesal, tanpa diminta oleh Barra pun Fano juga tahu jika ia harus kembali saat ini ke dalam raganya. Diliriknya sekilas Edrea yang sedari tadi hanya diam tanpa mengatakan apapun, Fano melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea membuat Barra langsung menatap dengan tatapan yang bertanya apa yang akan dilakukan oleh Fano dengan mendekati Edrea.
Mendengar perkataan Fano yang terdengar gila itu membuat Edrea dan juga Barra langsung terkejut seketika. Bisa-bisanya disaat seperti ini Fano sempat-sempatnya melantur. Edrea menoyor jidat Fano karena kesal, membuat Fano langsung menatapnya dengan tatapan yang bingung. Sepertinya Fano mengira bahwa ia hanya menghilang selama beberapa hari sehingga mengira Edrea masih menyukainya, padahal yang terjadi bukanlah seperti itu.
"Kau jangan berbicara melantur ya, kalau tidak awas aja kau!" ucap Edrea dengan nada yang kesal sambil menatap tajam ke arah jiwa Fano.
"Aku adalah orang yang menepati janji dan bagiku janji adalah hutang." ucap jiwa Fano lagi seakan tidak mau mendengar ucapan dari Edrea barusan.
__ADS_1
Barra yang tadinya tidak mengerti akan maksud dari ucapan Fano, perlahan-lahan mulai mengerti setelah Fano mengatakan perihal tentang janji. Mendengar kata berpacaran membuat tangan Barra langsung mengepal dengan erat, entah mengapa ada perasaan marah dan juga kesal ketika melihat ada seorang pria yang begitu terang-terangan mengajak Edrea berpacaran.
"Aku sama sekali tidak membutuhkan jan..." ucap Edrea ingin kembali membantah namun terpotong dengan ucapan Barra.
Barra yang mendengar Edrea hendak kembali berbicara, lantas langsung memotong ucapan dari Edrea sebelum Edrea mengatakan hal yang tidak-tidak. Barra melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya dan berhenti tepat di antara Fano dan juga Edrea, membuat Fano maupun Edrea lantas kebingungan ketika Barra malah berdiri di tengah-tengah keduanya.
"Tidak ada yang namanya pacar-pacaran, kau... sebaiknya segera masuk ke tubuh mu atau ku antar kau menuju ke atas, SEKARANG JUGA!" ucap Barra dengan nada penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Edrea yang merasa Barra mulai terbawa emosi lantas langsung memegang punggung Barra seakan berusaha untuk meredam emosi pria itu. Sedangkan Barra yang mengetahui maksud dari pegangan Edrea hanya menghela nafasnya dengan panjang sambil melirik sekilas ke arah Edrea kemudian kembali menatap ke arah Fano.
"Sebaiknya kamu segera bergegas masuk ke dalam ragamu sekarang, jika kamu menundanya lagi maka kamu tidak akan bisa kembali nantinya." ucap Edrea kemudian sambil mengode Fano agar segera melangkahkan kakinya.
"Tapi aku..." ucap jiwa Fano kembali hendak protes namun keburu di potong oleh Edrea.
Edrea yang tidak ingin mendengar lagi ucapan dari jiwa Fano yang semakin kemana-mana di tambah lagi dengan Barra yang terlihat emosian, pada akhirnya menarik tangan jiwa Fano kemudian mendorongnya ke arah raganya.
Raga Fano yang semula memang hanya berisi cangkang kosong, mendadak langsung di kembalikan dengan sebuah dorongan tentu saja membuat raga Fano langsung terkejut hingga bangkit dari posisinya ketika menerima jiwanya kembali secara kasar.
Edrea yang melihat raga Fano seperti terkejut tentu saja sedikit merasa bersalah hingga membuatnya langsung menutup mulutnya sambil menatap ke sembarang arah seakan seperti orang yang tidak berdosa sama sekali.
__ADS_1
"Apa kau senang sekarang?" ucap Barra kemudian dengan nada yang datar.
Bersambung