
Disaat Edrea tengah sibuk dengan benda yang menyelimuti Fano, sementara Barra sibuk bertarung dengan beberapa makhluk jadi-jadian yang terlihat menyerangnya secara bertubi-tubi tanpa henti. Satu persatu Siluman mulai Barra basmi dan lenyapkan. Hingga ketika Barra masih sibuk melawan Siluman tikus yang tadi sempat mengejar Edrea, suara Edrea yang mencoba bertelepati dengannya lantas mulai terdengar menggema di telinganya, membuat Barra langsung mendengus dengan kesal ketika mendengar suara Edrea terus mengganggunya dalam bertarung. Sampai-sampai Barra yang tidak terlalu fokus menatap ke arah depan lantas sedikit terpelanting hingga menabrak dinding gua.
"Ah sial!" ucap Barra dengan nada yang kesal.
"Bar apa kau mendengar ku?" suara Edrea kembali terdengar menggema di telinganya membuat Barra langsung memutar bola matanya dengan jengah.
Sambil bangkit dari posisinya Bara lantas melemaskan otot-ototnya, kemudian melesat ke arah tikus tersebut dan langsung memberinya hantaman yang kuat hingga Siluman tikus tersebut terlempar cukup jauh.
"Ada apa?" ucap Barra kemudian sambil kembali melesat dan menuju ke arah Siluman yang masih tersisa di gua tersebut.
"Kemana saja kamu? Aku bahkan memanggil mu sedari tadi!" gerutu Edrea dengan kesal.
Sedangkan Barra yang mendengar gerutuan Edrea barusan lantas langsung menghela nafasnya dengan panjang. Setelah perjuangan yang melelahkan harus Barra tempuh untuk membunuh satu persatu siluman di sana, bisa-bisanya Edrea mempermasalahkan hal kecil hanya karena Barra tidak menjawab panggilannya.
"Apa kau melakukan telepati hanya ingin mengerjai ku saja? Aku bahkan tengah sibuk di sini dengan beberapa Siluman, tapi kau malah mengganggu ku saja!" jawab Barra dengan nada yang kesal sambil mengumpulkan energinya dan mengarahkannya ke arah Siluman tikus tersebut.
Boom
Suara ledakan yang besar lantas terdengar menggema di area gua tersebut, membuat Edrea yang berada jauh dari tempat di mana Barra berada ikut terkejut akan suara ledakan tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja Bar?" tanya Edrea kemudian ketika mendengar suara ledakan tersebut walau terdengar begitu samar.
"Aku baik-baik saja, katakan ada apa?" tanya Barra kemudian.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, sebenarnya ada sesuatu yang membalut jiwa Fano bentuknya seperti kepompong tapi begitu berlendir dan susah untuk di buka, aku sudah berusaha membukanya tapi selalu saja tertutup kembali." ucap Edrea mengadu kepada Barra.
Barra yang mendengar pertanyaan dari Edrea lantas kembali menghela nafasnya dengan panjang. Barra benar-benar kesal Edrea sedari tadi hanya mengganggunya saja tanpa bisa memutuskannya sendiri atau paling tidak mencari jalan keluar di setiap permasalahannya.
"Carilah inti dari benda itu, setelah ketemu pusatkan energi mu dan cobalah untuk membuka lagi." ucap Barra memberikan petunjuk.
Edrea yang mendengar petunjuk tersebut tentu saja mulai bergerak dan mencari keberadaan inti yang di maksud oleh Barra barusan, hanya saja sayangnya meski Edrea tengah berputar-putar atau bahkan menggelindingnya agar berpindah tempat, pusat inti yang di katakan oleh Barra tadi sama sekali tidak Edrea temui di manapun, membuat Barra yang kembali mendengar suara Edrea yang meminta tolong membuka benda berliur itu, lantas menghembuskan nafasnya dengan kasar dan langsung memutus telepatinya.
"Dasar Edrea... tidak bisa kah ia sedikit menggunakan otaknya untuk berpikir?" gerutu Barra dengan nada yang kesal kemudian langsung berteleportasi dari sana menuju di mana tempat Edrea berada saat ini.
***
"Dasar Barra, tidak bisa emangnya apa menjawab pertanyaan ku dulu baru mengakhirinya? Lagi pula inti apa yang ia bicarakan? Aku bahkan sama sekali tidak melihat inti yang dia bicarakan sedari tadi." ucap Edrea dengan nada yang kesal karena Barra yang tiba-tiba memutus telepati diantara keduanya.
Setelah telepati diantara Edrea dan juga Barra terputus dengan tiba-tiba, lantas membuat Edrea menggerutu sepanjang detik. Entah mengapa Edrea sangat kesal akan Barra yang memutusnya secara tiba-tiba. Hingga ketika sebuah suara menyapanya kemudian lantas membuat Edrea langsung berbalik badan dan menoleh ke arah sumber suara untuk memastikan suara yang baru saja ia dengar berasal dari seseorang yang dikenalnya.
__ADS_1
"Apa kamu akan terus mengomel seperti itu?" ucap sebuah suara yang langsung membuat Edrea menoleh ke arah sumber suara.
"Barra!" pekik Edrea.
Melihat suara tersebut benar-benar berasal dari Barra lantas langsung membuat Edrea tersenyum dengan cerah ketika melihat Barra yang terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea saat ini. Barra menatap ke arah benda yang berada tepat di area belakang Edrea sambil terus melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea. Hingga ketika jarak diantara keduanya hanya tinggal beberapa centi saja, barulah Barra menghentikan langkah kakinya dan fokus menatap ke arah benda yang membungkus Fano saat ini.
Barra menatap benda tersebut dengan tatapan yang menelisik kemudian terdiam sejenak seakan tengah berusaha untuk mencari inti dari benda tersebut.
"Benarkan inti dari benda ini sulit untuk di temukan? Kau saja tidak bisa menemukannya apalagi ak..." ucap Edrea namun terhenti ketika melihat tangan Barra naik tepat ke depan wajahnya seakan mengisyaratkan kepada Edrea untuk diam dan jangan berisik.
Dengan perlahan tangan Barra mulai bergerak dan menyentuh pada sebuah ujung dari benda tersebut yang terlihat bulat namun seperti bertali, dengan posisinya yang sedikit ke bawah seakan sulit untuk di kenali jika seseorang yang mencarinya tidaklah teliti. Barra yang yakin jika benda tersebut adalah intinya lantas mulai menarik benda tersebut dan detik berikutnya sebuah kilatan cahaya nampak memancar dan menyilaukan keduanya yang tengah berada di sana.
***
Sementara itu di dunia manusia
Sosok ular kobra yang kini perlahan-lahan wujudnya sudah terlihat kian memanjang dan juga besar, terlihat tengah kembali menyerap energi dari seorang manusia di daerah pinggiran kota. Sosok ular kobra hitam tersebut menyerap energi kehidupan orang tersebut sampai habis dan tak tersisa lagi. Baru setelah manusia yang ia ambil energinya mulai berganti dengan rupa yang tua dan keriput, barulah sosok ular hitam tersebut berlalu pergi dan meninggalkan tubuh tersebut tergeletak di sana.
Manik mata ular kobra tersebut dengan tiba-tiba berubah menjadi berwarna kemerahan sekilas ketika terkena sinar cahaya rembulan namun detik berikutnya kembali pada semula.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan dengan sarang dan bala tentara ku Bar?" ucap sosok Siluman ular hitam tersebut yang kini masih berbentuk ular kobra hitam.
Bersambung