
Edrea yang mulai berkeringat dingin lantas samar samar seperti melihat sebuah helm lengkap dengan potongan kepala di dalamnya nampak melayang mendekat ke arahnya, membuat Edrea tak bisa berkutik dan hanya diam mematung dengan nafas yang berat.
"Bar... ra..." panggil Edrea dengan nada yang lirih.
Sedangkan Barra yang melihat helm beserta potongan kepala itu melayang ke arah Edrea dengan spontan Barra langsung menarik tubuh Edrea, sehingga Edrea yang memang tengah lemas dan gemetaran di tarik seperti itu oleh Barra tentu saja langsung ngikut dan jatuh ke dalam pelukan laki laki itu.
Edrea yang jatuh ke pelukan Barra lantas dengan spontan menggenggam erat lengan Barra sambil memejamkan matanya karena tidak sanggup melihat kengerian yang tersaji di hadapannya.
"Jangan melihatnya... tutuplah matamu." ucap Barra dengan lirih membuat Edrea semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Barra.
Bruk... tak tak tak...
Helm tersebut kemudian jatuh dan menggelinding tepat di sebelah Edrea dengan bunyi yang cukup nyaring. Beberapa petugas yang memang tengah berdiri berjajar di kanan dan kirinya, lantas terkejut ketika melihat Barra memeluk tubuh Edrea dengan erat. Ini baru pertama kalinya mereka melihat tuan mereka memeluk seorang wanita dengan sangat eratnya, bukankah ini sebuah momen yang langka?
"Apa yang kalian lihat saat ini? cepat bekerja!" teriak Barra yang sadar bahwa ia dan Edrea kini tengah menjadi pusat perhatian.
"Baik tuan!" ucap beberapa petugas yang mendengar perintah itu dengan serentak.
Setelah mendengar perintah tersebut semua orang nampak berhamburan dan memulai tugas mereka untuk menjemput satu persatu arwah untuk di bawa ke Stasiun pemberhentian.
Beberapa menit setelah suara langkah kaki terdengar berlarian di area jalan tersebut, perlahan lahan Edrea mulai melepas genggaman tangannya dan mundur perlahan ketika merasa lebih tenang.
"Apa kau sudah lebih baik? dasar lemah... aku bahkan tadi sudah memperingatkan mu bukan bahwa kau harus bersiap?" ucap Barra dengan nada yang datar membuat Edrea lantas langsung mendongak ke arahnya.
"Aturannya tadi harusnya aku berterima kasih akan perlakuan mu yang menenangkan ku, tapi sepertinya itu tidak berlaku setelah aku mendengar kata kata pedas dari mu!" ucap Edrea sambil mendengus kesal ketika mendengar ucapan dari Barra barusan.
"Terserah apa katamu..." ucap Barra sambil memutar bola matanya yang jengah.
__ADS_1
Barra kemudian langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah lokasi kejadian untuk membantu penjemputan arwah korban kecelakaan beruntun yang baru saja terjadi. Edrea yang melihat Barra pergi lantas dengan spontan mengikuti langkah kaki Barra walau sebenarnya ia sangat enggan, bukan karena apa? di sisi lain Edrea takut karena melihat banyaknya korban yang berjatuhan di jalanan namun di sisi lainnya Edrea juga kesal setelah mendengar ucapan Barra tadi.
Ketika Edrea mengikuti langkah kaki Barra, tanpa Edrea ketahui Barra lantas menjentikkan jarinya hingga kemudian sebuah iPad terlihat muncul di tangan Edrea, membuat Edrea lantas terkejut ketika tiba tiba sebuah iPad muncul di tangannya.
"Gunakanlah itu dan jemput satu arwah yang tertulis di sana, kau sudah mempelajarinya bukan?" ucap Barra dengan nada yang datar ketika melihat wajah bingung Edrea akan kehadiran iPad tersebut.
"Tapi... aku kan tidak mempunyai kekuatan seperti kalian, lalu bagaimana caraku membawa arwah tersebut ke Stasiun?" tanya Edrea dengan nada yang kebingungan.
"Kau melihat mobil yang terparkir di sana bukan? itu adalah mobil yang akan membawa para arwah pergi menuju ke stasiun, jika kau kehabisan mobil tinggal panggil nama ku atau Arya, bukankah kemarin kau sudah membuat segel bersama dengan Arya?" ucap Barra dengan santainya sambil bersendekap dada.
"Apa? sejak kapan aku membuat segel.... jangan bilang..." ucap Edrea dengan kebingungan namun langsung terkejut ketika mengingat kejadian tempo hari ketika Arya menyatukan ibu jarinya dengan milik Edrea.
"Kau sudah ingat bukan? jadi lakukan tugas mu dengan benar." ucap Barra kemudian langsung berteleportasi pergi dari sana meninggalkan Edrea sendiri dengan tatapan yang masih kebingungan.
Setelah kepergian Barra dari sana, Edrea lantas menghela nafasnya panjang. Tidak ada pilihan lagi untuk Edrea saat ini selain melaksanakan perintah dari Barra. Dengan gerakan yang malas Edrea lantas mulai mengusap layar iPad tersebut dan menggesernya secara perlahan.
Ttl : Bandung, 15 Januari 1992
Kode gerbong : Biru
Keterangan : Meninggal di tempat karena serangan jantung akibat benturan dari kecelakaan Bus yang ditumpanginya.
Edrea kemudian lantas menggeser layar iPadnya dan melihat kilas balik kehidupan Ardi di sana secara singkat.
"Ternyata dia akan menikah beberapa hari lagi, ah tragis sekali nasibnya." ucap Edrea yang bersimpati ketika melihat kilas balik kehidupan Ardi pada layar iPadnya.
Beberapa menit Edrea melihat lihat, ia kemudian menarik nafasnya cukup lama kemudian menghembuskannya secara perlahan.
__ADS_1
"Aku pasti bisa... Semangat!" ucap Edrea menyemangati dirinya sendiri kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana mencari keberadaan arwah Ardi.
Sedangkan tanpa Edrea sadari tak jauh darinya, terlihat Barra sedang mengawasi Edrea dengan tatapan yang serius. Tanpa Edrea ketahui sebenarnya Barra tidak berteleportasi ke tempat yang jauh melainkan tetap berada di area sana untuk memantau Edrea.
"Aku tidak yakin dia kali ini tidak kembali berulah lagi.." ucap Barra sambil melihat setiap gerak gerik Edrea tak jauh dari posisi Edrea berdiri.
**
Edrea menatap ke sana ke mari dengan tatapan yang penuh dengan kengerian, Edrea melihat di kanan dan kirinya banyak sekali korban yang berjatuhan. Terlihat juga beberapa petugas Stasiun yang mulai menjemput beberapa arwah di sana.
Ketika Edrea menyisir daerah sekitar, pandangannya lantas terhenti ketika melihat seorang arwah tengah berusaha menyentuh tubuh yang tertimpa dengan badan Bus tak jauh dari tempat Edrea berada. Tangan Edrea mendadak bergetar ketika melihat kondisi mayat yang seperti itu, pandanganya bahkan sempat mengabur namun Edrea berusaha sebisa mungkin untuk tetap sadar dan berdiri pada tempatnya.
"Se.. sepertinya itu Ardi" ucap Edrea dengan nada yang bergetar sambil menahan kengerian yang sedari tadi menyelimuti dirinya.
Edrea yang melihat Ardi di sana lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Ardi sambil mengambil nafasnya dengan panjang berulang kali, mencoba sebisa mungkin menetralkan dirinya agar bisa bersikap dengan normal walau melihat banyaknya korban yang bergelimpangan di sana.
"Ardi Laksmana, lahir di Bandung 15 Januari 1992, waktu kematian 13.05 akibat kecelakaan." ucap Edrea dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh sosok arwah di hadapannya, di mana sosok arwah itu terlihat sedih dan termenung menatapi jasadnya yang tertimpa badan Bus, yang sudah di pastikan bahwa itu adalah arwah Ardi.
"Aku tidak bisa pergi..." ucap Ardi dengan nada yang tercekat.
"Waktu mu di dunia sudah berakhir, saatnya kamu untuk pergi dan beristirahat dengan tenang." ucap Edrea lagi.
"Ku mohon bantu aku." ucap ardi lagi dengan nada memohon.
"Aku..."
Bersambung
__ADS_1