
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Barra yang sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Mira barusan.
Mira yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung menarik napasnya dalam-dalam. Mira yakin sebentar lagi Barra pasti akan memarahinya karena mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan kepada Edrea. Dengan perasaan yang berat hati pada akhirnya Mira mulai menjelaskan segalanya termasuk ketika ia dan juga Edrea tak sengaja bertemu dengan Lidia teman masa kecil Edrea yang sudah lama tidak bertemu.
Barra yang tadinya sama sekali tidak mengerti akan maksud dari perkataan Mira, setelah Mira menjelaskan segalanya perlahan-lahan Barra lantas mulai mengerti akan perkataan Mira. Barra yang mendengar penjelasan dari Mira tentu saja terkejut sekaligus kesal karena Mira yang notabennya sudah tahu sifat dan juga karakter Edrea, malah dengan santainya mengatakan kepada Edrea bahwa temannya akan meninggal. Bukankah itu namanya Mira mencari penyakit?
Barra yang tidak tahu lagi harus berkomentar apa lantas hanya bisa memegang tengkuknya yang terasa berat itu. Satu masalah bahkan baru saja selesai namun Mira malah menambahnya yang baru. Mira yang melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Barra menjadi semakin merasa bersalah akan hal itu. Jika tahu akan jadi seperti ini tentu saja Mira tidak akan dengan bodohnya mengatakan kepada Edrea tentang kematian temannya tersebut.
"Aku minta maaf karena hal ini, tapi ijinkan aku untuk segera bertindak agar masalah tidak kian melebar dan membahayakan Edrea lagi." ucap Mira dengan bada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Barra.
Barra yang memang tidak tahu sebab kematian arwah yang akan dijemput oleh Mira, mendengar Mira mengatakan hal tersebut membuat Barra dengan spontan menatap ke arah Mira dengan raut wajah yang penasaran, membuat Mira langsung menelan salivanya dengan kasar ketika ia mendapat tatapan dari Barra barusan.
"Memang apa penyebab kematiannya?" tanya Barra dengan raut wajah yang penasaran.
"Em anu... korban pembunuhan!" ucap Mira dengan nada yang ragu-ragu tapi berhasil membuat Barra melotot seketika disaat mendengar jawaban dari Mira barusan.
***
Sementara itu Edrea yang sudah hampir mendatangi seluruh Barbershop yang ada di Ibukota, dengan raut wajah yang semakin tidak enak Edrea lantas terlihat kembali berteleportasi ke tempat terakhir. Sambil mengusap keringatnya yang mulai membasahi dahinya Edrea mulai mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dan mencoba mencari keberadaan Lidia di sekitaran sana. Edrea benar-benar frustasi ketika ia sudah berkeliling namun tak kunjung menemukan keberadaan Lidia. Hingga ketika langkah kakinya sudah mulai terasa berat dan lelah, Edrea mencoba untuk menghentikan gerakannya.
__ADS_1
Sambil berdecak dengan kesal Edrea terlihat merogoh saku celananya dan mencoba untuk mengambil ponsel miliknya. Di tekannya layar ponselnya dan langsung menghubungi nomor ponsel Lidia sambil terus mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Sebuah suara deringan ponsel yang terdengar berada tidak jauh dari posisinya terdengar menggema di telinga Edrea, membuat Edrea lantas langsung menajamkan telinganya begitu mendengar suara deringan ponsel tersebut.
Sambil melangkahkan kakinya secara perlahan Edrea mulai mendekat ke arah suara nada dering tersebut berbunyi. Sampai kemudian ketika Edrea terus melangkahkan kakinya mengikuti arah suara nada dering barusan. Sebuah ponsel yang menyala terlihat tengah tergeletak di jalan, membuat Edrea yang melihat hal tersebut lantas langsung berlarian mendekat ke arah dimana ponsel itu berada dan memungutnya dari tanah. Nama Edrea tertera dengan jelas pada layar ponsel tersebut yang menandakan bahwa ponsel yang ia pegang saat ini benar-benar milik Lidia namun yang jadi pertanyaannya sejarang adalah, dimana Lidia saat ini?
"Arghhh sial!" pekik Edrea yang mulai kesal karena ia malah menemukan ponselnya bukan orangnya.
Edrea mengusap rambutnya dengan kasar ketika ia tak kunjung menemukan keberadaan Lidia saat ini. Harusnya ia sedari awal mengatakan kepada Lidia untuk lebih berhati-hati, namun karena percakapan dan juga topik pembicaraan keduanya yang begitu ringan membuat Edrea malah terhanyut dan sampai melupakan perkataan Mira yang mengatakan tentang kematian Lidia malam ini.
"Benar-benar bodoh kau Rea!" imbuh Edrea lagi seakan merutuki kebodohannya yang malah terhanyut dan terbawa ke suasana tanpa menyadari akan sesuatu yang lebih penting lagi saat ini.
***
Mira melirik sekilas ke arah Barra yang kini hanya terlihat diam saja sambil menatap ke arah dimana rumah tersebut berada, membuat Mira lantas kembali merasa bersalah jika raut wajah Barra terus-terusan seperti itu.
"Apa kau mau menunggu di sini atau ikut masuk?" tanya Mira dengan nada yang lirih, membuat Barra lantas menoleh ke arah Mira sekilas kemudian kembali menatap ke arah depan.
"Aku akan berjaga-jaga di sini, jika memang nanti Edrea datang aku bisa langsung menyergapnya." ucap Barra dengan nada yang datar.
"Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu dan menyelesaikan semuanya dengan cepat." ucap Mira pada akhirnya.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal tersebut Mira kemudian mulai melangkahkan kakinya hendak menuju masuk ke arah rumah tersebut, namun sebuah suara yang berasal dari mulut Barra lantas langsung menghentikan langkah kaki Mira detik itu juga.
"Buat mayatnya lebih cepat tercium pihak kepolisian Mir!" ucap Barra memberikan perintah kepada Mira.
"Baiklah aku mengerti" ucap Mira kemudian sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Setelah menyanggupi permintaan dari Barra barusan Mira lantas terlihat melangkahkan kakinya dan berpindah tempat langsung masuk ke dalam rumah.
***
Di dalam rumah
Suasana rumah yang begitu gelap terlihat dengan jelas begitu Mira memasuki semakin dalam area rumah tersebut. Bau anyir khas darah manusia tercium begitu menyengat tepat ketika Mira melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam, membuat Mira lantas berdecak dengan kesal karena ia selalu saja berurusan dengan sosok arwah seperti ini lagi dan lagi.
Mira yang tak ingin berlama-lama di ruangan ini lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah sosok arwah yang terlihat tengah dalam posisi jongkok sambil diam dengan termenung menatap ke arah tubuhnya yang di potong dengan keji tanpa perasaan sama sekali. Mira menghentikan langkah kakinya tepat di sebelah sosok arwah tersebut dan mulai membuka iPad di tangannya.
"Lidia Juwita Amelia, tugas mu di dunia ini sudah selesai. Saatnya kamu ikut dengan ku menuju ke alam yang lebih baik dan mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang telah kamu lakukan baik keburukan maupun kebaikan selama kamu di dunia." ucap Mira kemudian yang lantas membuat sosok arwah Lidia langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu"
__ADS_1
Bersambung