
"Di mana Steven?" tanya Max dengan raut wajah yang bingung
"Mana aku tahu, aku kan hanya mengikuti mu sedari tadi." ucap Arya sambil mengangkat kedua bahunya pelan tanda tidak mengerti.
Mendengar jawaban dari Arya barusan membuat Max lantas berdecak dengan kesal. Di dalam iPad miliknya bahkan tidak ada informasi sama sekali yang mengatakan bahwa arwah Steven kabur yang berarti bahwa sosok arwah Steven baru saja pergi tepat setelah kematiannya. Max yang penasaran di mana kepergiannya sosok arwah tersebut, lantas mulai mengedarkan pandangannya ke arah sekitar berusaha mencari petunjuk di mana perginya sosok arwah tersebut.
Bukan perkara gampang mencari sosok arwah yang hilang, aura mereka yang berbaur dengan manusia membuat mereka sedikit tersamar dan sulit di deteksi oleh sistem. Belum lagi mereka yang suka sekali berpindah-pindah tempat, membuat petugas penjemput para arwah sedikit kesulitan jika memburu mereka.
Max menatap ke arah sekeliling dan mencoba mencari petunjuk, ada beberapa hal janggal yang ia temukan di sana dimana keadaan kamar yang penuh dengan cat membuat Max curiga karena harusnya jika terdapat cat yang berserakan di lantai dan belum di bersihkan, bukannya seharusnya ada satu karya atau bahkan beberapa karya di ruangan ini? Namun setelah Max menatap ke arah sekitar di dalam studio Apartment ini sama sekali tidak ada karya apapun jika melihat data riwayat hidup Steven yang menjadi pelukis semasa hidupnya.
Jika memang karya itu laku terjual atau telah di ambil, bukankah seharusnya jasad Steven sudah di temukan? Mengingat posisinya yang meninggal di kamarnya. Entah mengapa Max merasa ada yang aneh di sini, namun Max tidak bisa jika menerka-nerka saja.
"Lalu bagaimana? Jika memang arwah Steven adalah sosok arwah yang hilang, aku yakin kasus kali ini akan kembali panjang seperti kasus-kasus arwah yang hilang lainnya." ucap Arya kemudian.
Mendengar ucapan Arya barusan Max lantas bangkit dari posisinya dan menatap ke arah Arya sebentar.
"Entahlah aku juga tidak tahu, tapi yang jelas ada yang salah di sini, sebaiknya kita kembali ke Stasiun pemberhentian agar aku bisa melaporkannya terlebih dahulu kepada tuan." ucap Max pada akhirnya memutuskan.
"Baiklah, terserah padamu." ucap Arya kemudian mengikuti pendapat dari Max.
****
Stasiun Pemberhentian
__ADS_1
Max yang baru saja sampai di Stasiun pemberhentian, lantas terlihat melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Barra dengan langkah yang bergegas. Membuat Barra yang tengah sibuk melihat dokumen sedari tadi lantas langsung menatap ke arah Max yang terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya.
"Tuan" ucap Max dengan nada yang lirih.
Mendengar suara lirih dari Max membuat Barra menatap ke arah Max dengan raut wajah yang penasaran.
"Sosok arwah yang saya jemput menghilang dari tempatnya tuan." ucap Max sambil menundukkan kepalanya.
"Bagaimana bisa?" tanya Barra dengan raut wajah yang kebingungan.
Mendengar pertanyaan tersebut Max kemudian lantas menjelaskan segalanya yang terjadi di Apartment Steven termasuk dengan cat yang berserakan dan juga posisi kematian Steven di Apartment Studionya. Barra yang mendengar penjelasan dari Max barusan lantas terdiam sejenak, mencoba untuk mencari solusi dari permasalahan Max kali ini. Hingga sebuah ide mendadak terlintas di benaknya, membuat Barra langsung menatap ke arah Max dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Serahkan saja kepadaku dan Edrea, sepertinya tugas mencari arwah yang hilang kali ini lebih cocok dengan Edrea." ucap Barra dengan tersenyum tipis membuat Max sedikit kebingungan akan ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Barra saat ini.
"Apa anda yakin tuan?" tanya Max kemudian membuat Barra langsung kembali mendongak menatap ke arahnya.
"Kita lihat saja nanti." ucap Barra dengan tersenyum tipis membuat Max semakin dibuat tidak mengerti dan kebingungan akan ucapan dari Barra barusan.
***
Galeri seni
Edrea yang sedari tadi mengikuti gumpalan asap berwarna hitam keabuan yang terus saja muncul dan juga menghilang, membuat Edrea lantas menghentikan langkah kakinya dan menarik nafas dalam-dalam. Kali ini Edrea benar-benar yakin bahwa ia tengah dikerjai saat ini. Edrea yang mulai jengah terus berputar-putar di tempat ini, lantas mulai mengedarkan pandangannya ke sekitar menatap satu persatu lukisan yang terpajang di sana, Edrea yakin pasti sosok arwah yang membentuk gumpalan asap berwarna hitam keabuan itu bersembunyi di salah satu lukisan ataupun patung yang di pajang di Galeri seni ini.
__ADS_1
Hingga kemudian pandangan mata Edrea lantas terhenti ketika ia mendapati satu lukisan yang di tutup begitu banyak pengunjung galeri seni tersebut. Ada sebuah aura aneh yang mengelilingi lukisan tersebut namun tidak bisa Edrea lihat dengan jelas karena tertutup oleh beberapa orang yang sedang berdesak-desakan seperti ingin melihat sesuatu di area depan lukisan.
"Ketemu!" ucap Edrea dengan senyum yang mengembang.
Edrea yang memang sedang mencari keberadaan dari asap tersebut, lantas terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah kerumunan beberapa orang yang ada dihadapannya hendak ikut berdesakan maju di area paling depan. Hanya saja ketika Edrea sudah mulai hendak masuk ke dalam kerumunan sebuah tangan seseorang lantas menarik lengan tangannya dan menariknya menjauh dari kerumunan, membuat Edrea terkejut seketika akan tarikan yang tiba tiba itu.
"Lihatlah Rea... lukisan ini cocokkan untuk tugas yang di berikan pak Reno?" ucap seseorang yang ternyata adalah Kiera setelah ia menariknya cukup jauh dari kerumunan orang-orang tadi.
"Ki... bisakah kamu tidak langsung menarik ku begitu saja? Aku ingin melihat lukisan di sana, tapi kamu malah menarik ku hingga ke sini!" ucap Edrea dengan nada yang kesal, membuat Kiera langsung cemberut seketika di saat mendengar ucapan Edrea barusan.
"Iya udah sih nanti sebelum pulang kan juga bisa lihat, lagi pula apa kamu tidak melihat di sana terlalu ramai? Berdesak-desakan sekalipun kamu tetap tidak akan bisa menikmati lukisan tersebut." ucap Kiera dengan nada yang santai membuat Edrea langsung berdecak dengan kesal ketika mendengarnya.
Hingga sebuah suara tak asing lantas langsung membuat Kiera dan juga Edrea menatap ke arah sumber suara.
"Rea!" panggil sebuah suara yang lantas membuat keduanya menoleh.
Barra nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya setelah sebelumnya memanggil nada Edrea. Kiera yang melihat langkah kaki Barra kian mendekat lantas langsung melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi menggandeng erat tangan Edrea. Ada terbesit perasaan takut dan juga gelisah ketika Kiera melihat kedatangan Barra yang tiba-tiba mendekat ke arah keduanya.
Edrea yang merasa ada sesuatu yang aneh dengan Kiera lantas langsung menatap intens ke arah Kiera.
"Apa kamu baik-baik saja Ki?" tanya Edrea dengan raut wajah yang khawatir.
"Aku..."
__ADS_1
"Ikutlah dengan ku Rea, ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu." ucap Barra kemudian memotong pembicaraan keduanya.
Bersambung