
Ruangan Barra
Baik Barra maupun Edrea, kini terlihat tengah sibuk dengan urusannya masing masing. Edrea nampak memperhatikan setiap detail tentang segala hal yang berkaitan dengan Sila melalui sebuah map yang di berikan oleh Mira tadi, sedangkan Barra saat ini tengah sibuk dan berkutat tentang dokumen para arwah yang hendak melakukan pemberangkatan.
"Sila hamil?" pekik Edrea ketika ia mengetahui fakta penting akan kematian Sila.
Barra yang tadinya sibuk dengan beberapa dokumen, lantas langsung mendongak dengan spontan ketika mendengar teriakan Edrea barusan.
"Bisa tidak suara mu itu di kondisikan?" ucap Barra sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Edrea dan mengambil duduk di sebelah Edrea.
"Maafkan aku, aku hanya terkejut ketika membaca file tentang Sila barusan." ucap Edrea sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jadi sekarang apa keputusan mu?" tanya Barra kemudian yang lantas membuat Edrea kembali menoleh ke arahnya.
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Edrea tidak mengerti akan pertanyaan dari Barra barusan.
"Ayolah Rea... aku tahu apa yang ada di pikiran mu, aku yakin setelah melihat file ini jiwa sosial mu yang tinggi itu akan tergerak untuk menyelesaikannya, bukan? jangan kira aku tidak bisa mencium akal bulus mu itu." ucap Barra dengan nada yang datar, membuat Edrea hanya bisa senyam senyum tidak jelas karena memang apa yang di ucapkan oleh Barra adalah kenyataannya.
"Jika kamu sudah tahu... maka aku minta kepadamu untuk tidak menghalangi ku melakukannya. Dia adalah kenalan ku Bar... aku tidak bisa hanya diam saja ketika dia di perlakukan seperti ini oleh kekasihnya." ucap Edrea dengan nada yang memohon.
Sedangkan Barra yang mendengar rengekan dari Edrea, lantas bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya kembali ke kursi kebesarannya.
"Aku tidak akan melarangnya, semua keputusan ada di tangan mu hanya saja ada satu syarat yang harus kau penuhi." ucap Barra sambil mendudukkan bokongnya dan menatap ke arah Edrea dengan tatapan yang serius.
"Apa syaratnya?" tanya Edrea kemudian.
__ADS_1
"Jangan lakukan hal bodoh seperti kemarin lagi." ucap Barra dengan nada yang singkat, membuat Edrea langsung bangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat kepada Barra.
"Siap laksanakan" ucap Edrea dengan senyuman yang mengembang.
***
Kediaman Sila
Lewat berkas yang ia baca tadi, Edrea menemukan tempat tinggal Sila. Edrea yang berniat untuk mampir sekaligus bertakziah, lantas datang ke rumah Sila hendak mengucapkan belasungkawa kepada keluarganya. Namun, baru beberapa kali melangkah dan hendak masuk ke dalam pekarangan Sila, langkah kaki Edrea lantas terhenti seketika di saat pandangannya menangkap seseorang yang tengah bersembunyi di balik pepohonan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
"Aku seperti tidak asing dengannya? tapi siapa ya?" ucap Edrea dalam hati bertanya tanya di mana dia pernah bertemu dengan seseorang yang kini tengah bersembunyi di balik pepohonan tersebut menatap lurus ke arah kediaman rumah Sila.
Edrea memutar otaknya, mencoba untuk mencari jawaban dari pertanyaannya barusan. Hingga kemudian, Edrea yang baru saja teringat akan pria tersebut langsung dengan seketika menoleh kembali ke arah pepohonan dan langsung berlarian ke sana hendak menangkap pria tersebut.
Sedangkan pria itu yang melihat Edrea berlarian menuju ke arahnya, membuat laki laki itu lantas langsung kabur dari sana.
Pada akhirnya kejar kejaran antara pria itu dan juga Edrea tidak lagi bisa terhindarkan. Edrea yang tidak ingin mengalah dan juga pria itu yang tidak ingin tertangkap, membuat keduanya berjuang mati matian mempercepat langkah kaki mereka mading masing.
"Ini tidak bisa lagi... aku sudah benar benar lelah, jika aku terus mengejar dia seperti ini maka aku akan kehilangan jejaknya." ucap Edrea kemudian sambil kemudian langsung mengerem mendadak dan menghentikan langkah kakinya.
Edrea yang sudah tidak sanggup lagi berlari, lantas lebih memilih memusatkan dirinya dan berteleportasi untuk mengejar pria tersebut.
**
"Untung saja aku bisa kabur dari wanita tadi." ucap pria itu ketika menoleh ke arah belakang dan sama sekali tidak melihat Edrea di belakangnya.
__ADS_1
Edrea yang baru saja berpindah tempat, lantas tersenyum dengan tipis ketika mendengar ucapan dari pria yang kini berada tepat di hadapannya.
"Siapa bilang kau bisa kabur dariku?" ucap Edrea sambil tersenyum menyeringai menatap ke arah pria di hadapannya.
Mendengar suara Edrea, pria itu langsung terkejut bukan main. Pria tersebut jelas jelas melihat Edrea tertinggal jauh di hadapannya, namun entah dari mana datangnya Edrea kini malah sudah berada tepat di hadapannya.
"Ba... bagaimana bisa kamu ada di sini? aku... aku tadi jelas jelas melihat mu tertinggal jauh di belakang ku." ucap pria itu dengan nada yang tergagap karena terkejut akan kehadiran Edrea yang tiba tiba.
"Lupakan soal itu, lagi pula bagaimana aku bisa berada di sini tidak lah penting. Yang jelas kedatangan mu di sini tidak lah begitu berarti, orang jahat dan gila seperti mu harusnya mendekam di penjara bukan berkeliaran seperti ini!" ucap Edrea dengan nada yang kesal, entah mengapa melihat wajah pria tersebut membuat Edrea merasa geram jika teringat akan bagaimana wajah pucat nan sendu milik Sila sebelum kematiannya.
Mendengar ucapan Edrea barusan mimik wajah pria itu langsung berubah seketika, pria itu tidak menyangka bahwa Edrea mengetahui segalanya tentang apa yang telah terjadi antara dirinya dan juga Sila waktu itu.
"Kau jangan menuduhku seenaknya ya?" ucap pria itu mencoba untuk berkelit karena ia masih yakin bahwa waktu itu tidak ada saksi kunci yang melihat pertikaian keduanya.
"Oh ya? untuk ukuran orang seperti dirimu aku tidak perlu membutuhkan kunci untuk menjeratmu, asal kau tahu, seekor hewan pun ia tidak akan mampu membunuh anaknya sendiri walau dalam kondisi terpepet sekalipun, tapi kau? tingkah mu bahkan melebihi seekor hewan!" ucap Edrea dengan nada yang menyindir.
"Kau jangan berbicara seenaknya, melompat dari atap gedung kampus adalah pilihannya sendiri, aku hanya memintanya untuk melakukan aborsi secara baik baik tapi dia malah memutuskan untuk bunuh diri." ucap pria itu keceplosan seakan merasa tidak terima akan tuduhan yang di berikan oleh Edrea barusan.
Sedangkan Edrea yang mendengar jawaban spontan dari pria tersebut, lantas tersenyum dengan senang karena tanpa melakukan kekerasan pun pria di hadapannya ini mengakui kesalahannya.
"Kena kau!" ucap Edrea dalam hati tepat ketika pria tersebut tanpa sengaja mengungkapkan kebenarannya.
"Saudara Firmansyah anda di tangkap atas tuduhan kasus percobaan pembunuhan dan tindakan aborsi ilegal." ucap sebuah suara dengan tiba tiba yang lantas membuat pria itu terkejut bukan main ketika mendengarnya.
Bersambung
__ADS_1