
"Halo" ucap Mira dengan santainya.
Pria yang mengemudikan mobil pribadi tersebut, tentu saja terkejut bukan main ketika melihat kehadiran Mira yang tiba tiba di sana, sedangkan di area kursi penumpang bagian belakangnya Edrea nampak tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah pengemudi tersebut, yang lantas membuat wajah pria itu tampak kebingungan akan pemandangan yang terjadi saat ini.
"Siapa kalian?"
Pertanyaan itu lolos dari mulut pria itu ketika melihat dua orang wanita asing muncul di dalam mobilnya dengan memasang wajah yang aneh kepadanya. Sedangkan Mira yang mendengar pertanyaan dari pria itu hanya mengulum senyum kemudian mendekatkan wajahnya ke arah pengemudi itu seakan seperti hendak mengatakan sesuatu kepadanya.
"Kita berdua adalah dewa kematian mu!" ucap Mira dengan nada yang santai sambil tersenyum ke arah pria itu kemudian memundurkan tubuhnya dan mengambil posisi duduk terenak di kursi penumpang.
"Jangan bercanda kau, cepat keluar!" ucap pria itu dengan nada setengah berteriak seakan kesal akan ucapan dari Mira barusan.
Mira yang mendengar teriakan dari pria itu bukannya takut malah tersenyum kemudian menunjuk ke arah kaca mobil bagian depan yang masih terlihat jelas noda darah di sana, padahal sebelumnya pria tersebut sudah berhenti di tepi jalan dan membersihkannya, namun ketika dua wanita asing ini datang dan masuk ke dalam mobilnya, anehnya noda darah itu mendadak kembali muncul dan terlihat jelas pada kaca mobil bagian depan seakan kecelakaan itu baru saja terjadi.
"Gigi harus di balas gigi dan darah harus di balas darah, kami datang atas keinginan gadis malang yang kau tabrak hingga meregang nyawa, dan dia meminta kami untuk membuat mu merasakan hal yang sama seperti apa yang tengah ia rasakan ketika ajal datang mendekatinya." ucap Mira dengan nada yang datar.
__ADS_1
Mendengar ucapan Mira barusan membuat pria itu langsung menelan salivanya dengan kasar, rasa panik serta ketakutan perlahan lahan mulai datang dan menghampirinya, membuat si pria itu langsung berusaha untuk membuka pintu mobilnya dan mencoba untuk melarikan diri. Mira yang melihat hal itu, tentu saja tidak tinggal diam dan langsung menjentikkan jarinya membuat pintu mobil yang semula sudah di buka oleh pria tersebut mendadak kembali tertutup dengan sendirinya, membuat pria itu lagi lagi merasa di buat terkejut akan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
"Bukankah kau suka bermain kebut kebutan? biar aku tunjukkan padamu bagaimana cara mengemudi yang baik dan benar?" ucap Mira kemudian.
Sedangkan Edrea yang mendengar ucapan Mira barusan tentu saja langsung merasakan firasat yang buruk, Edrea yang tidak ingin terjadi apa apa lantas langsung memasang sabuk pengamannya dan berpegangan dengan erat berjaga jaga jika sewaktu waktu Mira ingin melakukan hal yang gila. Mira melirik sekilas ke arah Edrea kemudian tersenyum dengan lebar, membuat Edrea yang melihat senyuman Mira barusan lantas langsung menelan salivanya dengan kasar.
"Bersiaplah Edrea kita akan lepas landas!" ucap Mira kemudian yang lantas membuat Edrea langsung berpegangan dengan erat, sedangkan si pria itu hanya menatap dengan bingung ke arah Mira ketika Mira mengatakan hal tersebut.
Setelah mengucapkan kata kata barusan, Mira kemudian kembali menjentikkan jarinya dan seketika itu mobil pribadi tersebut langsung melaju dengan kencang membelah jalanan ibu kota meski pria itu sama sekali tidak menginjak pedal gas nya. Baik Edrea maupun pria itu sama sama terkejut akan kecepatan mobil yang di atas rata rata, benar benar melaju dengan kencang, membuat pria itu yang ketakutan mulai menginjak pedal remnya berusaha untuk menghentikan laju mobilnya, namun sayangnya tentu saja tidak semudah itu karena segala sesuatunya kini telah di kendalikan oleh Mira, sehingga pria itu tidak lagi bisa berbuat apa apa.
"Apa yang kau lakukan hentikan mobilnya!" teriak pria itu di saat melihat tak jauh dari posisinya terdapat truk yang melaju dengan kecepatan kencang juga sedang menyalakan lampunya berulangkali seakan memberikan isyarat kepada mobil di depannya untuk minggir.
Mira yang mendengar hal itu malah tersenyum dengan senang dan menikmati pertunjukkan itu, Mira menatap ke arah pria itu dengan senyum yang mengejek yang langsung membuat si pria ketakutan.
"Ini adalah akhirnya, kau akan merasakan bagaimana menjadi gadis itu..." ucap Mira kemudian yang langsung membuat si pria terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
Tepat setelah Mira mengatakan hal tersebut, baik Mira maupun Edrea langsung berteleportasi keluar dari mobil si pria itu. Dan pada akhirnya tabrakan tidak lagi bisa di hindari antara mobil yang di tumpanginya dengan pembatas jalan di area tol tersebut, kerena pria itu membanting stir ke kiri dan malah menabrakkan dirinya ke arah pembatas jalan. Perlahan lahan mobil yang di tumpanginya jatuh dan berguling guling turun ke jurang dengan kondisi mobil yang sudah ringsek dan berakhir dengan tersangkut di dahan pohon besar.
Kondisi si pria benar benar sudah bersimbah darah dengan beberapa pecahan kaca mobilnya menancap di area leher dan juga wajahnya. Dalam pandangannya yang mulai mengabur, si pria seperti melihat sosok dua wanita aneh yaitu Edrea dan Mira tengah menatapnya dengan tatapan yang santai, membuat si pria langsung dengan pelan mencoba untuk mengangkat tangannya seakan berusaha meminta tolong dan memberi tanda bahwa ia masih hidup.
Si pria yang baru saja melambaikan tangannya perlahan lantas terdiam membeku di tempatnya, bayangan tentang kejadian yang baru saja terjadi tentang gadis yang ia tabrak barusan kembali terlintas di benaknya. Si pria kemudian lantas menangis di tengah rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, apa yang ia lakukan pada gadis itu sungguhlah kejam dan tidak berperikemanusiaan, jika sudah menabraknya harusnya si pria membantunya dan berusaha menebus kesalahannya, tapi yang di lakukannya tadi malah meninggalkan gadis itu ketika kondisinya sedang sekarat.
Kini barulah si pria mengerti bagaimana rasanya, rasa frustasi dan juga pasrah ketika seseorang yang kau lihat mengacuhkan mu dan memilih untuk melenggang pergi dan tidak mau membantu mu.
Mira yang sudah melihat penyesalan melalui manik mata pria itu, lantas tersenyum kemudian mengajak Edrea untuk pergi meninggalkan tempat itu. Edrea yang di tarik tangannya tentu saja bingung, masalahnya ia tidak setega itu meninggalkan seseorang yang masih hidup ketika mengalami kecelakaan parah seperti itu.
"Ini tidak benar, apa bedanya kita dengan dia? jika kita sama sama meninggalkannya dalam keadaan yang seperti itu?" ucap Edrea sambil menghentikan langkah kakinya seakan enggan untuk di ajak pergi Mira.
"Kau salah paham, ada sesuatu yang tidak kau ketahui Edrea!" ucap Mira kemudian dengan nada yang santai.
"Apa?"
__ADS_1
Bersambung