Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Akan ku bunuh kalian semua!


__ADS_3

Setelah berhasil mempertemukan Ardi dan juga ibunya serta membawa Ardi ke Stasiun, Edrea yang bahagia atas pencapaiannya lantas langsung melangkahkan kakinya dengan tidak sabar menuju ke arah ruangan Barra berniat untuk mengabari Barra akan keberhasilannya.


Edrea yang sudah sampai tepat di depan ruangan Barra, lantas langsung melangkahkan kakinya masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, hingga membuat Max yang sedang merapikan berkas di ruangan Bara lantas terkejut ketika tiba tiba pintu terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu sebelumnya.


"Di mana Bara?" tanya Edrea ketika ia hanya melihat Max di ruangan tersebut.


"Tidak bisakah kamu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam?" ucap Max dengan nada yang kesal karena jujur saja Max terkejut akan kehadiran Edrea yang tiba tiba.


"Ya maaf, soalnya aku kira Barra ada di dalam jadi aku langsung masuk begitu saja." ucap Edrea sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


"Justru karena adanya tuan Barra harusnya kamu bisa bersikap lebih sopan bukan seperti ini!" ucap Max dengan nada yang ketus di setiap kata katanya.


"Baiklah baiklah aku minta maaf, hanya saja bisakah sekarang kau menjawab pertanyaan ku di mana Barra saat ini?" ucap Edrea dengan kesal karena Max tidak langsung menjawab pertanyaannya sedari tadi.


"Tuan sedang ada urusan." jawab Max dengan singkat.


"Apakah lama?" tanya Edrea lagi.


"Mungkin"


"Bisakah kau beritahu aku urusan apa?" tanya Edrea lagi.


"Tidak"


"Ku mohon...." ucap Edrea dengan nada yang memohon berharap Max mau memberitahunya.


"Sudah pergi sana jangan mengganggu ku, aku sedang sibuk..." ucap Max dengan nada yang kesal karena Edrea terus saja mengganggunya.


"Ayolah Max kasih bocoran sedikit" ucap Edrea lagi tidak pantang menyerah.


"Jangan ikuti aku atau aku akan marah!" ucap Max kemudian berlalu pergi keluar dari ruangan Barra, sedangkan Edrea yang mendengar ucapan Max barusan hanya bisa cemberut karena tidak bisa mendapatkan informasi akan keberadaan Barra saat ini.


"Padahal aku ingin memberitahunya bahwa aku telah berhasil menyelesaikan misi dengan baik, mengapa dia malah pergi sih?" ucap Edrea dengan kesal tepat setelah kepergian Max dari sana.

__ADS_1


***


Ruangan Mira


Mira terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan kerjanya dengan raut wajah yang kesal. Mira benar benar tidak menyangka bahwa Edrea berhasil menstabilkan sosok arwah tersebut, padahal tadinya Mira sudah sangat yakin bahwa Edrea akan gagal kali ini, namun nyatanya malah sebaliknya membuat Mira semakin di buat kesal akan gadis itu.


"Ah... Sial sial sial! benar benar menyebalkan..." teriaknya dengan nada yang kesal, membuat Wili dan juga Riko yang masih senantiasa berada di sana lantas terkejut ketika mendengar teriakan dari Mira barusan.


"Apa ada sesuatu Madam?" tanya Riko yang lantas membuat Wili menginjak kaki Riko agar tidak memancing perkara di sini. "Aw sakit!" ucap Riko sambil melotot ke arah Wili karena ia menginjak kakinya dengan keras.


"Diam" ucap Wili dengan nada isyarat.


"Kalian berdua juga sama saja, sama sama menyebalkan... keluar kalian dari sini!" teriak Mira kemudian yang lantas membuat Wili dan Riko tunggang langgang keluar dari sana sebelum Mira kembali mengamuk nantinya.


"Arggggg mengapa aku selalu kesal jika melihat Edrea!" teriak Mira lagi setelah kepergian Wili dan juga Riko dari sana.


***


Kembali kepada Ibu dan juga Barra


"Tentu, terkadang sebuah kejadian besar yang terjadi di masa lalu akan kembali terulang di masa depan. Dan aku rasa kamu harus siap dalam mengatasi hal itu walau kamu tidak menginginkannya." ucap Ibu lagi dengan nada bicara yang lembut.


"Maksud Ibu?" tanya Barra dengan raut wajah yang penasaran ketika mendengar ucapan Ibu.


Ibu yang mendapat pertanyaan tersebut lantas tersenyum kemudian memegang pundak Barra cukup lama.


"Tidurlah di sini semalam maka kamu akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan mu." ucap Ibu kemudian bangkit dari sana dan meninggalkan Barra sendirian dengan berbagai pertanyaan yang terlintas di benaknya.


"Apa aku akan benar benar menemukan jawabannya?" ucap Barra bertanya tanya dalam hati sambil terus memperhatikan punggung Ibu yang semakin jauh dari pandangannya.


**


Malam harinya

__ADS_1


Di sebuah kamar yang masih terletak di mansion Ibu, terlihat Barra tengah tertidur dengan lelapnya di kamar.


Cklek...


Suara pintu kamar yang terbuka perlahan lahan menampilkan sosok Ibu di sana yang melangkahkan kakinya mendekat ke arah Barra, Ibu tersenyum ketika melihat Barra sudah tidur dengan lelapnya.


"Setelah ini kamu akan mendapatkan semua ingatan mu kembali, aku harap kamu bisa mengubah sesuatu hal buruk yang terjadi sebelum pada akhirnya terulang kembali selayaknya kejadian di masa lalu." ucap Ibu sambil mengangkat tangannya dan menghentikannya tepat di atas kening Barra.


Sebuah pancaran sinar berwarna putih terlihat terpancar dari tangan Ibu dan mengarah tepat pada kening Barra selama beberapa menit, hingga kemudian setelah di rasa cukup Ibu memutus cahaya itu dan menarik tangannya dari sana.


**


Tepat setelah Ibu menyelesaikan tugasnya di antara sadar dan tidak sadar, di alam mimpinya Barra kembali di perlihatkan keadaan masa lalu. Penglihatan tersebut sama persis dengan apa yang Barra lihat di mimpinya selama beberapa waktu ini, hanya saja kali ini semua penglihatan tersebut tertata dengan rapi dan runtun di mulai dengan awal pertemuannya dengan gadis berwajah mirip Edrea hingga kejadian naas tepat di hari itu.


Barra mendekap dengan erat tubuh gadis yang berwajah mirip Edrea dan menatapnya dengan manik mata yang sendu. Tangan gadis itu terangkat perlahan dan mengarah pada sudut mata Barra yang terlihat mulai meneteskan air mata.


"Maaf"


Hanya kata kata itu yang keluar dari mulut Barra dan membuat gadis itu tersenyum di tengah tengah kesakitannya menahan belati yang menancap di dadanya.


"Ja... jangan menangis... aku.. aku tidak melakukan semua ini... untuk melihat mu menangis..." ucap gadis itu dengan senyum yang di paksakan.


Uhuk uhuk


Darah segar terlihat keluar dari mulut gadis itu tepat setelah dirinya terbatuk.


"Jangan banyak bicara aku akan berusaha menyembuhkan mu..." ucap Barra sambil mengusap darah yang mengalir dari mulut gadis itu.


"Tidak... waktu ku.. tidaklah banyak.. terima kasih sudah menemaniku selama ini.." ucap gadis itu lagi hingga pada akhirnya tangan yang semula menyentuh pipi Barra perlahan lahan mulai turun, gadis itu kini telah tiada.


"Tidak!" teriak Barra dengan suara yang keras sambil memeluk tubuh gadis itu dengan erat.


Barra yang begitu hancur setelah kehilangan gadis itu lantas langsung pergi ke Kerajaan dan meluluh lantahkan Kerajaan. Barra mengamuk dan membunuh siapa saja yang muncul di hadapannya kali itu. Barra tidak pandang bulu dan menghancurkan siapapun termasuk orang orang yang tak bersalah sekalipun.

__ADS_1


"Akan ku bunuh kalian semua!" teriak Barra sambil berlarian membelah kerumunan prajurit yang bersiap untuk menghadangnya agar tidak masuk ke dalam istana utama.


Bersambung


__ADS_2