Kereta Pengantar Arwah

Kereta Pengantar Arwah
Berkelakuan aneh?


__ADS_3

Kamar Edrea


Setelah menyelesaikan tugasnya, Edrea nampak melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya dengan langkah kaki yang gontai kemudian mengambil posisi rebahan pada ranjang empuk miliknya. Edrea menatap langit langit kamarnya dengan tatapan jauh menelisik memikirkan kembali beberapa hal yang terjadi padanya hari ini. Satu persatu ingatan mulai kembali bermunculan di kepalanya seakan seperti sebuah DVD yang tengah memutar kasetnya.


Edrea menghela nafasnya panjang ketika kembali teringat akan kejadian aneh yang ia alami tadi. Dengan perlahan lahan Edrea mulai mengelus perutnya yang terasa begah karena makan yang tidak beraturan tadi. Edrea tidak tahu apa alasan yang membuat ia bisa tiba tiba makan seperti orang kelaparan tadi, padahal steak bukanlah makanan yang pertama kalinya ia makan, meski Edrea tidak pernah memakannya sekalipun tapi untuk reaksi yang ia tunjukkan ketika di Resto tentulah bukan seperti Edrea sama sekali.


"Sepertinya aku terlalu berlebihan tadi, apa karena masakannya enak ya? aku bahkan sampai melupakan rasanya karena memakan makanan ku terlalu cepat seperti itu." ucap Edrea pada diri sendiri.


cit... cit... cit... cit


Sebuah suara dari salah satu hewan pengerat yang menggelikan, mulai terdengar di pendengaran Edrea yang membuatnya langsung dengan spontan bangkit dari tidurnya dan mulai menatap ke sekeliling mencari sumber suara itu berasal.


Pandangan mata Edrea terhenti pada sudut kamarnya, di mana ia melihat hewan pengerat itu terlihat sedang bersembunyi di pojokan. Sebuah hal gila tiba tiba saja terlintas di benaknya, Edrea yang melihat tikus tersebut bersembunyi di pojokan lantas mendadak menatapnya dengan ingin, manik mata miliknya perlahan lahan berubah warna menjadi manik mata seperti ular, hanya saja Edrea sama sekali tidak menyadarinya malah terus menatap ke arah hewan pengerat itu dengan tatapan yang tidak biasa.


Edrea tersenyum menyeringai sambil menjulurkan lidahnya secara perlahan baru setelah itu ia langsung melesat dan menangkap tikus tersebut dengan gerakan yang cepat, membuat tikus tersebut lantas langsung berbunyi dengan keras karena terkejut akan Edrea yang menangkapnya dengan tiba tiba.


Suara cuitan yang terdengar menggema sama sekali tidak menyurutkan niat Edrea yang memang sudah menginginkannya sedari tadi, Edrea nampak kembali tersenyum sambil menelan ludahnya dengan kasar, Edrea yang sudah tidak tahan lagi menahan gejolak di hatinya, yang seakan menyuruhnya untuk memakan tikus yang kini berada di tangannya itu.


Dengan gerakan yang cepat Edrea langsung melahap tikus tersebut bulat bulat, darah segar yang keluar di setiap gigitannya membuat baju bagian depan Edrea terlihat merah dan penuh dengan darah yang berasal dari darah tikus tersebut.

__ADS_1


***


Stasiun Pemberhentian


Setelah mengantarkan Edrea pulang kembali ke rumah, baik Mira maupun Barra lantas memutuskan untuk kembali ke Stasiun pemberhentian dan melakukan tugas mereka masing masing. Keduanya nampak berjalan dengan beriringan namun dalam suasana canggung dan juga hening. Tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi antara keduanya, baik Mira maupun Barra sama sama memutuskan untuk diam seribu bahasa.


Barra melirik sekilas ke arah Mira kemudian kembali menatap ke arah depan, membuat Mira yang sadar akan tatapan Barra barusan lantas langsung kembali menatap Barra dengan tatapan yang aneh.


"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Mira kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Barra yang di tanya tentu saja langsung salah tingkah, sebenarnya ada satu hal yang ingin sekali Barra tanyakan kepada Mira saat ini, hanya saja entah mengapa Barra sedikit ragu untuk mengatakannya karena takut Mira akan tersinggung ketika mendengar pertanyaan darinya. Barra menghela nafasnya cukup panjang kemudian menatap ke arah Mira sejenak.


Sebenarnya Mira tidak terlalu yakin, apakah ia melakukannya benar benar karena Edrea atau memang sedang ingin bermain main saja ketika mengetahui bahwa arwah yang akan ia jemput adalah korban tabrak lari. Namun ketika Mira mendengarnya kembali melalui mulut Barra barusan, mengapa rasanya berbeda? Mira menghela nafasnya sebentar membuat Barra lantas menatapnya dengan tatapan yang bingung akan helaan nafas yang terdengar dari mulut Mira barusan.


"Aku tidak tahu, hanya saja ketika aku melihat Edrea tengah bersedih sebuah pemikiran tentang menggunakan kesempatan tersebut mendadak terlintas di benak ku begitu saja, aku tahu kamu mungkin akan heran karena mengingat aku jarang sekali menggunakannya, namun yang jelas jika kamu bertanya alasannya apa? aku sama sekali tidak mengetahuinya." ucap Mira sambil menatap lurus ke arah depan.


Mendengar jawaban dari Mira barusan lantas membuat Barra langsung tersenyum ke arahnya, ia tahu perasaan ini karena Barra juga pernah mengalaminya ketika baru mengetahui bahwa Edrea adalah bagian dari masa lalunya. Namun seiring dengan berjalannya waktu barulah Barra menyadari satu hal yang pasti, bahwa bukan seseorang yang tampak buruk di mata kita namun kita lah yang memandang orang itu dengan buruk, sehingga membuat mata hati kita tertutup walau orang itu melakukan sesuatu yang benar sekalipun di hadapan kita.


"Aku yakin kamu masih belum terbiasa, namun secara perlahan kamu pasti akan menyadarinya." ucap Barra dengan senyum yang mengembang kemudian berlalu pergi meninggalkan Mira yang masih menatapnya dengan tatapan yang bingung karena ucapannya barusan.

__ADS_1


***


Sementara itu Sita yang baru saja menyelesaikan masakannya, langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar Edrea untuk sekalian mengajaknya makan bersama. Perlahan lahan Sita mulai mengetuk pintu kamar Edrea dengan raut wajah yang sumringah karena Sita yakin Edrea pasti akan menyukai masakannya kali ini.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu dari Sita lantas mulai terdengar menggema di kamar Edrea, namun Edrea yang tengah sibuk menikmati mangsanya lantas seperti tidak menghiraukannya dan tetap melanjutkan aktivitasnya menggigiti tikus itu secara perlahan. Sedangkan Sita yang sedari tadi mengetuk pintu Edrea namun tidak ada jawab, lantas mulai mengernyitkan keningnya dengan bingung karena tidak biasanya Edrea mengacuhkan ketukan pintu Omanya seperti ini.


"Tumben tidak ada suara? apa Rea sedang tidur ya?" ucap Sita pada diri sendiri bertanya tanya.


Tok tok tok


Sita mencoba kembali mengetuk pintu kamar Edrea berharap kali ini cucunya itu membukakan pintu untuknya. Beberapa menit menunggu namun tidak ada jawaban pada akhirnya Sita memutuskan untuk membuka pintu kamar Edrea dan mengecek apa yang sedang di lakukan Edrea di dalam kamar hingga tidak mendengar ketukan pintu olehnya sedari tadi.


Raut wajah sumringah Sita yang semula terpancar di wajahnya, mendadak berubah menjadi terkejut ketika ia tanpa sengaja melihat pemandangan yang begitu mengejutkan dirinya tepat ketika Sita membuka pintu kamar Edrea.


"Astaga Rea... apa yang kamu lakukan!" pekik Sita yang terkejut akan pemandangan yang tersaji dihadapanya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2