
Tolong aku...
Edrea yang mendengar bisikan suara minta tolong tersebut tentu saja terkejut bukan main, ditatapnya sekitaran mencoba mencari sumber suara barusan siapa tahu itu adalah suara salah satu dari temannya, namun walau Edrea mencarinya di manapun Edrea sama sekali tidak menemukan sumber suara itu di antara teman temannya. Edrea menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil sedikit tersenyum dengan simpul karena ternyata itu hanyalah halusinasinya saja. Hanya saja ketika ia baru saja bernafas dengan lega dan menganggap semuanya hanya halusinasi semata, suara itu kembali terdengar dan membuat Edrea langsung tertegun ketika mendengarnya.
Tolong aku...
Suara itu kembali terdengar di telinga Edrea, membuat Edrea kembali celingukan menatap ke arah sekeliling kembali mencari sumber suara. Hingga kemudian pandangannya terhenti pada sosok ular yang kini sedang berada di dalam kotak dan bersiap untuk di bedah, Edrea menatap tak percaya ke arah ular itu seakan tidak terlalu yakin bahwa suara minta tolong itu berasal dari seekor ular yang kini berada di ujung tanduk. Edrea menggelengkan kepalanya perlahan mencoba menepis pikiran gila di kepalanya.
"Ini hanya halusinasi... hanya halusinasi...." ucap Edrea meyakinkan dirinya sendiri.
Edrea yang berusaha untuk mengacuhkan suara tersebut, lantas kembali mendengarkan penjelasan dari dosen tersebut dan mencatat beberapa materi penting yang mungkin bisa ia gunakan sebagai bahan untuk tugasnya nanti. Dosen tersebut terus memberikan arahan dan menjelaskan beberapa bagian luar tubuh ular dan juga fungsinya. Hingga ketika dosen itu sampai pada intinya dan mengambil sebuah pisau bedah kecil, Edrea merasa sedikit khawatir akan keadaan ular tersebut.
Perlahan lahan pisau itu semakin mendekat ke arah tubuh ular tersebut, ketika bagian ujung pisau itu mengenai tepat di area perut ular tersebut, ada sebuah perasaan perih dan gelayar aneh yang Edrea rasakan di saat pisau itu semakin menusuk dan membelah perut ular tersebut.
Crash....
__ADS_1
Tepat ketika pisau itu membelah kulit ular tersebut, Edrea merasakan sesuatu yang perih menerpa kulitnya. Edrea yang terkejut akan rasa sakit yang tiba tiba ia rasakan lantas langsung dengan spontan mundur dan menabrak meja lab, hingga membuat beberapa barang yang ada di sana mulai berjatuhan menimbulkan suara gaduh, membuat pelajaran langsung terhenti seketika dan fokus menatap ke arah Edrea.
Edrea yang melihat beberapa barang berjatuhan tentu saja terkejut, namun tidak bisa berbuat apa apa selain hanya terbengong menatapi beberapa pasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang aneh sekaligus penasaran akan apa yang tengah terjadi pada Edrea saat ini. Kiera yang melihat Edrea seperti tidak baik baik saja, lantas langsung mendekat ke arah Edrea untuk mengecek apa yang tengah terjadi pada sahabatnya itu.
"Apa yang terjadi Rea?" tanya Kiera sambil menatap ke arah Edrea dengan pandangan yang menelisik.
Edrea yang mendengar pertanyaan dari Kiera barusan, hanya menggeleng dengan pelan sambil menggenggam lengannya dengan erat yang hingga kini masih menyisakan rasa perih di sana seperti di kuliti hidup hidup. Dosen yang mengajar pada waktu itu lantas langsung melangkahkan kakinya dan mendekat ke arah Edrea dan juga Kiera.
"Sebaiknya kamu bawa dia ke uks, sepertinya teman mu ini sedang tidak terlalu sehat saat ini." ucap Dosen tersebut ketika melihat wajah pucat Edrea.
"Apa mungkin ini karena Fano?" ucap Edrea dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti arah langkah kaki Kiera yang menuntunnya menuju ke ruang kesehatan.
***
Stasiun pemberhentian
__ADS_1
Barra yang sedari tadi sibuk di dalam ruangannya mengerjakan beberapa berkas dan juga laporan tentang penjemputan arwah di salah satu daerah terpencil, lantas menjadi gelisah ketika perasaan tidak enak mendadak menyeruak memenuhi hatinya. Ada perasaan aneh yang tiba tiba ia rasakan ketika asyik mengerjakan aktifitasnya, Barra terdiam sejenak menghentikan aktifitasnya mencoba untuk menenangkan dirinya berharap perasaan itu menghilang atau setidaknya berkurang. Namun sayangnya walau Barra sudah tidak melakukan aktifitas apapun perasaan tersebut tetaplah ada dan terus memenuhi hatinya, membuat Barra kemudian lantas menghembuskan nafasnya dengan kasar ketika cara yang ia ambil tidaklah berhasil juga.
"Ada apa lagi ini?" ucap Barra dengan nada yang bertanya tanya pada diri sendiri.
Barra yang tak kunjung merasakan ketenangan, lantas kemudian menyenderkan tubuhnya sebentar pada kursi kebesarannya dan mulai memejamkan kelopak matanya berharap dengan begitu mungkin ia akan sedikit lebih tenang. Hingga kemudian di antara keadaan sadar dan tidak sadar Barra seperti mendapat penglihatan sekilas tentang Edrea. Dalam penglihatannya Barra seperti di bawa ke suatu ingatan acak tang tak runtut membuat Barra lantas mulai mengernyit ketika satu persatu penglihatan itu mulai tergambar jelas pada penglihatannya.
Barra melihat setiap kejadiannya dengan detail namun dalam waktu yang acak, di mulai dari Edrea yang sedang tiduran di kamarnya dan melihat ada tikus sedang bersembunyi di sudut kamar, kemudian penglihatan tentang Edrea yang memakan tikus secara hidup hidup layaknya tikus tersebut seakan seperti mangsa yang sudah ia incar sejak lama, hingga ketika Edrea berada di lab kampusnya dan menatap bingung ke arah ular yang akan di jadikan bahan materi kelasnya.
Barra yang terkejut akan penglihatan tersebut lantas langsung dengan spontan membuka kelopak matanya dan mengambil nafas dalam dalam, apa yang ia lihat barusan merupakan sebuah mimpi buruk yang tidak akan pernah Barra inginkan terjadi pada Edrea. Barra yang semakin bertambah khawatir ketika mendapat penglihatan tersebut, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya bergegas ke luar dari ruangannya hendak menghampiri Edrea.
***
Sementara itu tak jauh dari kelas keduanya, Fano yang melihat Edrea baru saja keluar dari kelas dengan wajah yang pucat lantas langsung tersenyum dengan menyeringai menatap ke arah langkah kaki Edrea dan juga Kiera yang menuju ke arah ruang kesehatan. Melihat Edrea yang seperti itu membuat Fano tersenyum dengan puas ketika berhasil membuat Edrea merasakan sensasi menjadi dirinya, memang inilah yang Fano inginkan semakin mendorong Edrea untuk bertindak seperti dirinya. Dengan Edrea yang semakin menyerupainya, Fano ingin melihat apakah seorang Barra tetap akan melakukan hal yang sama seperti di masa lalu atau melakukan sesuatu yang berbeda, yang tentu saja akan sangat menarik bila waktu itu tiba.
"Aku rasa waktunya semakin dekat... Barra .. Barra... bersiaplah akan pengulangan yang akan segera terjadi dalam waktu yang dekat!" ucap Fano dengan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
Bersambung